Tempo hari saya pernah bilang, yang namanya Jaksa Agung Andi M. Ghalib itu
sebenarnya Jaksa Agung atau Pembela Soeharto yang Agung? Rupanya pertanyaan
yang sama sekarang dilontarkan oleh Radio Nederland (18 Mei 1999 --
wawancara dengan Sahetapy). 

Aneh bin heran, heran bin aneh, kok  pihak Kejaksaan Agung malah memberi
komentar bahwa berita yang dilansir TIME (berdasarkan hasil investigasi 4
bulan dan ratusan wawancara) itu sebagai "sangat meragukan!" Seolah-olah
mereka (pihak Jaksa Agung) hendak bilang, majalah TIME telah menurunkan
berita sensasi semata, atau berita omong kosong. Apakah sampai detik ini
mereka masih berpikir bahwa apa yang mereka katakan masih dipercaya
kita-kita yang rakyat ini? Masa sih majalah raksasa sekaliber TIME mau
mempertuhkan reputasinya dengan menurunkan berita bohong?

Lebih ajaib lagi, komentar ini diberikan dengan penjelasan belum membaca
majalah TIME edisi tersebut (seperti yang diungkapkan Kahumas Soehandoyo
SH).Tempo hari juga, begitu, Ghalib mengatakan suara di rekaman sadapan
percakapan dengan Habibie itu bukan suaranya, sembari mengatakan belum
mendengar rekaman itu. Apakah mereka  itu terdiri dari para paranormal,
sehingga tanpa lebih dulu membaca sudah tahu berita TIME itu "sangat
meragukan"?

Intinya sekarang: Mau percaya kepada majalah TIME yang sampai sekarang
belum berhasil "membuktikan" pernah berbohong, atau kepada Soeharto
(termasuk Jaksa Agung cs) yang jelas-jelas sudah berhasil "membuktikan"
telah berbohong berkali-kali kepada kita?

Berikut ini saya forward-kan ulasan Radio Nederland edisi 18 Mei 1999

* ANDI  MOHAMAD  GHALIB:  JAKSA  AGUNG ATAU PEMBELA AGUNG SOEHARTO?
Intro: Keluarga besar Soeharto memiliki kekayaan senilai 15 milyar
dollar. Itulah hasil investigasi majalah Amerika Time, yang selama empat
bulan melacak kekayaan keluarga besar Soeharto di 11 negara. Kalau
majalah asing berhasil menemukan data-data mengenai kekayaan Soeharto,
kenapa Jaksa Agung Andi Ghalib sejauh ini menyatakan tidak memiliki
bukti untuk bisa menyeret Soeharto ke meja hijau dan benarkah Seharto
hanya memiliki 15 milyar dollar saja? Berikut komentar Prof J. E.
Sahetappy, pakar kriminologi pada Universitas Airlangga Surabaya:

J.E. Sahetappy [JES]: Apakah 15 milyar dollar itu hanya yang di luar
negeri? Apakah itu tidak termasuk yang di dalam negeri? Dan saya masih
tetap yakin bahwa kalau Soeharto itu seorang maling, dan semua maling
itu mengaku, ya penjara pasti akan penuh. Jadi, meskipun dia menyangkal
dan dia memakai pengacara untuk menyangkal, dalam hati kecil saya, saya
yakin bahwa dia memang punya kekayaan. Kalau melihat praktek hidupnya,
pola pikirnya, dan bagaimana anak-anak itu berani di waktu yang lalu
menyalahgunakan segala kekuasaan bapaknya, saya sebetulnya sama sekali
tidak heran.

Radio Nederland [RN]: Kalau kita lihat dari segi pidana, sejauh ini
Jaksa Agung Andi Ghalib mengatakan tidak memiliki bukti cukup untuk bisa
menyeret Soeharto ke meja hijau. Bagaimana komentar bapak?

JES: Saya tidak tahu Andi Ghalib itu lulus dari fakultas mana. Sehingga
sebagai seorang jaksa agung, saya kira omongan Andi Ghalib banyak yang
bukan saja bersifat naif, tapi tidak lucu dan memalukan. Dia mengatakan,
Soeharto tidak punya uang, masa anda tidak percaya? Ini dia memang
menjadi jaksa agung apa dia memang menjadi pembela agung Soeharto?

Yang kedua saya sendiri berpendapat, sebaiknya kekayaan-kekayaan
Soeharto dan anak-anaknya itu tidak dimulai (penyelidikannya, Red.) dari
Soeharto, sebab Soeharto tentu sudah belajar dari kawan-kawannya yaitu
Marcos dan juga dari diktator-diktator lain di Afrika, sehingga
seharusnya dan dari dulu sudah saya katakan begitu berkali-kali, bahwa
yang harus mulai diperiksa itu para menteri, yang dulu menjadi kaki
tangan setia Soeharto. Setelah para menteri baru kemudian anak-anaknya,
baru gong terakhirnya Soeharto itu sendiri.

Saya yakin Soeharto tidak sebodoh itu, menyimpan uang begitu saja. Jadi
teknik investigasi tidak dimulai dari Soeharto tetapi dimulai dari
menteri-menteri, termasuk dari Habibie juga, ya. Karena Soeharto juga
baru saja mengatakan bahwa Habibie itu sama bajingannya. Jadi saya kira
ada permainan hide and seek (petak umpet, Red.) begitu.

Nah, saya yakin kalau setelah Juni ini, dan partai-partai seperti PDI
Megawati dan Amien Rais dan PKB ini menang, saya kira pasti mereka akan
menyingkirkan Andi Ghalib, menunjuk seorang jaksa agung baru yang bukan
tentara, dan saya kira dari situ harus dimulai lagi perjuangannya.

RN: Demikian Prof. J.E. Sahetappy pakar kriminologi dari Universitas
Airlangga, Surabaya.


Daniel H.T.



______________________________________________________________________
To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]

Pilih MASA DEPAN BARU di Pemilu 1999!



Kirim email ke