At 10:59 27/05/99 EDT, [EMAIL PROTECTED] wrote:

>Salam!
>Nobel dari Hong Kong ape?
>
>Perbandingan Megawati dan sosok-sosok pemimpin kita seperti membaca jalinan 
>ironi. jangan-jangan  dunia politik Indonesia memang dibangun oleh rangkaian 
>ironi. Di mana mahasiswa, intelektual dan massa dipukau oleh politik dinasti 
>dan feodalisme? Tentang Penderitaan Mega. Bahkan ada yang-- walaupun 
>lelucon-- secara gegabah mencoba menyetarakan Megawati dengan Paus dalam 
>lakon ceritanya. Astaganaga, sedemikian sarkastisnya pengultusan itu. Ada 
>lagi menyamakannya dengan Sri Bintang dan Budiman Sdjatmiko.  Saya kasihan 
>melihat pengultusan Anda bung.

Astaganaga, kalau yang Anda maksudkan dengan "Bahkan ada yang-- walaupun 
lelucon-- secara gegabah mencoba menyetarakan Megawati dengan Paus dalam 
lakon ceritanya" adalah lelucon yang pernah saya postingkan di sini, jelas
Anda terlalu gegabah.

Saya sudah menjelaskan bahwa lelucon yg saya beri judul "Akbar  mau semobil
dng Megawati" merupakan lelucon yang saya adaptasi dari sebuah lelucon
asing. Di situ yang dijadikan "tokoh" yang menelepon adalah seorang tokoh
politik Polandia, dan yang ditelepon adalah Paus. Sama sekali tidak berarti
dalam lelucon itu saya mau setarakan Mega dengan Paus. Sebagai seorang
wartawan seharusnya Anda bisa jeli dalam membaca sebuah tulisan.

Misalnya lelucon yg terakhir saya kirimkan dng judul "Wiranto di Timtim,"
saya adaptasi juga dari lelucon asing. Dalam lelucon "asli"-nya yg menjadi
"tokoh"-nya adalah orang Inggris, Amerika dan Israel. Tiga orang ini
ditangkap suku kanibal di Afrika. Kemudian disuruh mengajukan permintaan
terakhir, sebelum dibunuh. Pada giliran si Israel, dia minta ditendang
pantatnya, ... dan seterusnya. Nah, apakah ini berarti saya mau
menyetarakan Wiranto dng Israel, suku kanibal dng pasukan pro-integrasi
Timtim? Respon dan kesimpulan Anda terlalu mengada-ada. Menurut saya, ini
karena Anda terlalu peka dan alergi dng tokoh Megawati. Jadi kalau ada org
yang sedikit saja menyinggung sisi positif Mega, Anda langsung gerah.

Kalau ada org mempunyai opini yg mendukung Mega langsung Anda cap sbg
megkultuskan, bahkan "memuja berhala Megawati," atau "orang-orang dungu."
Tidak adakah kata-kata yg lebih sopan dalam mengajukan debat? Apakah
meng"dungu-dungu"-an org merupakan seorang yang berpikiran intelektual?
Apalagi profesi Anda wartawan.

Anda sendiri memuji-muji Amien Rais. Tetapi tdk mau dikatakan
mengkultuskannya. Ya, memang betul antara mendukung/memuji dng
mengkultuskan itu harus dibedakan. Sayangnya pernyataan ini, Anda hanya mau
memberlakukan untuk Anda sendiri. Untuk orang lain, langsung Anda stempel
"kultus individu." Saya sendiri simpatik kepada tokoh Amien. Setidaknya ada
tiga tokoh yang saya respek, yakni Gus Dur, Amien Rais dan Megawati.

Bukan berarti ketiga tokoh tersebut tanpa cacat. Amien Rais misalnya,
pernah ketika salah satu harian di sby membuat berita bahwa dia salah satu
penerima dana asing untuk menjatuhkan Soeharto. Para pendukungnya yang
berjumlah ratusan orang menyerbu dan menduduki kantor harian itu. Memaksa
pimpinan redaksinya minta maaf. Apakah aksi "show of force" seperti ini
bisa dibenarkan? Dan Amien Rais hanya diam dan seolah membenarkan tindakan
para pendukungnya itu. 
 
Sbg wartawan, mudah2-an sikap Anda yang terlalu berprasangka ini tdk
terbawa-bawa dlm tulisan2 Anda.






Daniel H.T.



______________________________________________________________________
To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]

Pilih MASA DEPAN BARU di Pemilu 1999!



Kirim email ke