In a message dated 5/26/99 5:07:34 PM !!!First Boot!!!, [EMAIL PROTECTED] 
writes:

<< 
 Ah.. itu omongan Bullshit.. capek lah dengerinnya... sederhana saja; masak
 megawati tidak pernah dapat penghargaan apa-apa? Apa tidak ingat, baru-baru
 ini Megawati dapat penghargaan dari India dan menjadi nominator Hadiah
 Nobel.. >>

@ @ @ @ @
Salam!
Nobel dari Hong Kong ape?

Perbandingan Megawati dan sosok-sosok pemimpin kita seperti membaca jalinan 
ironi. jangan-jangan  dunia politik Indonesia memang dibangun oleh rangkaian 
ironi. Di mana mahasiswa, intelektual dan massa dipukau oleh politik dinasti 
dan feodalisme? Tentang Penderitaan Mega. Bahkan ada yang-- walaupun 
lelucon-- secara gegabah mencoba menyetarakan Megawati dengan Paus dalam 
lakon ceritanya. Astaganaga, sedemikian sarkastisnya pengultusan itu. Ada 
lagi menyamakannya dengan Sri Bintang dan Budiman Sdjatmiko.  Saya kasihan 
melihat pengultusan Anda bung.

Tetapi kalian tidak sendirian. Di luar negeri juga gitu, banyak yang naif. 
Ada lagi mahasiswa di sana menyamakan Megawati dengan George W. Bush. Sumpah, 
saya nggak bisa menahan pilu.. 

Bulan silam, saya berbincang dengan  Pramoedya Ananta Toer di kampus George 
Washington University dan dilanjutkan di kediaman seorang teman aktivis 
(maaf, rahasia). Walaupun Pram menghormati Soekarno, Pram tetap kritis kepada 
Megawati. Saya tidak pantas menuliskan di sini. Tapi lebih etisnya kira-kira 
beginilah, ''Gimana itu Megawati. Mau jadi ... apa dia? Si Budiman dipenjara 
gara-gara dia, tapi membezuk dan memberi segelas teh pun tak mau. Kemudian 
waktu Harto massih berkuasa, Mega khan... mendapat... dsb.''

Kutipan di atas  bukan dari Bung Pram, melainkan saya perhalus.

Buat para pemuja berhala Megawati,
Dulu kalian ditipu oleh Soekarno, Soeharto-- tetapi kekuatan dua rezim 
otoriter itu  kalian bangun lewat pengultusan. Kalian  maki-maki nepotisme 
(KKN), kini pada saat yang belum lama usainya Orde Soeharto, kalian 
mengultuskan dan memuja-muja Megawati.  Di mana akal sehat?

Ada orang yang dari kalangan intelektual atau minimum mahasiswa yang 
merengek-rengek menyebutkan ''Megawati 
itu pintar, tetapi dia menderita gara-gara penindasan Orde Baru.'' Ada lagi 
menyebutkan, ''Saya bukan pengultus Megawati, tetapi kepemimpinannya akan 
membawa Indonesia jadi berhasil. Sebab jutaan rakyat menari ketika PDI-P 
berkampanye''.

Mau lebih gila lagi, '' Biar bagaimanapun, Megawati pendukungku.''

Intelek? Mahasiswa kacangan apa itu?  Di mana kekritisannya? Amien Rais yang 
berlatar belakang  Jawa, sama sekali tidak pengultus. Kepada EEP Saefulloh, 
ia tegaskan komitmennya itu.

Apa misalnya sifat kritis itu? Bahwa pendidikan Megawati SMA, itu realita. 
Mestinya Anda para pendukung PDI-P melakukan kontak ke Jakarta ( DPP ), 
sarankan agar Megawati kuliah atau bobot intelektualnya dinaikkanlah. 
Kritikan Arief Budiman dan Ratna Sarumpaet tentang ''Megawati yang bobok 
siang dan tak boleh diganggu, pada saat penembakan mahasiswa oleh tentara 
dalam Peristiwa Semanggi,'' mestinya kalian syukuri. Sebab itu peringatan 
konstruktif bahwa pemimpin itu jangan cuma ngorok atau berleha-leha.

Saya pernah diberitahu bahwa Arief dekat dengan PDI-P dan Mega, tetapi 
kritikan dia tak pernah 
surut. Namun anehnya,  kadang-kadang yang tidak kenal-mengenal dengan 
Megawati, malah yang paling fanatik mengultus Megawati. Itu ironi lain lagi 
ya.

Ketika ditanya soal konsep ekponomi dia untuk Indonesia, Megawati bilang 
''Seperti ditulis Bapak.''
Ketika ditanya yang mana, sebab Bung Karno cukup banyak bicara ekonomi, 
Megawati menjawab, ''Iya yang ditulis Bapak. Baca saja semua. Pokoknya 
semua.''

Itukah sosok pemimpin yang kalian puja-puja? Yang kalian kultus? Bung, 
persoalan ini berat sekali. Ini sama bahayanya dengan Soeharto. Kalian harus 
melakukan kritik sendiri terhadap Mega..

Apa ironi lain lagi?

Amien Rais menyatakan siap "track record' dia diungkap atau dipertanyakan. 
Sedangkan Megawati sendiri diam, tetapi justru orang-orang yang mencecar 
sosoknya.

Insya Allah saya jangan sampai menjadi pengultus siapa pun. Mengidolakan 
orang secara membabi-buta. Anda menduga saya memuja Amien Rais? Sorry saja, 
bung. Saya tak sedungu Anda. Walau saya respek terhadap keberanian, visi 
politiknya, saya tak ragu mengkritiknya. Terakhir ketika beertemu dia-- ada 
satu jam lebih-- saya bebas mendebat dia. Dia pun menjawab dengan 
argumentasi. Yang menjadi tekanan di sini adalah bukan soal siapa yang benar. 
Melainkan adalah soal keberanian menyatakan pendapat, menerima perbedaan 
tanpa memusihi, mensyukuri persamaan pendapat tanpa menjadi banci, memberi 
respek tanpa harus mengidolakan, dll.

Saya  menilai mahasiswa dan kaum cendikia itu bukan kambing 
congek, bukan sapi. Pramoedya Ananta Toer lalu bergumam ''Apa yang membedakan 
antara manusia dan ternak.'' Kita harus berjuang merebut atau mempertahankan 
'manusia' kita. Jika masih muda saja sudah bermental hamba, gimana nantui 
tatkala sudah dewasa atau ikut memimpin bangsa. Anda jangan cengeng! Di mana 
integritas moral?

Kini Amien Rais dan Megawati diperbandingkan. Bukannya berterima kasih bahwa 
di situ terkandung banyak hal konstruktif, malah menuduh politik pecah-belah 
Orba. Apa hubungannya? Di milis KULI TINTA ini semula saya menduga 
mayoritasnya adalah reformis. Tetapi, seperti  Eep Saefulloh bilang '' 
Megawatisendiri nggak reformis''.

salam,
ramadhan pohan
(penyimak pinggiran)



______________________________________________________________________
To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]

Pilih MASA DEPAN BARU di Pemilu 1999!



Kirim email ke