Bagaimana pendapat anda dengan posting berikut ini. Sementara saya
netral dan tidak berkomentar dulu. Nanti saya dituding para penggemar
Mega sebagai telah berpihak lagi ......
Kalau anda merasa perlu minta tanggapan langsung dari si penulis posting
maka ada alamatnya juga, silahkan japri dan undang beliau untuk
bergabung di milis kuli-tinta


Di mata Cak Nur, PDI-P ternyata termasuk ORLA ... bahkan GOLKAR lebih
reformis dibandingkan PDI-P.

Feeling saya mengatakan Golkar masih bisa menang dalam pemilu nanti
karena proses sosialisasi parpol terlalu singkat, orang desa belum
sepenuhnya mengerti politik, dan yang jelas untuk orang-orang desa yang
lugu yang dikenal hanya gambar beringin!! Nah lo ... Apalagi kalau
perangkat desa masih bilang: 'sami kalih pemilu riyin mbaaahhh ...':-)
... coblos blossss .... gambar beringin:-)))

Tapi PAN lebih reformis daripada GOLKAR:-)

eb$
----------------------------------------
Sabtu, 8 Mei 1999

Nurcholish Madjid Nilai Capres Golkar: Akbar Rendah Hati, Habibie Kurang

Reporter Hestiana Dharmastuti
detikcom, Jakarta-Dua kandidat presiden dari Partai Golkar yang bersaing
ketat, BJ Habibie dan Akbar Tandjung, mendapat penilaian dari
cendekiawan yang dikenal independen, Cak Nur.  Menurut Cak Nur, Akbar
Tandjung adalah pribadi yang rendah hati, sedang BJ Habibie kurang
rendah hati.
Penilaian Cak Nur itu disampaikan kepada wartawan di sela-sela Rapat
Konsultasi Nasional II KAHMI di Hotel Wisata, Jakarta Pusat, Sabtu
(08/05/1999).
Menurut mantan Ketua Umum PB HMI ini, secara fisik, Akbar dan Habibie
sama nilainya. Akan tetapi Akbar lebih rendah hati dan mempunyai akhlak
tinggi. �Saya kenal betul dia sejak mahasiswa. Selama ini penampilannya
adalah penampilan institusional, dan bukan penampilan pribadi. Dia
selalu berpenampilan sebagai Ketua Umum Golkar,� pendapat Cak Nur.
Sedang BJ Habibie, kata Cak Nur, kurang rendah diri. �Kata orang dia
rumongso (merasa) bisa, tapi tidak bisa rumongso (merasa),� ujar Cak
Nur. Ungkapan itu di kalangan masyarakat Jawa dikenal untuk
menggambarkan orang yang kurang peka pada sekitarnya dan sombong.
�Karena itu sebaiknya Habibie harus waspada yang gedeee,� tambah Cak
Nur.
Yang menjadi sandungan Habibie sekarang, kata Cak Nur, adalah bagaimana
membubarkan citra Habibie bahwa dia adalah anak emas Soeharto. Padahal,
menurut penerima HMI Award 1999 ini, seluruh etos reformasi itu berpusat
pada desuhartoisme. �Akan tetapi Akbar selama ini tidak dianggap sebagai
anak emas Soeharto,� cetus Cak Nur heran.
Ditanya tentang lebih reformis mana antara Golkar dan PDI Perjuangan,
Cak Nur menjawabnya dengan perbandingan Orba dan Orla. Menurut dia,
kalau perbandingannya Orba dengan Orla, Orba itu lebih reformis
dibanding Orla. Golkar itu mewakili Orba. PDI Perjuangan mewakili Orla.
�Jadi, Golkar dilihat dari indikasi itu, lebih reformis ketimbang PDI
Perjuangan. Tapi yang terpenting, bagaimana masing-masing mempunyai
komitmen pada demokrasi dengan mendukung demokrasi yang adil dengan
mendukung pemilu yang jujur,� pendapat capres Partai Masyumi Baru ini.
Cak Nur juga menambahkan, yang membuat kecut hati saat ini adalah gejala
kekerasan yang akan muncul dalam permukaan politik menjelang Pemilu
1999. Menurut Cak Nur, banyak faktor yang melatari kekerasan itu. Antara
lain adalah budaya ledakan selama 32 tahun yang ditahan-tahan.
Potensi kekerasan itu kemungkinan besar dilakukan oleh massa PDI
Perjuangan dan umat NU. �Sebab kedua massa kelompok inilah yang
keberadaanya paling teringkari selama Orba. Jadi wajar bila kekerasan
muncul dalam kedua kelompok ini,� analisis Cak Nur.
Untuk mencegah itu, kata Cak Nur, Megawati harus berbicara untuk
menetralisir. �Tunjukkanlah garisnya dan diharapkan dapat mempunyai efek
pelunakan terhadap gejala kekerasan,� kata dia.
Berkaitan dengan ramainya bursa capres periode mendatang, Cak Nur
menyatakan, siapa saja dapat menjadi presiden asal prosedurnya benar.
Cak Nur sendiri melihat Amien Rais mempunyai aset karena dikenal sebagai
reformis. �Amien populer dengan proses reformasi sejak awal karena
banyak mengkritik Soeharto. Ini dapat menjadi aset. Kita pun harus
memberi pendidikan bahwa untuk menjadi oposisi adalah terhormat,� kata
doktor lulusan Universitas Chicago ini menambahkan.
Cak Nur memandang posisi sebagai oposan jauh lebih terhormat ketimbang
jadi presiden. �Tidak usah jadi presiden, tetapi menjadi oposisi yang
efektif dalam memberikan sumbangan bagi bangsa. Itu lebih terhormat,�
tandas dia. �PAN sendiri menurut saya paling efektif untuk menjadi
oposisi,� tutup Cak Nur mengunci wawancara.





______________________________________________________________________
To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]

Indonesia Baru: berkeadilan tanpa kekerasan!

Kirim email ke