Sayangnya anda curiga tanpa take the essence... coba baca artikel yang saya
kutip dari homepage FORMA-KUB, yaitu yang ditulis dari ucapan H. Syarifien
Maloko, SH (Tokoh Tanjung Priok dan Rektor Perguruan Tinggi Dakwah Islam
Indonesia). Yang jelas, visinya jelas: Agama BUKAN Alat Politik...; missinya
bukan untuk menggembosi partai-partai agama, karena belum tentu partai agama
adalah "mengeksploitasi agama". Justru, in fact, pengalaman selama ini,
Golkarlah yang telah memperalat dan mengeksploitasi agama..

M Syarifien Maloko, SH.:

Saya menyambut gembira penyelenggaran Sarasehan dan Doa Bersama ini karena
kondisi fisik bangsa Indonesia yang tidak pernah sepi dari berbagai
kerusuhan berlatar belakang agama, menuntut kita untuk lebih rasional dalam
mencari solusi-solusinya. Sarasehan bergerak pada wacana rasional dan Doa
Bersama membawa kita untuk melihat hati nurani. Dua hal itu sangat
menggembirakan.

Ada dua kata kunci; "agama" dan "politik kekuasaan". Saya ingin mengatakan
bahwa agama selalu positif, yang tidak positif adalah manusia beragama yang
selalu memanipulasi agama untuk politik, kekuasaan dan interest. Tidak ada
satupun agama di dunia ini yang mengajarkan hal-hal yang destruktif atau
negatif. Perilaku manipulatif manusia itulah yang mengentalkan ungkapan
bahwa "agama itu kudus" dan "politik itu kotor" yang sangat populer pada
masa Orde Baru. Sehingga menjadi tabu bila tokoh-tokoh dan tempat ibadah
agama menjadi tempat pembicaraan masalah-masalah politik. Agama menjadi
terisolasi. Tokoh agama yang berbicara pada wacana politik, dicap sebagai
"tindak subversi". Bila pemuka agama berkhotbah dan memberikan bimbingan
rohani yang pada suatu ketika menyentuh masalah-masalah politik, dicap
sebagai "merongrong wibawa pemerintahan �yang katanya�sah". Penguasa rejim
kemudian memakai agama sebagai justifikasi untuk melakukan tindak-tindak
kriminal yang populer dengan istilah pelanggaran hak-hak azasi manusia demi
kepentingan kekuasaannya.

Agama itu adalah nilai dan politik atau kekuasaan hanyalah alat. Agama
adalah nilai untuk mengeluarkan kehidupan manusia yang penuh kejahatan
kedalam terang dan kebahagiaan. Politik dan kekuasaan hanyalah alat yang
dapat digunakan untuk mewujudkan nilai cita-cita agama. Jadi, agama dan
politik adalah dua kata kunci yang memiliki hubungan fungsional. Dalam
sejarah Islam, ketika Nabi Muhammad berada di Mekkah, beliau tidak berbicara
masalah politik dan membentuk negara, tapi beliau mengajari umatnya hanya
dalam persoalan-persoalan ritual, sampai kemudian beliau hijrah ke Madinnah.
Artinya, agama tidak sepi dari politik, tetapi politik menjadi bagian dari
agama. Omong kosong agama tanpa politik dapat menemui jati dirinya dengan
baik. Sebaliknya, politik tanpa agama akan membuat orang menjadi kanibal;
menghalalkan segala acara. Dalam perspektif Islam, kekuasaan adalah alat
yang dipercayakan oleh Tuhan kepada manusia. Itulah komitmen Partai dengan
azas Islam untuk menjadikan agama atau khususnya Islam, sebagai sumber
inspirasi dan motivasi dalam berpolitik. Kehancuran bangsa ini, karena
penguasa selalu melecehkan agama. Agama hanya dijadikan sebagai kedok. Agama
dalam bahasa moral tidak dijadikan tolok ukur pembangunan bangsa. Dekadensi
moral dalam seluruh segmen kehidupan bangsa tidak bisa dibendung lagi
sehingga bermuara pada sentralisme dan monopoli kekuasaan. Jadi, politik dan
agama tidak dapat dipisahkan.


______________________________________________________________________
To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]

Pilih MASA DEPAN BARU di Pemilu 1999!



Kirim email ke