Aha, muncul lagi apologi-apologi demi PDI Perjuangan !

Bagaimana kalau kepentingan PDI P dan Golkar itu sama.
Lantas mereka berkoalisi !

Anda mau komentar apa ?

Jopie J Bambang wrote:
> 
> Komkom menulis:
> Sulit bagi saya untuk mendukung Partai anti-reformasi dan partai status-
> quo, Maaf kalau boleh tunjuk hidung langsung saya berani katakan bahwa
> PDIP dan PKB itu adalah partai Anti-Reformasi, ini setelah melihat agenda
> serta program-2x dalam kampanye mereka. Sedangkan Golkar jelas-jelas
> partai berlumuran dosa dan jelas Status-quo.
> 
> Tanggapan:
> Saya memandang sikap PDI-P yang menolak perubahan UUD 1945 bersifat
> sementara karena dalam berbuat kita harus memakai skala prioritas yang
> jelas. Sampaikan kepada rakyat banyak apa yang menjadi skala prioritas
> tuntutan mereka, anda akan dapatkan jawabannya. Jangan terlalu
> menggeneralisasi pandangan anda & rekan-rekan anda sebagai aspirasi rakyat.
> 
> Sikap low profile dan tidak ikut-ikutan terlalu banyak sumbar janji saat
> kampanye justru menambah nilai lebih PDI-P & nampaknya itulah yang lebih
> penting di hati rakyat.
> 
> Soal negara kesatuan yang juga menjadi cap anti reformis apakah menjamin
> bahwa negara federal akan menjanjikan masa depan yang lebih baik? Saya yakin
> tidak.
> Yang hakiki adalah pelaksanaannya - percuma dibentuk negara jenis apapun
> jika dalam pelaksanaannya dilakukan orang-orang yang rajin memperkaya diri
> sendiri.
> Partai yang melontarkan ide negara federal bagi saya bersifat sebagai
> masukan & belum sampai ke aspek pelaksanaannya - sama saja dengan
> jargon-jargon politik ala orde baru. Sekedar janji. Hal ini mungkin saja
> menarik bagi segelintir orang yang menganggap ide macam ini begitu 'wah'.
> Apakah sudah ada semacam kajian & survey dari mereka-mereka yang melontarkan
> ide ini lewat litbang mereka masing-masing? tolong saya diberitahu...
> 
> Jika nantinya memang rakyat & bukan segelintir orang yang merasa pandai &
> mencatutkan diri sebagai pembawa aspirasi rakyat meminta perubahan UUD 1945
> & bentuk negara kesatuan - sudah jelas PDI-P harus tunduk akan permintaan
> itu.
> Jika tidak?
> Saya akan bersama dengan yang lain menurunkan PDI-P karena mereka tidak lagi
> demokratis &  tidak mampu membawa aspirasi rakyat.
> Sikap tegas macam ini jelas dibutuhkan oleh rakyat daripada sekedar
> melontarkan jargon-jargon yang nantinya terkesan asal janji - ala orde baru
> (lagi!).
> Jadi siapa yang reformis & siapa yang anti reformis?
> 
> Komkom menulis:
> Argument tentang pilihan rakyat itu kan tidak menunjukkan bahwa
> partai-partai seperti PAN, PK, atau PUDI itu menjadi milik nya kaum
> terpelajar dan partai-partai seperti PDIP dan PKB sebagian besar pilihan
> para petani miskin, kuli-kuli, pedagang kecil, dst.
> Tapi lihatlah itu sebagai kritisme dalam menilai sesuatu.
> Saya berani taruhan bahwa para kaum terpelajar ini memilih PAN/PK/PUDI/PBB
> karena program-program dan visi dari para kontestan ini.
> 
> Dan saya pun berani taruhan bahwa kelas menengah ke bawah itu akan memilih
> PDIP dengan harapan harga-harga akan turun, kondisi akan kembali normal
> tanpa ada lagi keributan, demonstrasi, dsb. Singkatnya mereka sebenarnya
> belum mengerti apa itu reformasi.
> 
> Tanggapan:
> Terima kasih atas kritik anda.
> Taruhan anda bahwa kaum terpelajar akan memilih PAN dll hanyalah sekedar
> dilihat dari kacamata anda semata (posting dari netters lain dalam forum ini
> memberikan info bahwa PAN juga kalah di sentra-sentra kaum terpelajar -
> sesuai dengan istilah anda) & tidak benar-benar mewakili kaum terpelajar.
> Itulah sebabnya jangan terlalu mudah menggolongkan bahwa orang-orang goblok
> akan memilih PDI-P dll. Jika menurut kacamata anda, saya & banyak yang lain
> yang kebetulan diberi kesempatan mengenyam pendidikan yang lebih tinggi
> memilih partai-partai yang anda sebutkan - sayangnya tidak.
> 
> Harapan harga-harga barang turun dll itu realistis sekali - pendukung PAN,
> PK, PBB dll-pun pasti menginginkan hal yang sama. Ini jelas harapan seluruh
> rakyat Indonesia bukan cuma harapan pendukung PDI-P atau PKB - jadi taruhan
> anda tidak jelas maknanya.
> Jika nilai rupiah sontak menguat dengan kemenangan (sementara) PDI-P & PKB
> ini adalah respons positif pasar yang tidak akan bisa di rekayasa oleh
> penguasa selain karena secara umum pemilu berjalan relatif aman.
> 
> Komkom menulis::
> Any Way,
> Harus diakui pula bahwa masyarakat Indonesia ini masih berada dalam
> Pra Renaisance dalam determinasi dan konteks Kultur Eropa atau zaman
> Jahiliyah("Kegelapan") dalam determinasi Islam.
> Jadi jangan heran kalau figur pemimpin masih merupakan hal yang dominan
> dalam memilih partai atau presiden, dan hal itu lah yang dilakukan oleh
> para calon-calon presiden Amien Rais, Megawati, B.J Habibie, dst.
> Memang ironis. Nah, tugas reformasi berikutnya adalah untuk mengubah cara
> berfikir seperti ini, dan waktu masih panjang BUNG!.
> 
> Tanggapan:
> Setuju sekali.
> Hal ini bukan cuma terjadi pada pemilih PDI-P atau PKB namun juga menimpa
> PAN dll yang seperti anda tulis dipilih kaum terpelajar. karena masih taraf
> inilah rakyat kita - terimalah dengan lapang dada.
> Jalan masih jauh seperti ada yang menulis bahwa kita masih semester awal -
> baru ujian semester selesai saja sudah banyak yang kebakaran jenggot.
> Saya justru salut bahwa rakyat Indonesia makin pandai saja untuk tidak mudah
> dibodohi (lagi!) dengan jargon-jargon khas orde baru yang ditiup-tiupkan
> orang-orang yang mengaku reformis seperti isu agama & isu-isu lainnya yang
> jelas-jelas dampaknya akan membawa Indonesia ke penderitaan yang lain.
> 
> Jopie
> 
> ______________________________________________________________________
> To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
> To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
> 
> Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!

______________________________________________________________________
To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!






Kirim email ke