Setuju sekali bahwa kita harus taat peraturan.. Itu effort yang bisa kita
lakukan..
Tapi kadang di beberapa tempat ada yang membingungkan atau tidak jelas
memang..
Misalnya tidak di semua tempat belok kiri boleh langsung..
Atau di suatu rambu yang ada jamnya tapi tulisannya kecil-kecil..
Saya punya pengalaman menyenangkan di Bali dan di Solo..
Di suatu tempat yang nggak jelas rambunya itu pas saya lagi
brenti/pelan-pelan berusaha baca, polisinya langsung membantu.. dengan
memberi tanda boleh atau tidak..
Pernah saya nyaris belok ke tempat yang dilarang masuk sebelum jam tertentu..
(karena saya lupa kalo' jam saya sudah saya cepatkan supaya tidak pernah
terlambat kalo' ngantor..) kebetulan ada polisi di gardunya.. eh saya pikir
pasti distop nih (saya posisi belum masuk tapi badan mobil sudah mau belok ke
sana) ternyata nggak.. dia ngasih tanda (gayanya sopan kok.. bukan gaya
marahin) bahwa masih belum boleh.. ya sudah.. saya kasih tanda mengerti terus
saya jalan terus.. wah.. tadinya saya sudah deg-deg plas pasti di-prit eh
nggak tahunya enggak.. Itu tadi pengalaman di dua kota itu.. yang ternyata
kata teman-teman saya memang polisinya sopan-sopan dan gak suka njebak..
kalau memang salah ya baru ditanyai..
Saya juga pernah baru saja distop polisi di Jakarta.. saya memang baru di
sini..
Pas di bunderan air mancur deket Monas.. ternyata di bunderan itu lampu
merahnya banyak.. saya lewati ada tiga yang satu nggak terlihat karena pas
kena percikan air mancur yang memburamkan kaca mobil saya.. (saya aja sempat
kaget kok ada hujan setempat) tapi saya ngaku salah deh.. karena memang
melanggar meskipun gak sengaja.. ya udah.. dia bilang musti bayar ke Bank ya
udah saya oke aja.. eh.. dijelasin lagi detail nilainya.. meskipun maunya ya
nggak usah bayar tilang ke bank sih tapi ya sudah saya bilang saya akan bayar
(mau bagaimana lagi kan?). Oh, ternyata dia nawarin uang bensin aja yang
nilainya separo dari yang harus saya bayar ke bank.. begini pembicaraannya..
Pol: Bagaimana, dik?
Saya: Nggak ah pak..! Saya bayar ke bank aja..!
Pol : Lho? Kenapa? (Sopan sekali lho nanyanya) Kan saya memudahkan Adik?
Saya: Nggak ah pak! Kalau memang saya harus bayar ya saya bayar ke bank aja
tilangnya.. tapi kalau bisa ya dibebasin aja.. kan Bapak tahu saya nggak
sengaja..
Pol : Justru karena itu saya nawarin kemudahan buat Adik.. yaah.. uang
bensin lah..
Saya : Nggak deh Pak, saya bayar ke bank aja! Nggak mau bayar ke Bapak..
Pol: Lho, kenapa?
(Pikir saya, wah nih polisi bego amat sih.. kan mestinya udah tahu kenapa..
kok pake' tanya segala..)
Saya : Ya nggak mau Pak.. Dosa! Nggak berani saya! Itukan nyuap..!
(Kebetulan entah kenapa hari itu saya lagi alim he..he..)
Tahu nggak akhirnya gimana.. Akhirnya saya nggak usah bayar baik ek dia
maupun ke Bank.. (entah apa yang ada di pikiran Bapak polisi yang 'baik hati'
itu..)
Di Manado.. Polisinya baik2.. pelayananan pada pemakai jalan bagus.. (padahal
di sana angkot dan mobil banyak sekali padahal jalannya kecil-kecil..) nggak
ada yang "nembak" in pelanggar rambu.. Teamworknya bagus.. ada macet-macet
penyelesaiannya cepat.. ternayat kasatlantasnya (dulu) memang alim juga..
jadi sampai ke anak buahnya juga begitu..
kadang-kadang.. yang buat ulah itu memang yang baru masuk.. atau yang
"terlalu lama" malah.. Yang masih baru lulus AkPol dia show of force.. yang
sudah lama.. mungkin sudah apatis dan mempersiapkan masa pensiun.. tapi
memang tidak bisa dipukul rata. Kasihan polisi yang baik.. namanya ikut
jelek..
Beby Asvi Yunita wrote:
> Waduuuh, kemarin2 saya cuma sekilas membaca tentang "POLISI"
> ini, sampai dengan hari, hati saya terpancing untuk berkomentar.
>
> Sebelumnya saya mohon maaf kalau perkataan saya menyinggung
> para netter.
>
> Mengenai perilaku POLISI yang seperti komentar di bawah ini dikatakan
> seperti sengaja menjebak para pengguna Lalu Lintas, terutama pengguna
> kenderaan bermotor, sebenarnya saya malah setuju dengan tindakan itu.
> Bukan karena Almarhum Orang tua saya Polisi atau karena saya bukan
> pengendara kendaraan bermotor, tapi lebih karena kekesalan saya kepada
> para pengendara kendaraan bermotor.
>
> Seharusnya, sebagai bangsa yang 'ngakunya "besar" dan berbudaya', kita
> harus selalu mematuhi peraturan yang ada, yang nota bene dibuat untuk
> menertibkan kita, terutama Rambu-Rambu LALIN. Rambu itu dibuat dan
> dipasang dengan menggunakan dana dari pajak yang kita bayar itu bukan
> untuk pajangan, tapi untuk dipatuhi. Jadi kalau Rambu-nya bilang Dilarang
> Berbelok ke kanan, yach..seharusnya jangan berbelok ke kanan. Jangan
> tunggu sampai ada petugas. Kalau semua kita begitu, mau jadi apa negara
> ini. Kapan kita bisa maju.
>
> Jadi, saya himbau kepada pengguna kendaraan bermotor, cobalah untuk
> mematuhi Rambu LALIN. Sayangkan udah dibuat mahal2 tapi cuma jadi
> pajangan????
>
> Bagaimana???
>
> ______________________________________________________________________
> To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
> To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
>
> Pilih MASA DEPAN BARU di Pemilu 1999!
--
---------------------------------------------------------------
Today's notes :
...
Reformasi itu datangnya bak cahaya Subuh
Tiba-tiba dan singkat bagi yang tidak biasa
atau bahkan terlewat bagi yang cuek
tapi sudah "biasa" buat yang selalu terjaga ber-Subuh ria..
Dimana kita??
...
[EMAIL PROTECTED]
---------------------------------------------------------------
______________________________________________________________________
To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
Pilih MASA DEPAN BARU di Pemilu 1999!