"Latar Belakang"-nya akan sangat panjang untuk dituliskan di milis ini
(nanti pada protes "hemat bandwidth dong..!!"). Yang perlu "latar belakang"
silakan klik http://come.to/forma-kub
Sekali lagi, kalau anda tidak berburuk sangka, misalnya dengan "wah, ada apa
dibalik ini", "apakah anda ingin menggembosi....", "ini tidak demokratis.."
bla..bla..bla..., anda tentu akan pakai hati nurani dan mengerti bahwa
memang Agama BUKAN Alat Politik! (masa' sih ada yang setuju bahwa agama
adalah "alat" dari sesuatu? Bukankah malah Politiklah yang sebenarnya adalah
"alat" untuk mencapai demokrasi dan tujuan-tujuan sesuai dengan nilai-nilai
moral agama?) Yah..., kalau ada yang setuju bahwa agama ternyata cuma "alat"
dari sesuatu..., wah saya enggak tahu lagi deh keagamaannya.

Martin Manurung <http://www.cabi.net.id/users/martin>
____________________________________________
Dukunglah Kampanye AGAMA untuk PERDAMAIAN!
Forum Mahasiswa untuk Kerukunan Umat Beragama (FORMA-KUB)
Kunjungi http://come.to/forma-kub  E-mail: [EMAIL PROTECTED]


-----Original Message-----
From: Tedy The Kion <[EMAIL PROTECTED]>
To: [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]>
Date: 21 Mei 1999 0:55
Subject: RE: [Kuli Tinta] Agama bukan alat politik???


YAAA!

Inilah yang dinamakan DEMOKRASI. Semua orang boleh mengambil bagian dalam
BERSUARA meskipun apa yang menurutnya benar bisa berarti tidak benar buat
orang lain. Ada suara ketidaksetujuan ada suara yang mendukung, semuanya itu
wajar dan memang harus terjadi dalam mahluk DEMOKRATIS.

Tetapi... DEMOKRASI sangatlah transparan dan berhadapan langsung dengan
KEBEBASAN. Semuanya BEBAS berpendapat asal KEBEBASAN itu tidak KEBABLASAN.
Bagaimana DEMOKRASI yang kebablasan itu?
1. Tidak memperhatikan sistim, prosedur, atau hukum yang berlaku. Misalnya
arak-arakan tanpa helm, tempel-tempel brosur partai disembarang tempat,
terkadang saya pikir demo bisa menjadi candu bagi para 'pemakai' nya
sehingga prosedur penyampaian pendapat yang berlaku legal hanya menjadi
secondary choice meskipun terkadang alasannya tepat.
2. Hanya mau bersuara tanpa menghormati dan belajar sesuatu demi kebaikan
dan kemajuan bersama. Jika semua mahluk demokratis mau saling menghormati
dan saling belajar demi kemajuan bersama, niscaya tidak akan ada lagi
tuduhan antidemokrasi terhadap orang lain yang dilontarkan oleh seorang
mahluk demokrat dan semua suara ketidaksetujuan maupun dukungan hanyalah
dilandasi motivasi demi tercapainya kemajuan bersama.
3. Pemikiran yang dangkal. Bagaimana seorang yang dari pedalaman bisa
berkata bahwa JAKSA AGUNG tidak serius mengusut KKN Suharto padahal dia
tahunya hanya dari tetangganya yang profesor lalu dia menyebutnya sedang
menyampaikan hak suaranya dalam era demokratis ini? Meskipun hal itu benar
bahwa jakgung tidak serius, tetapi bukankah pernyataannya tidak keluar dari
hasil pemikiran yang diolah secara bertanggungjawab?

Dalam kasus 'AGAMA BUKAN ALAT POLITIK' ini, saya tidak bermaksud
menyampaikan suatu penilaian terhadap bung Martin ataupun Iwan ataupun
Hercule Poirot.

Apa yang diforwardkan bung Martin dapat saya tangkap sebagai suatu upaya
penyampaian pendapat yang baik dalam era demokrasi ini dan saya tidak cukup
layak untuk mengajukan kritik terhadap tulisan MAKER yang tentunya merupakan
hasil pemikiran yang tidak sembarangan. Tetapi memang surat seperti itu akan
lebih mudah dimengerti bila disertai suatu penjelasan latarbelakang
pemikirannya. Dan dari tanggapan bung Iwan maupun Hercule Poirot saya
mencoba belajar tentang 'BERDEMOKRASI a'la Indonesia'. Anda memberikan
contoh yang sangat nyata sekali tentang kehidupan politik dan demokrasi di
negri ini.

Dalam kasus 'AGAMA BUKAN ALAT POLITIK' ini, saya bermaksud menyampaikan
suatu demokrasi a'la 'pemikiran sederhana'. Artinya adalah bahwa demokrasi
bukanlah suatu hal yang ruwet yang hanya bisa dibarometeri oleh cara-cara
penghasil pendapat, yang hanya menilai demokrasi dari kecanggihan maupun
kelengkapan carapikir/pendapat, tetapi demokrasi lebih merupakan suatu
kesederhanaan sikap dalam menerima kenyataan tentang keberbedaan yang
terjadi tetapi keberbedaan tersebut tidak menjadi penghalang bagi tiap
pribadi untuk menggunakan hak kebebasan demokrasinya secara tidak
kebablasan.

Tulisan 'asal pikir' saya ini adalah ekspresi dari hak kebebasan demokrasi
saya. Semoga dari sinipun setiap orang bisa belajar sesuatu demi kebaikan
dan kemajuan bersama.

salam,
Tedy The Kion

> -----Original Message-----
> From: iwans [mailto:[EMAIL PROTECTED]]
> Sent: 20 Mei 1999 18:00
> To: [EMAIL PROTECTED]
> Subject: Re: [Kuli Tinta] Agama bukan alat politik???
>
>
> Saya kira, boleh saya katakan bahwa saya sependapat dengan anda
> Bung Hercule
> Poirot .....
> Adalah hak Partai Bulan Bintang, Partai Keadilan, Partai Kristen
> Nasional dan
> Partai Katolik Demokrat untuk mengekspresikan dirinya dengan cara memakai
> nilai-nilai agama.
> Saudara Martin dan kawan-kawan boleh saja tidak setuju dengan apa
> yang ditempuh
> oleh partai-partai tersebut, dan karena itu silahkan berkampanye
> untuk tidak
> memilih partai-partai agama. Tetapi tidak dengan cara ademokratis
> semacam itu.
> Kalau di negara dengan Kristen sebagai agama mayoritas seperti Jerman dan
> Perancis ada Partai Kristen Demokrat, kenapa di negara dengan
> Islam sebagai
> mayoritas tidak boleh ada Partai Bulan Bintang atau bahkan Partai
> Ummat Islam.
> Toh dalam persepsi saya, partai-partai yang lebih "sekuler" seperti PDI
> Perjuangan dan Golkar juga memakai cara-cara yang mirip seperti
> Partai Agama
> dalam menarik para pemilih, yaitu menjual simbol-simbol, dan
> bukannya mengajukan
> program dalam setiap kampanyenya. Beberapa kali mengikuti kampanye partai
> politik, hampir semuanya menjual simbol.
> Rakyat kita memang baru sampai sebegitu taraf pemahaman
> politiknya. Nggak bisa
> disalahkan. Dan adalah tugas partai politik untuk segera melakukan program
> jangka panjang melakukan pendidikan politik agar rakyat kita
> tidak terjebak
> dalam semata-mata politik simbol.
> Kalau kesadaran politik rakyat cukup memadai, pasti dengan
> sendirinya mereka
> akan meninggalkan partai politik yang semata-mata mengandalkan
> politik simbol.
> Dan tidak memilihnya di bilik suara.
> Terima kasih untuk Bung Hercule Poirot, karena membantu saya.
> Jalan pikiran anda
> sama dengan saya, dan karena itu saya tak perlu membuat tanggapan sendiri.
> Bagi saya, substansi surat terbuka ala saudara Martin Manurung
> dan kawan-kawan
> adalah tidak pantas dan anti demokrasi. Kecuali kalau memang ada agenda
> tersembunyi di belakang surat semacam itu.
>
> Selesai.
>
> Hercule Poirot wrote:
>
> > Bila saudara memutuskan untuk tidak menggunakan agama sebagai
> > penarik massa, itu adalah pilihan saudara dan partai saudara.
> > Tapi saudara tidak bisa melarang kalau ada partai yang
> > menggunakan agama untuk menarik massa.
> >
> > Kalau namanya partai demokrat Kristen, ya wajar kalau partai
> > itu menggunakn simbol-simbol agama untuk menarik pemilih
> > kristen. Kalau itu partai Bulan Bintang, atau Partai Keadilan
> > ya wajar kalau mereka menggunakan simbol-simbol Islam untuk
> > menarik masa dari kalangan Islam. Namanya saja partai dengan
> > asas agama. Jadi lucu kalau dilarang menggunakan simbol agama.
> >
> > Eh, mulai kapan mahasiswa [MAKER] jadi bersikap a-demokratis?
> > Kalau saudara berpendapat bahwa penggunaan simbol agama bisa
> > negatif, ya boleh-boleh saja. Atau kalau saudara menghimbau
> > agar tidak terjadi eksploitasi agama dalam pemilu, itu sih
> > boleh-boleh saja. Tapi kalau saudara tiba-tiba mengambil
> > kesimpulan AGAMA BUKAN ALAT POLITIK, wah ...nanti dulu.
> > Itu menurut agama apa? Ada agama yang mengajarkan untuk
> > tidak memisahkan antara kehidupan politik dengan kehidupan
> > beragama. Itulah sebabnya, banyak bermunculan partai dengan
> > asas agama.
> >
> > Kalau kemudian mahasiswa membuat kesimpulan parta-partai
> > berasas agama itu sebagai partai yang mengesploitasi agama
> > untuk kekuasan....nanti dulu. Beberapa partai berasas agama
> > didirikan untuk memperjuangkan perbaikan kehidupan keagamaan
> > yang selama orde baru terabikan. Dengan berjuang melalui
> > partai, setidaknya akan diperhitungkan oleh pemerintah.
> > Sebab, partai berarti mewakili orang yang memilihnya.
> >
> > Kalau mahasiswa ingin mencegah munculnya kekerasan sebagai
> > ekses negatif pemilu, itu bagus. Tapi jangan buru-buru
> > membuat kesimpulan "Agama bukan alat politik". Kalau soal
> > rusuh, bukan hanya karena faktor sentimen agama. Contoh
> > sudah banyak. Diserbunya Golkar oleh orang-orang berseragam
> > PDI Perjuangan di Jawa Tengah. Diserbunya pengurus DPC PDI
> > Perjungan oleh orang-orang PDI Perjuangan sendiri. Diserbunya
> > Golkar di Semarang oleh PDI Perjuangan. Digebukinnya pengurus
> > PAN oleh Satgas PAN sendiri. Lihat tuh, contoh itu tak ada
> > nuansa agamanya. Kalau memang nafsunya ingin ribut tak
> > terkendali ya ributlah jadinya.
> >
> > Memang ada bentrokan antara PKB-PPP di Jawa Tengah. Mereka sama-
> > sama partai berbasis masa Islam. Tapi bentrokannya sendiri bukan
> > karena adanya eksploitasi agama. Tapi lebih disebabkan pada
> > masalah intern NU. Yang satu protes karena PKB dianak-emaskan
> > oleh DPP NU, padahal PPP juga diketuai oleh orang NU.
> >
> > Saya yakin semua orang tak setuju dengan bentrokan antar partai.
> > Dan bentrokan itu bukan hanya krn faktor agama. Saya faham
> > tujuan MAKER baik, tapi dengan press release spt itu, MAKER
> > mengingkari lahirnya partai-partai berasas agama. Dan itu
> > tindakan anti-demokrasi. Atau MAKER punya agenda tersembunyi
> > agar orang Islam tidak memilih partai Islam dan orang Kristen
> > tidak memilih partai Kristen? Kalau saya, biarlah orang
> > menggunakan segala cara untuk meraih dukungan sepanjang
> > cara yang digunakan tidak melanggar hukum.
> >
> > Hercule Poirot:
> >       "...If we know what we are looking for,
> >           it is no longer mysteri..."
> >
> > >From: "H.P Martin Yudi" <[EMAIL PROTECTED]>
> > >Reply-To: [EMAIL PROTECTED]
> > >To: "KdP" <[EMAIL PROTECTED]>,        "Tabloid Perspektif"
> > ><[EMAIL PROTECTED]>,        "Reformasi Total List"
> > ><[EMAIL PROTECTED]>,        "FE UI Today"
> > ><[EMAIL PROTECTED]>, <[EMAIL PROTECTED]>,        "Kuli
> Tinta List"
> > ><[EMAIL PROTECTED]>,        "Perspektif Mailing List"
> > ><[EMAIL PROTECTED]>
> > >CC: "Solidaritas Nusa Bangsa" <[EMAIL PROTECTED]>,        "Bintang
> > >Aritonang" <[EMAIL PROTECTED]>,
> "Lembaga Bantuan
> > >Hukum Banda Aceh" <[EMAIL PROTECTED]>
> > >Subject: [Kuli Tinta] "Agama BUKAN Alat Politik" (Maker Ed.01/V/99)
> > >Date: Thu, 20 May 1999 00:54:30 +0700
> > >
> > >Forum Mahasiswa untuk Kerukunan Umat Beragama:
> > >http://come.to/forma-kub
> > >~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
> > >"MAKER"
> > >Media Anti Kekerasan
> > >No. 01/V/99
> > >~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
> > >
> > >Agama BUKAN Alat Politik
> > >
> > >Pemilihan Umum (Pemilu) 1999, sudah di depan mata. Puluhan partai akan
> > >memperebutkan kursi-kursi kekuasaan di Dewan Perwakilan Rakyat
> (DPR) dan
> > >kemudian menghasilkan kepemimpinan yang baru bagi Indonesia.
> > >
> > >Bermacam isu akan dipergunakan oleh partai-partai itu untuk menarik
> > >sebanyak-banyaknya simpati dari masyarakat. Diantaranya adalah; isu
> > >sentimen
> > >agama.
> > >
> > >Sebagaimana kita ketahui, selama Orde Baru, isu agama telah
> dibuat menjadi
> > >begitu sensitif dan paling berbahaya serta membawa berbagai tindak
> > >kekerasan
> > >dan kerusuhan. Padahal, tidak ada satupun agama yang
> mengajarkan kekerasan
> > >dan hal yang destruktif. Agama telah dijadikan alat politik
> untuk membangun
> > >kelompok-kelompok dan kubu-kubu yang saling mencurigai dalam
> masyarakat.
> > >Sehingga, agama menjadi kehilangan fungsi kontrolnya dan
> penguasa semakin
> > >kuat serta bebas melakukan korupsi, kolusi, nepostisme dan
> pelanggaran HAM.
> > >
> > >Karena itu, kita harus tetap memakai akal sehat dan kejernihan berpikir
> > >untuk memilah-milah persoalan dan isu yang berkembang. Jangan
> lagi kita mau
> > >diadu domba dan terpancing dalam tindak-tindak kekerasan dan
> kerusuhan atas
> > >alasan apapun, apalagi alasan agama.
> > >Pemilu nanti, jangan lagi kita berpikiran sempit untuk mau dibujuk rayu
> > >memilih suatu partai yang mengeksploitasi agama untuk politik
> kekuasaan.
> > >Ingatlah; agama bukan alat politik!
> > >
> > >____________________________________________
> > >MAKER diterbitkan oleh Forum Mahasiswa dan Pemuda untuk Kerukunan Umat
> > >Beragama, sebagai media penyebaran pesan-pesan perdamaian dan penguatan
> > >nilai-nilai agama. MAKER juga diterbitkan pada edisi cetak, yang untuk
> > >sementara masih satu halaman. Yang berminat mendapatkan edisi
> cetak silakan
> > >menghubungi [EMAIL PROTECTED] atau Pager 13055 Id. 52302.
> > >Bantuan finansial anda untuk menggiatkan penyebarluasan pesan
> perdamaian,
> > >sangat dinantikan melalui No. Rek. 022 002918445-901 BNI IAIN
> Ciputat Kan.
> > >Cab. Kebayoran
> > >=======================================
> > >Dukunglah Kampanye "Agama untuk Perdamaian"
> > >Kunjungi http://come.to/forma-kub
> > >
> > >
> > >______________________________________________________________________
> > >To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
> > >To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
> > >
> > >Pilih MASA DEPAN BARU di Pemilu 1999!
> > >
> > >
> >
> > _______________________________________________________________
> > Get Free Email and Do More On The Web. Visit http://www.msn.com
> >
> > ______________________________________________________________________
> > To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
> > To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
> >
> > Pilih MASA DEPAN BARU di Pemilu 1999!
>
>
>
>


______________________________________________________________________
To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]

Pilih MASA DEPAN BARU di Pemilu 1999!







______________________________________________________________________
To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]

Pilih MASA DEPAN BARU di Pemilu 1999!



Kirim email ke