Bung Hasan, Tiada kebahagian melebihi saat melihat sebuah kebenaran. Semoga pertanyaan Bung Hasan telah terjawab dengan tiga posting berikut ini. salam ==================================================== From: Juliana Atmadja <[EMAIL PROTECTED]> mungkin tulisan teman saya seorang wartawan, dapat membantu menjelaskan masalahnya. Beritanya saya cantumkan di bawah ini. Best Regards, Juliana ------ Wardah Kumpul Kebo dengan Seorang Pastor? Tuduhan Wardah Hafidz kumpul kebo dengan seorang pastor, agaknya terlalu dibesar-besarkan. Begitulah politik. Masing-masing pihak berusaha menyerang pihak lawan dengan mengungkap semua kebusukan pihak lawan. Hanya saja, tuduhan Jumhur Hidayat, Sekjen PDR, tentang kumpul kebonya Wardah menyedihkan banyak orang yang mengenal Wardah dari dekat. Tuduhan ini bukan saja fitnah tetapi sudah mengarah ke character assasination. Suami Wardah adalah Dr. Wiladi, seorang penggiat Yayasan Ilmu-ilmu Sosial. Sejauh yang saya tahu, yayasan ini banyak menerbitkan buku, memberikan dana penelitian terutama kepada peneliti muda, serta mengorganisasi pertemeuan-pertemuan ilmiah. Memang benar Dr. Wiladi adalah seorang bekas calon pastor dari Ordo Jesuit. Kalau tidak salah, dia seangkatan dengan Dr. Sastrapratedja, sekarang Rektor Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Tetapi dia bukan pastor. Wardah sendiri, lebih dikenal sebagai seorang aktivis LSM, khususnya perempuan. Bolehlah kalau disebut, Wardah sesungguhnya seorang feminis. Lalu, apa kaitan antara status perkawinan seseorang dengan kasus yang diungkap Wardah? Pernyataan Jumhur Hidayat memang terasa melebih-lebihkan. Kita semua tahu bahwa Jumhur adalah bekas aktivis mahasiswa. Dia pernah dipenjara karena keberaniannya berdemonstrasi. Hanya saja, tuduhan yang sedikit ngawur tentang lawan politiknya (dalam hal ini Wardah Hafidz) rasa-rasanya telah mengurangi semua wibawa yang pernah ia miliki sebagai seorang aktivis. Jika hanya sekian kualitas politisi kita, maka kita boleh menyesal bahwa sampai kapanpun Indonesia tidak akan pernah bisa berdemokrasi. Wassalam, Bisri Tanri ==================================================== From: Samin <[EMAIL PROTECTED]> Memangnya kenapa? Apa nggak boleh? Mereka adalah suami istri yang sah. Suami Wardah adalah Mas Wiladi yang dulunya memang pernah jadi orang seminari. Wardah sendiri dibesarkan dalam keluarga yang memiliki tradisi pesantren. Saya kira mereka ini justru pasangan Pancasila, dalam arti sesungguhnya. Yang perlu digarisbawahi di sini adalah jangan sampai orang yang mencoba membongkar kebusukan dan politik uang kelompok penjahat yang berselubung partai atau gerombolan lain, diserang dengan pergunjingan yang tak ada kaitannya dengan substansi kritik yang dilontarkan sebagai antitesis kebusukan. ==================================================== -----Original Message----- From: [EMAIL PROTECTED] SMP dan SMA Wardah di Muhammadyah. Tapi Wardah berasal dari keluarga Masyumi, namun karena tinggal di Jombang (Wardah lahir di Jombang), mereka juga dekat dengan tradisi NU. Bung Hasan, sebaiknya Anda tabayyun dulu sebelum menuduh sesuatu. Karena saya lihat dalam posting Anda, Anda sangat mudah menuduh orang-orang PKB, NU hanya semata-mata karena sentimen saja. Gus Dur itu bukan antek Yahudi. Dengan menggandeng kaum minoritas di bawah payung Islam Universal, beliau berusaha membentengi bangsa kita dari gempuran neokolonialisme baru (persaingan antara kapitalis raksasa Cina dan Yahudi). Itulah sebabnya jauh-jauh hari beliau membina hubungan dengan tokoh-tokoh Israel. Jika saja kita tahu ada apa di balik Kerusuhan Mei 98 dan kerusuhan-kerusuhan lanjutan pasca Mei (salah satu tujuannya adalah rebutan kekayaan alam Indonesia yg melimpah ruah. You know, siapa menguasai migas, dia menguasai dunia), niscaya kita akan bersyukur bahwa kita punya ahli strategi politik kelas dunia seperti Gus Dur. Dengan cantik Gus Dur bermain di tengah, bukan untuk kepentingannya sendiri, tapi semata-mata karena kecintaannya pada bangsa ini. Gogon, Eggy, Adi dg Kisdi dan PBBnya hanya ditunggangi oleh Lobby Moslem yg sesungguhnya ditunggangi lagi oleh Lobby Yahudi. Karena tidak mengerti petanya, mereka menjadi korban, orang-orang yang diiming-imingi lalu dikorbankan, kasihan. Itu pula sebabnya kenapa Wiranto cs sangat hormat pada Gus Dur. Bahkan Syarwan Hamid yg jelas-jelas musuhnya Mega, juga respek padanya. Para wartawan pasti tahu, Wiranto berkali-kali menemui Gus Dur tanpa publikasi. Gus Dur sudah membiarkan dirinya dihujat banyak orang demi kepentingan umat. Ingat sewaktu dia menggandeng Tutut? Pembantaian umat Islam langsung berhenti begitu Tutut digandeng Gus Dur. Cobalah wartawan mencoba melihat fenomena yang ada lalu mencoba menganalisanya. Saya pernah tanya Gus Dur kenapa beliau hanya bicara sedikit pada wartawan, beliau bilang, jika semua diberitahu, wartawan jadi goblok dan tidak belajar berpikir. Salam, ---------------------------------------------------------------------- ---------------- ______________________________________________________________________ To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED] To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED] TUNTASKAN REFORMASI: Pilih MASA DEPAN BARU di Pemilu 1999!
