Bung Iwan, nggak usah pakai bullshit dong. Survey LP3ES membuktikan bahwa tidak ada korelasi linier antara suksesnya kampanye dengan penambahan jumlah pemilih. Bagi saya ini hanya membuktikan bahwa kehidupan ini seperti roda berputar. Sekali waktu diatas, lain kali dibawah. Dulu Golkar euphoria habis-habisan ketika berkuasa, sampai fasilitas umumpun dicat kuning dan orderan kaos dan jaket kuning luar biasa besarnya. Sekarang jamannya PDIP, sehingga walaupun pabrik tekstil ditekan untuk tidak memproduksi kain merah, nyatanya seluruh Jawa masih mampu merah total. Jadi boleh dong kita menjadi pengamat dan pendengar yang baik. Saya juga menghormati seruan MUI dan tokoh Islam yang menganjurkan masyarakat muslim memilih hanya partai Islam atau caleg Islam. Tetapi kan semua terpulang pada keputusan rakyat (individually) dibilik suara. Salam iwan <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Ah bullshit dah ! PDI Perjuangan itu kampanye apa show of force sih ? PAN yang ngaku intelek itu begitu. PPP sama saja, setali tiga uang. Partai-partai lain juga membadut semua ! Golkar juga sama saja, melucu saja kerjanya Akbar dengan kuningnya itu Kata Daniel Lev : Anda harus siap-siap kecewa ! Dan kecewalah anda semua ! Pastikan itu pas coblosan nanti. Jangan ngamuk kalau partai pujaan anda kalah. Kalau ngamuk ! Awas ! Dan saya sangat khawatir anda semua akan ngamuk. Minimal ngamuk membabi buta di milis. Kacau benar negeri kita ini ........ Daniel H.T. wrote: > > At 19:39 02/06/99 EDT, [EMAIL PROTECTED] > wrote: > > >Daniel: > >Nuniek Haryani ini masih jauh lebih baik dibandingkan dengan dewa Anda, > >Megawati yang diam seribu bahasa. Jujur saja lah. Nuniek berani tampil, > walau > >grogi, dengan apa adanya. Bukankah itu lebih baik dibandingkan diam, > lamban, > >menggemukkan badan? > >salam, > >RAP > > > > Lebih baik diam daripada bicara tetapi bicaranya asbun seperti dewa Anda > Nuniek. Seperti yang saya katakan yang ditanya A jawabnya B. Sampai > berkali-kali moderator terpaksa memotong untuk membantunya mengarah ke > jawaban yang sesuai dengan pertanyaan penanya. Ini 'kan namanya > mempermalukan partai sendiri? > > Seperti yang dikatakan Kwik untung Mega tidak menghadiri debat presiden > tempo hari di UI itu, yang ternyata isinya hanya debat soal rokok, > kemacetan jalan, kemampuan bahasa Inggris, dll. Saya tambahkan lagi dengan > juga mempersoalkan siapa yang emosional lebih dulu. Amien bilang Yusril > yang emosional, Yusril sebaliknya. Pokoknya pada intinya isi debat itu > lebih sebagai saling berdebat antar pribadi masing-masing dengan emosional. > Makanya saya dulu pernah tulis di milis ini: Ini berdebat atau bertengkar > sih? > > Kelihatannya kebencian Anda terhadap Mega sudah sampai ke ubun-ubun kepala > Anda. Dalam posting saya di milis ini yang saya bicarakan tentang > kepiawaian Kwik Kwan Gie, kok nama Mega dibawa-bawa? Kok Mega yang kena? > Payah nih namanya. Orang kalau sudah terlalu benci seperti ini biasanya > semua pandangannya tidak bisa obyektif lagi. Heran juga, kalau semua orang > yang respek pada PDI Perjuangan terus dicap mendewakan Mega. Mengkultus > Mega dan sebagainya. > > Amien Rais juga tak luput dari massa yang mengelu-elukannya. Seorang > perempuan nekad menghadang bus yang ditumpangi oleh Amien, dengan nekad dia > menerobos sambil berteriak histeris untuk sekedar bisa bertemu dengan > Amien, sampai membuat satgas PAN kewalahan menahannya. Akhirnya dia dapat > juga menyentuh tangan Amien walaupun hanya dengan menempel tangannya dengan > tangan Amien di kaca mobil. Setelah berhasil. Dia berjingkrak-jingkrak > kegirangan. Nah, kalau reaksi orang seperti ini namanya apa? > > Kita tidak bisa begitu gampang mengvonis setiap orang yang mempunyai sikap > respek pada seorang tokoh politik otomatis dengan mendewa-dewakan tokoh > tersebut. Anda tentu keberatan kalau saya mengatakan Anda memper-setan-kan > Mega, dan mengdewa-dewakankan Amien, bukan? > > Untuk apa pula banyak omong tapi isinya nanti kosong? Seperti juga Kwik > bilang, berbicara tentang permasalahan negara ini, tidak cukup hanya bisa > lima atau tiga puluh menit. Pejabat2 Orba pun terkenal jago bicara, jago > memakai kalimat2 manis-manis, banyak kalimat2 heroiknya, tapi kenyataannya > kita sudah tahu sendiri. > > Sekarang banyak tokoh politik yang amat sangat rajin menghujat tak > habis-habisnya Soeharto. kebejatan Soeharto dipakai sebagai komoditi > politik. Megawati yang tidak ikut-ikutan menghujat, kena kritik. Padahal > Megawati sudah bilang, sebagai Keluarga Bung Karno dia sudah merasakan > bagaimana kalau keluarganya juga dahulu pernah dihujat habis-habisan > sewaktu ayahnya itu jatuh dari kursi presiden. Sakit bukan main. Dan dia > tidak menghendaki untuk membalas dendam. Yang penting nanti diproses secara > hukum. Daripada seperti Habibie cs sekarang banyak bicaranya tapi isinya > kosong. > > Padahal Megawati dan PDI-nya tempo tak habis-habisannya dijegal Soeharto. > Setelah didepak sebagai Ketua Umum dan diganti dengan boneka Soerjadi, > penyerbuan kantor PDI tanggal 27 Juli 1996, setiap kegiatan poltiknya > selalu dijegal. Beberapa kali hendak membuka kantor selalu disegel dengan > berbagai macam alasan. > > O ya, saya lupa, subyek posting saya terdahulu, kan saya beri judul: Kok > "Menurut Saya"? Soal ini lupa saya singgung di posting lalu. Yang saya > maksudkan adalah ketika Nuniek ditanya apakah ada keterkaitannya antara PDR > dengan koperasi, dia menjawab: "Menurut saya ..." > Lha, bagaimana bisa jawabannya "menurut saya," yang ditanya 'kan fakta > (apakah benar ada hubungan koperasi dng PDR) bukan pendapat Nuniek, atau > siapapun . Kalau memang tidak ada hubungan, jawabnya: "tidak" dengan > argumen yang masuk akal. > > Ketika itu Nuniek mencoba mengelak, tetapi ketika dikatakan ada beberapa > bukti bahwa di beberapa daerah koperasi memperoleh kredit, tetapi mesti > dengan perantara PDR. Dia mengatakan itu dulu, sekarang sudah tidak lagi. > Ini kan jawaban yang lucu. Mungkin saja sekarang tidak, karena ketahuan. > Coba kalau nggak ketahuan? > > Banyak orang yang (mungkin karena iri) mengatakan bahwa sedemikian > banyaknya massa yang tumpah-ruah di setiap kampanye PDI-P, itu hanya karena > massa ingin hura-hura. Lho, kalau sekedar ingin hura-hura, mengapa hanya > PDI-P yang mereka pilih? Padahal masih ada 47 parpol lainnya. PKB, PAN, > misalnya biasanya dibanjiri juga massa dalam konvoi di hari kampanye. > tetapi hanya PDI-P yang disambut antusias oleh banyak masyrakat yang > menonton di troatoar2 jalan, dan mulut-mulut gang. Soal jumlahnya pun > parpol yang lain kalah banyak dengan PDI-P. Seperti di putaran terakhir > kampanye hari ini. Konvoi seolah tak putus-putus dari pagi sampai sore. > Lebih jelas, tanyakan kepada rekan2 Anda yang ada di Surabaya dan Jakarta. > Ini fakta. Bukan soal mengdewa-dewakan PDI-P atau siapapun juga. > > Daniel H.T. > > ______________________________________________________________________ > To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED] > To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED] > > TUNTASKAN REFORMASI: Pilih MASA DEPAN BARU di Pemilu 1999! ______________________________________________________________________ To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED] To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED] TUNTASKAN REFORMASI: Pilih MASA DEPAN BARU di Pemilu 1999! ____________________________________________________________________ Get free e-mail and a permanent address at http://www.netaddress.com/?N=1 ______________________________________________________________________ To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED] To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED] TUNTASKAN REFORMASI: Pilih MASA DEPAN BARU di Pemilu 1999!
