Jangan dong, cukup Golkar dan satelitnya (kalau masih dapet kursi) yang menjadi
oposisi, sehingga tidak terulang kesalahan lama.
Tokoh agama yang cendekiawan dan profesional harus dirangkul bersama dalam
mengendalikan dan mempercepat laju reformasi. Dan masih sangat perlu kelompok kritis
diluar system.
SELAMAT ATAS ALIANSI PDIP-PAN dan PKB.
Saya berharap sangat banyak kepada trio Alex Litay- Faisal Basri dan Muhaimin
Iskandar. Lupakan ego sektoral, berbuatlah yang terbaik bagi Negara.
Harapan saya kepada masyarakat pemilih : Mari kita fokuskan suara kita semua pada
(salah satu dari) ketiganya, supaya Golkar/PDR dsb bener-bener memble.
--
On Tue, 18 May 1999 00:57:37 Martin Manurung wrote:
>Berikut kutipan Resume Sarasehan dan Doa Bersama Antarumat Beragama yang
>diambil dari Website FORMA-KUB <http://come.to/forma-kub> Saya lihat sangat
>berguna memperkaya wacana demokrasi dan diskusi kita..
>
>Arskal Salim G.P., M.Ag.: Agama Menjadi Oposisi
>
>Agama memiliki dua peranan bila diperhadapkan dengan politik, yaitu: (1)
>Sebagai kekuatan legitimasi untuk memperkokoh kekuasaan, dan (2) Sebagai
>oposisi yang akan mengkoreksi dan membawa penguasa ke jalan yang benar.
>
>Pada awalnya, fungsi agama lahir sebagai oposisi terhadap semua kezhaliman.
>Hal itu dapat dilihat bahwa nabi-nabi yang ditutus oleh Tuhan untuk membela
>kebenaran dan melawan raja-raja yang zhalim. Sayangnya, kemudian sejarah
>mencatat bahwa fungsi legitimasi lebih menonjol ketika lembaga-lembaga agama
>telah dipegang (dikooptasi) oleh kekuasaan. Hal itu membuat aspirasi
>langsung dari masyarakat terhambat dan suara atau kepentingan pemerintahlah
>yang menjadi suara agama. Agama sangat mudah menjadi legitimator,
>disebabkan adanya aspek kepatuhan kepada agama. Hal itulah yang dipraktikkan
>Orde Baru dimana lembaga-lembaga agama menjadi pendukung kebijakan dan
>kepentingan kekuasaan.
>
>Kenyataan menunjukkan, bahwa agama dan kekuasaan terlihat paralel, karena
>ada aspek yang mempersatukan antara agama dan kekuasaan, yaitu ketaatan.
>Maka, agama sangat mudah dijadikan legitimator yang menyebabkan dukungan
>rakyat terhadap kekuasaan menjadi total. Karena agama telah mendukung
>kekuasaan, maka kekuasaan dilihat sebagai sesuatu yang sakral sehingga
>protes terhadap ketidakadilan kekuasaan akan menjadi naif.
>
>Kini banyak partai agama. Ini menunjukkan suatu realitas bahwa sangat sulit
>untuk memisahkan agama dari politik, karena agama tetap menjadi kebutuhan
>bagi kekuasaan dalam konteks totalitas dukungan masyarakat. Sementara itu,
>di sisi lain, agama juga membutuhkan kekuasaan untuk menyebarluaskan
>simbol-simbol, dan doktrinnya.. Jadi ada semacam simbiosis mutualistic.
>Mungkin sulit dicegah datang-nya agama kepada kekuasaan, tetapi hendaknya
>diingat bahwa fungsi natural agama adalah untuk mengotrol kekuasaan. Karena
>itu, bila kekuasaan tidak lagi baik, agama harus kritis dan berani keluar
>dari kekuasaan. Hal itulah yang dalam ajaran Islam selalu disebutkan amar
>maruf nahi munkar, inilah fungsi oposisi agama untuk mengkoreksi kekuasaan
>yang menyimpang.
>
>Martin Manurung <http://www.cabi.net.id/users/martin>
>____________________________________________
>Dukunglah Kampanye AGAMA untuk PERDAMAIAN!
>Forum Mahasiswa untuk Kerukunan Umat Beragama (FORMA-KUB)
>Kunjungi http://come.to/forma-kub E-mail: [EMAIL PROTECTED]
>
>
>______________________________________________________________________
>To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
>To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
>
>Indonesia Baru: berkeadilan tanpa kekerasan!
>
>
>
>
Get your FREE Email at http://mailcity.lycos.com
Get your PERSONALIZED START PAGE at http://my.lycos.com
______________________________________________________________________
To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
Pilih MASA DEPAN BARU di Pemilu 1999!