Terima kasih, tetapi menurut mata hati Anda, mana sih diantara kemungkinan itu
yang benar?
Atau mungkin ada tokoh PDR yang bersedia memberi pencerahan?
Atau seseorang berbaik hati mem-forward message itu ke PDR, karena saya nggak
tahu addressnya.
Indah sekali kalau bung Cacuk atau mas Adi berkenan memberi pencerahan masalah
ini. Atau bung Abdullah Hassan yang "sedikit tahu tentang mas Adi" berkenan
mengelaborasi.

Salam

"��" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Pengamatan yang bagus, namun sekarang kan lagi jaman   l o g i k a   k
e p u n t i r  Bung!


-----Original Message-----
From: Yap C.Young <[EMAIL PROTECTED]>

Date: Friday, June 04, 1999 4:47 AM
Subject: [Kuli Tinta] PDR mengkorupsi rakyat kecil dan LSM


Seperti hafalan, semua jurkam PDR selalu bilang konstituennya rakyat
kecil,
miskin, tertindas. Dan berjanji membalik posisi, rakyat kecil diguyur
dana
supaya kuat. Sedang konglomerat dimaki habis.
Tetapi tampilannya selalu glamour (deklarasi di Senayan dan setiap
arena
kampanye, bagi-bagi bukan hanya kaos tapi juga rompi, iklan di TV dsb)
yang
pasti membutuhkan dana besar.

Dari mana dananya?

Kalau sumbangan dari konstituennya (rakyat kecil) berarti PDR
mengkorupsi
secara amoral uang rakyat kecil, miskin, tertindas.
Kalau sumbangan simpatisan kaya, berarti PDR tak tahu diri, sudah
dibantu
masih memaki.
Kalau ngutil dana Pemerintah, berarti dia biadab benaaaar, karena
rakyat yang
akan menanggung beban hutangnya.

Pantas saja dia belum mampu menyerahkan laporan keuangan ke KPU.

Rasanya perlu diaudit juga para penerima KUT dan JPS, apakah mereka
menerima
bukan karena KKN?
Pembuktiannya mudah, ambil saja sampling acak penerima KUT dan JPS,
wawancarai
mereka, dan simpulkan siapa sebetulnya mereka.

Semoga PDR masih mampu bertahan pasca Pemilu 99, sehingga punya
kesempatan
mempertanggung jawaban tindakannya. Jangan hanya bersembunyi dibalik
label LSM
dan rakyat miskin setiap terpojok pertanyaan kritis.

abu <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Kadang-kadang diam itu emas, sedang bicara itu perak ...
Menurut temen-temen saya di PDI-P (maaf lho saya bukan orang PDI-P)
Mba
Megawati
itu tidak pernah mencalonkan
menjadi Presiden tetapi rakyatlah yang meng-elu-elukan beliau untuk
jadi
Presiden, jadi makanya dia diam saja ketika
diajak untuk berdebat capres dll.
____________________________________________________________________




______________________________________________________________________
To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]

TUNTASKAN REFORMASI: Pilih MASA DEPAN BARU di Pemilu 1999!






____________________________________________________________________
Get free e-mail and a permanent address at http://www.netaddress.com/?N=1

______________________________________________________________________
To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]

TUNTASKAN REFORMASI: Pilih MASA DEPAN BARU di Pemilu 1999!




Kirim email ke