Ini adalah khutbah Jum'at saya di KBRI Bonn. Mudah-mudahan bermanfaat dalam kita merformasi diri, masyarakat, bangsa dan negara. Khutbah Jum'at di KBRI Bonn 28 Mei 1999 Segala Puji hanya pantas ditujukan kepada Allah, Pencipta segala Makhluq, pengatur jagat alam, Maha Berkehendak dan Maha Berilmu. Shalawat dan salam senantiasa kita kirimkan pada junjungan kita, Tokoh Revolusi Ruhani Rasulullah Muhammad bin Abdillah. Salam sejahtera kita sampaikan pada parakeluarga, shahabat yang setia menyertai perjuangan beliau, dan juga para pengikutnya yang taat menuruti risalah serta tauladan-tauladannya. Marilah tak henti-hentinya bersyukur pada Allah, dimana kita masih diberikan ni'mat terutama ni'mat iman, sehingga kita mau datang bersimpuh ditempat ini semata-mata karena memenuhi seruannya, yaitu melaksanakan kewajiban shalat jum'at. Mudah-mudahan dihari-hari mendatang, di bulan-bulan mendatang ditahun yang akan tiba bahkan hingga akhir hayat, iman yang tertanan dalam dada kita semakin hari semakin mantab. Sidang Jum'at yang dimuliakan Allah, Perbaikan adalah satu kata yang sangat sering terdengar ditelinga kita akhir-akhir ini. Terutama berkaitan dengan kehidupan sosial kemasyarakatan dan politik di tanah air. Tapi sesungguhnya Dienul Islam yang dibawa oleh Rasulullah sejak 15 abad yang lampau adalah Dien yang memiliki yang berkipraah pada perbaikan tata cara hidup, jauh lebih lengkap dari yang dipersoalkan akhir-akhir ini. Allah berfirman dalam Surat Ibrahim ayat 1 : "Alif lam ra ini adalah kitab yang Kami turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkan manusia dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan izin Rabb mereka, yaitu menuju jalan Rabb yang Maha Perkasa lagi maha Tinggi." Pada ayat ke 5 pada surat Ibrahim Allah berfirman, "Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Musa dg membawa ayat-ayat Kami, dan Kami perintahkan kepadanya "Keluarkanlah kaummu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang dan ingatkanlah mereka pada hari-hari Allah"." Demikian firman-firman Allah dalam Alqur'an yang menyiratkan bahwa Dienul Islam adalah Dien yang bertujuan melakukan perubahan, perbaikan, reformasi tatanan kehidupan masyarakat; dari masyarakat jahiliah kepada masyarakat yang beradab, yang memiliki tatanan hukum sesuai dengan kehendakNya. Bukankah Allah dengan mudah dapat merubah dengan ke Mahakuasaannya ? itulah esensi kebebasan bagi manusia, manusia diberikan kebebasan memilih, memilih jalan yang benar lagi menguntungkan atau jalan yang sesat dan merugikan. Allah berfirman dalam AlKahfi 29 "Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu, maka barang siapa yang ingin beriman hendaklah ia beriman, dan barang siapa yang ingin kafir, biarlah kafir.. " Dengan turunnya Alqur'an yang juga disebut Alfurqan (pembeda), maka telah menjadi jelas antara yang benar dan yang bathil. Manusia yang telah diciptakan sebagai makhluq sebaik-baik ciptaan (fii ahsani taqwiim), dilengkapi dengan akal yang sempurna diberi kebebasan memilih jalan yang ada. Apakah mau memilih jalan yang salah dan merugikan, atau jalan yang benar dan menguntungkan. Manusia sudah diberikan akan, apakah dia mau menggunakan akalnya atau tidak dalam memilih satu diantara berbagai kemungkinan, karena masing-masing jalan telah dijelaskan konsekuensinya. Jalan Islam adalah manhaj yang benar, yang memberikan motivasi bagi kita manusia untuk selalu menegakkan kebenaran dan harus menjaga dunia dari kemunkaran, Allah berfirman dalam surat AliImran 110 "Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah". Aktifitas mengajak kepada yang ma'ruf (yang baik) serta mencegah kemungkaran didasari pada keimanan. Artinya tolok ukur dari baik dan munkar itu didasarkan pada wahyu-wahyu Allah. Tidak dapat kita menentukan baik dan buruk berdasar hawa nafsu kita, sungguh telah jelas yang hak dan yang bathil. Dengan dasar keimanan pula kita tak mengharapkan balasan dari mahluk atas aktivitas mencegah kemungkaran dan menyuruh pada kebaikan, semua didasarkan pada ridha Allah. Sehingga tak ada artinya cacian, tak ada artinya tekanan, tak ada artinya hambatan-hambatan yang dihadapi dalam menegakkan ma'ruf dan mencegah kemungkaran jika dibandingkan imbalan syurga khalidiinafiiha abadaa (kekal didalamnya). Sidang Jum'at yang berbahagia, Bagaimana kita melakukan perbaikan ? Firman yang paling pertama diwahyukan Allah pada Muhammad adalah Iqra' bismi raabikal lazdii khalaq. "Bacalah atas nama tuhamu yang telah menjadikanmu". Perintah membaca ini memiliki arti yang sangat luas, membaca secara harfiah, menganalisis alam, menganalisis kejadian-kejadian, menganalisis pengalaman-pengalaman, yang semuanya harus dibaca dengan Nama Allah, bukan dengan nafsu. Termasuk mengevaluasi diri pribadi. Kita evaluasi diri kita masing-masing, kita evaluasi keluarga kita. Kita evaluasi atas dasar keimanan. Sudahkah kita berjalan sesuai dengan keimanan yang kita yakini, yang telah mengunjam dalam lubuk hati kita ? Introspeksi merupakan langkah kunci. Introspeksi akan mendorong diri kita untuk selalu memperbaiki diri. Khalifah Umar r.a pernah berpesan "Hendaklah kalian menghisab perbuatan kalian sendiri, sebelum kalian dihisab". Introspeksi akan menjaga diri seorang muslim untuk selalu merasa dibawah pengawasan rabb-nya. Dengan demikian segala ucapa dan perbuatan tidak melampaui batas-batas yang telah ditentukan Allah. Apa tolok ukurnya ? Allah berfirman dalam Surat Alfurqan ayat 1. " Mahasuci Allah yang telah menurunkan Al Furqaan (alqur'an) kepada hambaNya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam." Tolok ukur yang harus kita gunakan sebagai seorang muslim adalah Alqur'an. Apakah dalam mencari kehidupan, apakah dalam hubungan sosial, berjual beli, bertetangga, apakah dalam berpolitik dan sebagainya dan sebagainya. Akhirnya kita sampai pada mencari sumber pokok dari jalan hidup. Dan jawabnnya tidak lain adalah juga Alqur'an. Dalam surat Albaqarah ayat 2 Allah berfirman Kitab Alqur'an ini tidak ada keraguan di padanya, petunjuk bagi mereka yang bertaqwa. Sejarah telah membuktikan, Muhammad Rasulullah dengan Dienul Islamnya telah merubah masyarakat Jahiliah pada waktu itu berangsur menjadi masyarakat yang beradab, masyarakat yang berserah diri pada kepemimpinan Allah. Semakin hari komunitas jahiliah semakin hilang. Keimanan pada Allah menjadi penerang, yang membebaskan manusia dari segala penjajahan, tak ada rasa takut pada penguasa, takut hanya semata pada Allah. Karena dalam diri masyarakat sudah tertanam iman bahwa perbuatan hari ini akan menentukan kondisi di hari Mendatang (Akhirat). Pada suatu hari Khalifah Umar berjalan sendirian, yang akhirnya bertemu dg seorang anak penggembala domba. Wahai Penggembala, berapa jumlah dombamu. Aku tidak punya, aku bekerja untuk pemiliknya. Ya, berapa jumlah domba yang kamu gembalakan ? Aku tidak tahu, pemiliknyapun tak pernah menghitung. Kalau begitu, boleh aku membeli satu ekor. Bilang saja pada pemiliknya bahwa satu dombanya dimakan srigala. Apa jawab sang Penggembala , faina Allah ? (lantas dimana Allah ?). Terperanjat amirul mukminiin mendapat jawaban yang tak terduga tsb. Kisah ini menjadi bukti adanya perubahan mendasar dari watak masyarakat jahiliah ke masyarakat rabbaniah. Masyarakat yang berserah diri pada Allah. Alangkah indahnya kehidupan ini jika masing-masing pribadi kita selalu merasakan dikontrol Allah. Karena dengan demikian senantiasa akan berupaya melaksanakan kebaikan, dan menjauhi perbuatan yang menjurus pada kerusakan bahkan mencegah orang lain berbuat rusak. Sidang Jum'at yang berbahagia, Marilah kita sekali lagi merenungkan firman-firman Allah, kita hayati, kita laksanakan dalam kehidupan diri kita masing-masing, kita ajarkan pada keluarga, sahabat, tetangga dan kaum muslimin. Bukankah Allah berfirman dalam Surat Al Ashr Demi Masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh dan nasehat-menasehati supaya mentaati kebenaran dan menasehati supaya menetapi keshabaran. Wassalamu'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh Muaz Junaidi <[EMAIL PROTECTED]> ______________________________________________________________________ To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED] To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED] PEMILU 7 Juni 1999: Pilih MASA DEPAN BARU bagi Indonesia!
