Benar sekali Bung! Persepsi Bung tidak bias.
Eep dalam 2 jam saja TVRI mengatakan bahwa demokrasi kita baru mulai
masuk semester pertama. Jadi?
-----Original Message-----
From: Amin Riza <[EMAIL PROTECTED]>
Bung Raja, saya melihat perbedaan yang cukup mendasar materi debat
Capres di Amrik dan disini, dan sama sekali nggak comparable. Yang
disini nggak beda dengan talk show. Maaf. Belum lagi bahwa utamanya
dorongan sistim distrik-lah yang membuat congressmen disana pro aktif
nampang dimana-mana. Itupun oleh kalangan kami (across the river)
masih dicibir : that is politician's business.
Marilah kita lihat dengan dingin, interest dari para peserta debat
"Capres kita" itu, dan penyelenggaranya. Sama sekali belum dapat
dikatakan melakukan pendidikan politik. Masih pada tingkat aktualisasi
diri, mencari rasa hormat dengan harapan eksistensinya
diperhitungkan.Nampaknya bagi Megawati ini sesuatu yang sudah lewat.
Pendidikan politik yang dilakukan Mega sudah pada tahap implementasi,
bukan teori. Misalnya : secara konsisten menempuh jalur hukum untuk
peristiwa 27 Juli; secara konsisten melakukan konsolidasi ketika
dipinggirkan Suryadi (bukan bikin keributan); melakukan beberapa test
case kepemimpinan, misalnya dengan komando bikin posko atas biaya
swadaya, dan dituruti pendukungnya; kampanye atas biaya swadana
pendukungnya, itupun berlangsung dengan penuh gairah; komando anti
kekerasan (yang tadinya pendukung PDI dikenal brutal sekarang tampil
simpatik); tidak overreact ketika MUI meluncurkan rudal fatwanya pada
hari tenang, dan sebagainya.
Politik bukan pameran konsep atau kepiawaian bicara, melainkan
kenegarawanan. Ukurannya pada akseptasi rakyat dan masyarakat
International. Karena itu Asiaweek menempatkan posisinya hampir 10
tingkat diatas mas Amin Rais.
Beda Mega dengan tokoh lainnya, Mega pandai mengambil hati rakyat,
sementara yang lain pandai menunjukkan kepada rakyat bahwa dirinya
pintar.
Mega (dengan segala "kebodohannya") berhasil getting things done
through the efforts of other people. Being among the people. And
position deeply in the heart of the people. While the other is still
searching how.
No argue that we should use different yardstick for those.
Tentang kemenangan pemilu sebagai tujuan, untuk jangka pendek jelas
harus dong. Kalau nggak menang pemilu mana mungkin dapat mandat ngurus
negara. Bohong jugalah kalau ada partai ikut pemilu nggak bertujuan
menang. Tetapi bagaimana menggunakan kemenangan itu nanti tentulah
masalah lain. Kalau digunakan seperti Golkar dulu, ya kita sikat saja
rame-rame. Siapapun dia.
Apapun, ini hanya sebuah persepsi, namun saya berusaha keras untuk
mempertahankan sebagai potret. Bukan pembelaan, dukungan atau
sejenisnya.
Adalah hak Anda untuk mempunyai persepsi yang berbeda. Itu sah-sah
saja.
Salam
--
______________________________________________________________________
To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
PEMILU 7 Juni 1999: Pilih MASA DEPAN BARU bagi Indonesia!