Bung Raja, saya melihat perbedaan yang cukup mendasar materi debat Capres di Amrik dan disini, dan sama sekali nggak comparable. Yang disini nggak beda dengan talk show. Maaf. Belum lagi bahwa utamanya dorongan sistim distrik-lah yang membuat congressmen disana pro aktif nampang dimana-mana. Itupun oleh kalangan kami (across the river) masih dicibir : that is politician's business. Marilah kita lihat dengan dingin, interest dari para peserta debat "Capres kita" itu, dan penyelenggaranya. Sama sekali belum dapat dikatakan melakukan pendidikan politik. Masih pada tingkat aktualisasi diri, mencari rasa hormat dengan harapan eksistensinya diperhitungkan.Nampaknya bagi Megawati ini sesuatu yang sudah lewat. Pendidikan politik yang dilakukan Mega sudah pada tahap implementasi, bukan teori. Misalnya : secara konsisten menempuh jalur hukum untuk peristiwa 27 Juli; secara konsisten melakukan konsolidasi ketika dipinggirkan Suryadi (bukan bikin keributan); melakukan beberapa test case kepemimpinan, misalnya dengan komando bikin posko atas biaya swadaya, dan dituruti pendukungnya; kampanye atas biaya swadana pendukungnya, itupun berlangsung dengan penuh gairah; komando anti kekerasan (yang tadinya pendukung PDI dikenal brutal sekarang tampil simpatik); tidak overreact ketika MUI meluncurkan rudal fatwanya pada hari tenang, dan sebagainya. Politik bukan pameran konsep atau kepiawaian bicara, melainkan kenegarawanan. Ukurannya pada akseptasi rakyat dan masyarakat International. Karena itu Asiaweek menempatkan posisinya hampir 10 tingkat diatas mas Amin Rais. Beda Mega dengan tokoh lainnya, Mega pandai mengambil hati rakyat, sementara yang lain pandai menunjukkan kepada rakyat bahwa dirinya pintar. Mega (dengan segala "kebodohannya") berhasil getting things done through the efforts of other people. Being among the people. And position deeply in the heart of the people. While the other is still searching how. No argue that we should use different yardstick for those. Tentang kemenangan pemilu sebagai tujuan, untuk jangka pendek jelas harus dong. Kalau nggak menang pemilu mana mungkin dapat mandat ngurus negara. Bohong jugalah kalau ada partai ikut pemilu nggak bertujuan menang. Tetapi bagaimana menggunakan kemenangan itu nanti tentulah masalah lain. Kalau digunakan seperti Golkar dulu, ya kita sikat saja rame-rame. Siapapun dia. Apapun, ini hanya sebuah persepsi, namun saya berusaha keras untuk mempertahankan sebagai potret. Bukan pembelaan, dukungan atau sejenisnya. Adalah hak Anda untuk mempunyai persepsi yang berbeda. Itu sah-sah saja. Salam -- On Sun, 6 Jun 1999 19:41:50 Raja Komkom S. wrote: >Bung Amin, >Memang tidak ada persyaratan secara konstitusional, tapi kan yang >diharapakan dari figur seorang Mega itu adalah : konsekuensinya terhadap >reformasi, mana tanggung jawabnya terhadap pendidikan politik bangsa ini. >Tarok -lah dia sibuk dengan urusan intern, bagaimana dengan tokoh-2x yang >lain seperti Amin R, Yusril, Sri BP, Didin H, dsb. Apakah mereka itu >bukanlah figur-2x yang sibuk. Sekali lagi kita harus menyadari apa yang >dibutuhkan bangsa ini adalah kejujuran, kejujuran dan kejujuran. Kita >harus menghilangkan citra selama ini bahwa politik itu adalah kotor. >politik itu bukan lah dosa. > >Nah, >Kalau saya nggak salah di negara sekelas Amerika/Inggris itupun bukan lah >keharusan dari MPR -ny mereka. Tapi toh mereka secara sadar mau melakukan >debat seperti itu. > >Di sini saya jadi curiga jangan-jangan Ibu Mega(maaf :PDIP) ini sebenarnya >menganggap bahwa kemenangan adalah tujuan( dan bukannya wahana) untuk >membentuk Indonesia Baru yang kita cita-citakan bersama. > >Semoga tidak. > >On Sat, 5 Jun 1999, Amin Riza wrote: > >> Bung Raja, pernahkah Anda pertimbangkan bahwa kemungkinan tidak hadirnya Mega dalam >debat "Capres" itu karena tidak ada keharusan untuk itu? >> Debat "Capres" boleh dipandang sebagai kesempatan atau fasilitas untuk >mengaktualisasi diri, sehingga mungkin saja Mega memilih metoda lain untuk >aktualisasi dirinya tanpa melalui debat "Capres". >> Kalau itu diselenggarakan MPR dan merupakan persyaratan bagi para kandidat resmi >Presiden, mungkin akan lain kejadiannya. >> >> Memang ada risiko untuk mengambil keputusan tidak populer bagi seorang yang >job-list-nya padat.Nama risiko itu adalah : trade off. Atau :opportunity cost. >> >> Bisa saja kegiatan itu bagi Mega masuk kategori urgent but not important atau >sebaliknya, sehingga dia memilih mengalokasikan energinya hanya untuk top priority >:urgent and important. >> Dengan risiko dianggap takut. Atau minimal kurang menghormati penyelenggara. >> >> -- >> >> On Sat, 5 Jun 1999 15:48:45 Raja Komkom S. wrote: >> >> Melihat cara Anda mengkritik capres Mega, yah begitulah gambaran kapasitas >> >> politikus kita yang membuat PDIP bersyukur bahwa Mega nggak ikut debat >> >> capres yang lalu karena isinya nggak bermutu seperti yang dikatakan Kwik, >> >> koq debat capres isinya kritik merokok, kemampuan bahasa, dll. >> >> >> >> salam, >> >> tedy the kion >> >> >> > > >______________________________________________________________________ >To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED] >To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED] > >PEMILU 7 Juni 1999: Pilih MASA DEPAN BARU bagi Indonesia! > > > > > > > Get your FREE Email at http://mailcity.lycos.com Get your PERSONALIZED START PAGE at http://my.lycos.com ______________________________________________________________________ To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED] To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED] PEMILU 7 Juni 1999: Pilih MASA DEPAN BARU bagi Indonesia!
