Please, take this scientificly

Sekarang, anggap saya berkata ini bukan karena saya beragama Kristen.

Sejujurnya saya berkata, kalau memang dengan negara agama (Islam) kita bisa
mensejahterakan SELURUH rakyat, saya akan pilih choice untuk negara Islam.

Seorang kawan saya yang taat agama Islam, mahasiswa IAIN pernah bercerita
tentang Piagam Madinah yang terkenal itu. Sayangnya, konsep itu hanya
bertahan ketika Rasul masih memimpin. Ketika kepemimpinan beralih, yang
terjadi sama saja: pembunuhan, rebut-rebutan jabatan dll. Jadi, kuncinya:
ternyata piagam Madinah yang indah itu pun hanya berhasil di tangan Rasul.
Kita tetap harus membuat suatu bentuk negara yang kontekstual dengan
Indonesia. Tidak harus meniru barat dan tidak perlu meniru konsep negara di
Arab Saudi. Esensi dari bernegara adalah memakmurkan rakyat. Kita pegang
saja itu, kita cari kontekstualisasinya dalam budaya dan kita bangun
Indonesia yang Indonesia.

Sedangkan esensi dari beragama adalah berbuat baik kepada semua orang. Mari
kita lakukan esensi itu tanpa harus dibatasi identitas, ritualisme belaka
dan fanatisme sempit. Anda tetap Islam, saya tetap Kristen dan orang lain
tetap pada agamanya masing-masing. Setelah itu, mari kita saling
berlomba-lomba untuk berbuat baik.

Martin Manurung <http://www.cabi.net.id/users/martin>
____________________________________________
Dukunglah Kampanye AGAMA untuk PERDAMAIAN!
Forum Mahasiswa untuk Kerukunan Umat Beragama (FORMA-KUB)
Kunjungi http://come.to/forma-kub  E-mail: [EMAIL PROTECTED]


-----Original Message-----
From: Eva Kurnia D <[EMAIL PROTECTED]>
To: '[EMAIL PROTECTED]' <[EMAIL PROTECTED]>
Date: 11 Juni 1999 12:08
Subject: RE: [Kuli Tinta] Caleg PDI-P : LABEL HALAL ( u/ Djoe)


[Djoe]

Sekularisme, yang muncul dalam masa Renaisans, adalah jawaban
terhadap
kegagalan negara-negara agama yang telah menjerumuskan Eropa ke
dalam Zaman
Gelap selama 500 tahun sebelumnya. Dalam zaman itu, pengejaran
dukun santet
adalah hiburan rakyat, dan hukuman mati adalah ganjaran yang
pantas bagi
orang yang menyimpang dari ajaran agama. Eropa Pra-Renaisans
ditandai dengan
perang yang tidak berkeputusan, korupsi, pelecehan hukum, obsesi
dengan
mitos-mitos aneh dan pembungkaman nalar yang hampir tak
tertembuskan. Selama
seribu tahun prestasi Eropa di bidang sains dan eksplorasi
hampir tidak ada.
Sepanjang Zaman Pertengahan, sebagian terbesar energi dan daya
intelektual
manusia dialihkan kepada tetek-bengek masalah doktrin agama dan
perang-perang "salib".

[Eva]
Agama apakah yang berkembang paling pesat di eropa pada waktu
itu, yang telah menjerumuskan eropa ke jaman gelap selama 500 tahun,
yang telah gagal membina masyarakat, dan menyumbat daya nalar dan
kreativitas, yang pada gilirannya melahirkan Renaissance ? Silakan jawab
sendiri.
Sebaliknya, ketika Islam mencapai puncak kejayaannya, ketika
Nabi Muhammad SAW berkuasa, kegelapan seperti yang dialami bangsa eropa
pada waktu itu tidak terjadi. Yang terjadi justru kemakmuran dan
kejayaan, sehingga Islam mencapai jaman keemasannya. Pada masa itu juga
muncul ilmuwan-limuwan Islam yang sangat terkenal dan hasil karyanya
menjadi pedoman bagi ilmuwan-ilmuwan sesudahnya. Justru ketika umat
Islam secara perlahan-lahan mulai meninggalkan agamanya, kegelapan dan
kebodohan datang berangsur-angsur. Sampai kini.
Mohon itu jangan dilupakan.





______________________________________________________________________
To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!






Kirim email ke