Bravo untuk bung Gigih Nusantara..........

Sesuai dengan nama gagah anda, ternyata anda begitu menyedihkan dengan
segala sanjungan kepada polisi kita.........

Mungkin polisi itu belum pernah merasakan sejuknya semilir AC seperti yang
anda rasakan sehari-hari, karena selama ini dia hanya merasakan sapuan debu
dan sapa'an terik matahari.....

Kenapa anda tidak sempat memarkir pikiran dan perasaan anda, seandainya
posisi anda ada di posisi polisi........

Wassalam..

----------
From:   GIGIH NUSANTARA[SMTP:[EMAIL PROTECTED]]
Sent:   Wednesday, May 19, 1999 2:54 PM
To:     [EMAIL PROTECTED]
Subject:        [Kuli Tinta] Polisi

Polisi

Di sebuah siang bolong, di sebuah kota yang terkenal paling panas di
Jawa, saya sedang menuju ke sebuah tujuan, yang harus melewati jalan
poros utama kota itu menuju ke luar kota, dan ketika sampai di batas
kota saya harus belok ke kiri.

Jalan belok ke kiri tersebut memang biang macet. Selain  merupakan
salah satu alternatif pintu masuk ke kawasan industri, juga padat
pemukiman. Trus lagi ada bemo yang mangkal, ditambah harus melintasi
rel KA yang relnya tak rata dengan jalan. Bisa dibayangkan, kalau macet
adalah hal normal.

Siang terik itu saya menuju ke daerah itu, meski bukan tujuan utama.
Artinya, tanpa ke situ pun tak apa-apa. dari jauh sudah terlihat
antrian kendaraan yang mau belok. Sebuah pemandangan biasa. Cuma kali
ini macetnya boleh dibilang bukan main, karena kendaraan mesti brenti
barang 3-4 menit, lalu jalan 2-3 meter, lalu stop lagi. Beringsut.

Dengan kondisi beringsut seperti itu, maka amat wajar, jika saya berada
sekitar 6-700 meter dari belokan. Dan sangat wajar, kalau di belakang
saya bertambah sekian ratus meter antrian mobil lain. Juga masih wajar,
kalau ada yang tak sabar, lalu mengambil serobot sebelah kanan saya.
Juga sangat wajar, kalau jalan jadi macet, karena yang mau terus, tak
belok, juga kesumpel para pengemudi yang tak sabar tadi.

beringsut-ingsut pun makan waktu lumayan. Lebih 15 menit saya akhirnya
sampai di belokan tersebut.

Bersyukur?

Masya Allah, tidak. Di situ ada polisi yang dengan sempritannya
menyuruh kami, para pengendara yang mau belok, untuk terus. Tidak boleh
masuk. Kenapa?

Rupanya sedang ada perbaikan. Jalan itu memang parah. Itu juga salah
satu biang macet di belokan tadi. bagus, dong, kalau dibetulin seperti
itu?

Ya. Bagus. Yang konyol itu kan polisi yang cuma nyuruh terus
pengemudi-pengemudi tadi. Mestinya dia kan, entah dengan cara
bagaimana, membuat para pengemudi tahu kalau dari tadi itu tidak boleh
belok. Ngapain repot antri sedemikian panjang, dan mesti beringsut,
kalau ujung-ujungnya mesti terus, tidak boleh belok?

Saya sungguh menyesal, kalau polisi itu adalah satu atau dua polisi
goblog yang ada di negeri ini. Saya tidak menyesal, kalau ternyata
seluruh polisi goblognya seperti itu. Sebab, kalau memang semuanya
seperti itu, bukankah itu memang ciri kepolisian kita (yang harus
dilestarikan)?

GIGIH
_____________________________________________________________
Do You Yahoo!?
Free instant messaging and more at http://messenger.yahoo.com

______________________________________________________________________
To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]

Pilih MASA DEPAN BARU di Pemilu 1999!





______________________________________________________________________
To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]

Pilih MASA DEPAN BARU di Pemilu 1999!



Kirim email ke