Terlalu banyak nonton film.

Inilah akibat terlalu banyak nonton film. Secara tak sadar kita dibawa
ke alam mimpi, tentang sebuah ke-ideal-an.

Polisi, misalnya, begitu kesengsem sama adegan Bruce Willis yang
berlakon sebagai detektif, yang bahkan berani menyatroni satuan
tentara, demi tanggungjawab dirinya sebagai penegak hukum. Kontan
polisi, yang baru lepas dari TNI, lalu mencoba mencari hubungan untuk
penyusunan silabus pendidikan kepolisian dengan LAPD. Mereka ingin
sekali agar polisi bisa seperti yang ada di film.

Selain polisi, juga para detektip dan konsultan hukum yang difilmkan
itu. Juga mereka para jaksa, baik yang berada di instansi hukum atau
departemen tertentu. Contohnya DEA yang sangat berani mengubrak-ubrik
sarang obat bius itu. Gagah, benar-benar gagah. Dan mereka bekerja
bukan karena ingin gagah-gagahan, tetapi demia amanat para pembayar
pajak terhadap profesi yang mereka sandang. Untuk itulah mereka
dibayar.

Cara mereka bekerja bukan main teliti. Tetap sopan, correct, namun
tanpa meninggalkan ketegasan. tak ada yang galak, atau
digalak-galakkan. Entah, mungkin bagian gagah-gagahan, dan
galak-galakan dipotong sensor.

Tetapi satu hal yang pasti, mereka secara rajin dan teliti mempelajari
data-data temuan mereka, sekecil apa pun, dengan seksama. Kadang,
setitik informasi, ternyata merupakan bagian penting mata rantai
pembuktian sebuah kejahatan. Sehingga, sekecil apa pun data yang mereka
peroleh, entah karena ketemu karena dicari, atau sebuah selentingan
yang tak sengaja mereka dengar, mereka tangkap dan dikembangkan, bahkan
ada kalanya itulah bukti utama yang bisa menyeret seseorang menjadi
tertuduh, terdakwa, dan terhukum.

Itu di film. dan saya terbius oleh kisah-kisah itu.

Beda di film, beda di negeri siput-kerang-udang-bento ini. Jelas-jelas
GJA menerbitkan buku. lalu ICW dengan seabreg besar dokumen-dokumen.
Lalu ada CBC yang mengungkap borok bankir, eh.... lha kok lucu yang
namanya aparat kepolisian, jaksa (agung, malah), kok malah
menafikannya. Ati-ati kabar bohong Time, katanya. Padahal mereka juga
tahu, kalau sebagian besar rakyat negeri ini juga sudah sampai ke
ubun-ubun bencinya kepada mantan capo dan jagung-bloon ini.

Serangkaian buku, jurnal, sampai majalah Time, serat tabloid
Independent dari Inggris, itu bukan sekedar 'kabar selentingan yang tak
sengaja masuk ke telinga', tetapi sudah kumpulan bukti yang lebih dari
50-persen benar. Lha, enak kan jadi penegak hukum kalau demikian itu
keadaannya? Tinggal sret....., beres !

GIGIH

Apa saya terlalu terpengaruh film, ya?
_____________________________________________________________
Do You Yahoo!?
Free instant messaging and more at http://messenger.yahoo.com

______________________________________________________________________
To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]

Pilih MASA DEPAN BARU di Pemilu 1999!



Kirim email ke