Saya kira ini adalah bukti bahwa partai reformis yang tertindas dimasa orde
baru telah mendapat tempat dihati masyarakat luas, termasuk dari kaum
minoritas Tionghoa. Saya menyaksikan sendiri dibanyak tempat minoritas
Tionghoa turut berpartisipasi melakukan kampanye, terutama di daerah
Pecinan.
Partai Status Quo akan berupaya all-out untuk "memenangkan" pemilu. Segala
cara dapat ditempuh, termasuk mencoba "meraih" simpatik kalangan minoritas
dengan segala janji. Untuk itu, marilah kita pastikan pilihan kita pada
salah satu diantara tiga partai besar pendukung reformasi :PDI Perjuangan,
PAN dan PKB.
Untuk itu, Hindarkan pilihan diluar ketiga partai besar ini, termasuk
hindarkan pilihan pada partai TiongHoa maupun partai lain yang tidak
mempunyai masa pendukung yang berarti. Mengapa?
Kita perlu membantu penggalangan suara ketiga partai besar tersebut agar
memperoleh mayoritas kursi di MPR sehingga dapat menentukan presiden
mendatang. Ingat bahwa pemilihan presiden tidak kalah pentingnya dari
pemilu, karena dengan sistem pemerintahan presidential, presidenlah yang
membentuk kabinet, memilih menteri dan menentukan arah pembangunan ekonomi,
politik dan penegakan hukum. Kalau presiden terpilih tidak berjiwa
total-reform dan berusaha melindungi status quo, maka sia-sialah pemilu kali
ini, meskipun salah satu diantara PDI perjuangan, PAN maupun PKB keluar
sebagai pemenang. Jadi, kemenangan partai reformasi harus disertai dengan
terpilihnya presiden yang berjiwa total-reform, agar roda reformasi dapat
bergulir ke arah yang benar.
Karena rakyat tidak langsung memilih presiden, maka kita perlu memastikan
presiden mendatang adalah pilihan rakyat, dan itu hanya mungkin kalau
mayoritas anggota MPR adalah wakil-wakil dari partai reformis. Untuk itu,
kita harapkan "Front bersama" yang telah dibentuk oleh PDI Perjuangan, PAN
dan PKB dapat berlanjut pada terujudnya suatu koalisi menghadapi status Quo.
Kepada Ibu Mega, Pak Amien Rais maupun Gus Dur, kita berharap persaingan
merebut kursi kepresidenan tidak menjadi penghalang bagi terujudnya koalisi
ini. Kalau koalisi ini dapat membendung status quo dan melanjutkan
reformasi disegala bidang, khususnya pada penegakan supremasi hukum, maka
Indonesia Baru akan terujud, dan anak-anak bangsa yang cemerlang dan masih
panjang umur seperti Pak Amien Rais akan mempunyai kesempatan luas menjadi
presiden ke-5, jika sekiranya luapan emosi kemenangan reformasi memilih
"Simbol penindasan orde baru" yaitu Ibu Megawati Soekarnoputri sebagai
presiden Indonesia yang ke-4. Momentum itu ada pada pemilu kali ini, seperti
halnya yang terjadi di Philipina pada saat terpilihnya Corazon Aquino.
Pak Amien, kalau Bapak terpilih sebagai presiden ke-4, syukur Alhamdulilah,
tetapi bila tidak, jangan berkecil hati, karena kesempatan berikutnya ada
pada Bapak. Terlepas dari itu, sejarah telah mencatat Bapak sebagai anak
bangsa yang cemerlang, berani, jujur dan konsisten dalam memperjuangan
reformasi disegala bidang. Human Value ini lebih penting dari kedudukan
sebagai presiden !
Catatan yang sama buat Gus Dur, keberadaan Bapak sebagai pemimpin informal
Bangsa Indonesia yang telah mendapat pengakuan luas lebih penting dari
jabatan Presiden. Kebesaran itu akan diuji lagi kesiapan mendukung
terwujudnya koalisi terlepas siapapun presiden terpilih mendatang. Saya
tertarik akan pandangan Gus Dur mengenai penghayatan kehidupan berbangsa
khususnya statement bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang melindungi
minoritasnya. Sebagai anak bangsa dari kalangan minoritas, saya mendambakan
Indonesia Baru dapat mengujudkan impian ini.
Semoga Pemilu kali ini jurdil, karena dengan itu, kejayaan status quo akan
segera berakhir karena rakyat sudah pasti pada pilihannya : Koalisi dari
PDI-Perjuangan, PAN dan PKB, ketiga kucing dalam karung yang disebutkan oleh
Bung Wilmar Witoelar dalam tulisan di Kompas.
"Pemimpin yang besar adalah pemimpin yang mampu bersatu dan bekerjasama
dengan pemimpin-pemimpin lainnya"
-----Original Message-----
From: Martin Manurung <[EMAIL PROTECTED]>
To: Perspektif Mailing List <[EMAIL PROTECTED]>
Cc: Kuli Tinta List <[EMAIL PROTECTED]>
Date: 24 Mei 1999 13:37
Subject: [Kuli Tinta] Saya Gembira Lihat Rakyat Bergembira
>Hari Minggu kemarin, saya menyempatkan diri untuk berkeliling melihat
>putaran Kampanye PDI Perjuangan... Tampak rakyat bergerombol menyambut
>iring-iringan massa PDI Perjuangan yang lewat. Mereka menari-nari,
>bernyanyi-nyanyi, tertawa dan meneriakkan yel-yel yang mereka karang
>sendiri... Bahagia sekali saya melihat senyum rakyat Indonesia; dari mulai
>di emperan toko sampai mobil-mobil (ada juga yang cukup mewah; BMW, Land
>Cruiser, dll), dari anak muda sampai orang tua.., ada juga supir Bajaj yang
>membongkar Bajaj-nya lalu dipakai berkeliling kota..
>
>Rakyat bergembira..!!! Suatu hal yang sangat saya idam-idamkan melalui
>proses reformasi ini.. Setelah ditindas puluhan tahun, dan khususnya untuk
>warga PDI yang dibantai dalam peristiwa 27 Juli.., mereka pantas untuk
>bergembira.., mereka bergembira merayakan eksistensinya; bahwa ternyata
>rakyat lah yang menentukan pilihannya, bukan penguasa. Melalui tahun-tahun
>yang penuh kesulitan, diterror dan dianiaya, kini rakyat menentukan manakah
>sesungguhnya PDI yang diakuinya... Pengakuan pemerintah itu menjadi
>kosong-melompong tak punya arti apa-apa.., rakyatlah yang menentukan.
>
>Tak ada insiden yang berarti..., tak saya cium bau "mulut mabok" seperti
>yang pernah "diprihatinkan" beberapa netters di Kuli Tinta.., tak ada yang
>meneriaki perempuan berjilbab seperti yang pernah diceritakan beberapa
>orang.., dan tak ada "kerusuhan massal" seperti yang dikhawatirkan
>"pakar-pakar". Rakyat bisa tertib, bila mereka percaya pada pemimpinnya dan
>pemimpinnya tidak mengadudomba rakyatnya. Rakyat bisa patuh, bila mereka
>mencintai pemimpinnya dan pemimpinnya tidak malah membantai rakyatnya
dengan
>kekerasan militer. Seperti kata Mochtar Pabottingi, pembusukan itu ada pada
>negara/pemerintah, bukan rakyat.
>
>Mungkin satu-dua lampu merah dilanggar.., dan itu memang tidak dibenarkan.
>Tetapi, tentu sangat amat jauh tidak benar lagi, Golkar yang melakukan
money
>politics melalui program JPS yang seharusnya untuk menyelamatkan rakyat
>miskin. Bila ada "pakar" yang berbicara sangat keras dalam kasus "lampu
>merah"..., seharusnya ia ratusan --bahkan ribuan-- kali lebih keras
>berbicara dalam kasus penyalahgunaan JPS oleh Golkar. Bila tidak demikian,
>maka pakar itu tak lebih daripada "ilmuwan tukang".
>
>Kebahagiaan saya yang amat sangat hari Minggu kemarin, melihat rakyat
>Indonesia bisa bergembira!!
>
>
>Martin Manurung <http://www.cabi.net.id/users/martin>
>____________________________________________
>Dukunglah Kampanye AGAMA untuk PERDAMAIAN!
>Forum Mahasiswa untuk Kerukunan Umat Beragama (FORMA-KUB)
>Kunjungi http://come.to/forma-kub E-mail: [EMAIL PROTECTED]
>
>
>______________________________________________________________________
>To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
>To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
>
>Pilih MASA DEPAN BARU di Pemilu 1999!
>
>
>
>
>
______________________________________________________________________
To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
Pilih MASA DEPAN BARU di Pemilu 1999!