Hingga sore ini, data mengenai kasus BB semakin terkuak. Itu jelas bukan
cessie dan Menkeu sudah mengatakan alau dia kebobolan. Novianto pasti akan
dikorbankan dengan konsensi tertentu. Itulah problem solving untuk
menyelamatkan muka model Orba.
Ditambah lagi dengan kasus KPU yang mau bermain dengan UG, tidak ada lagi
kata kompromi kalau reformasi itu benar-benar ingin diwujudkan.
Negara ini telah dipakai bancakan oleh mereka yang hanya mementingkan
dirinya sendiri, kelompok, dan keluarganya diatas kepentingan bangsa dan
negara.
Pembersihan itu mulai dari lembaga perwakilan rakyat hingga pemerintahan,
bila tidak lihatlah nasib KPU itu.
Kulit yang baru hendaknya tidak dijahit dengan kulit yang lama.
----- Original Message -----
From: Franca A.S. Wenas <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: 05 August 1999 13:19
Subject: [Kuli Tinta] Emangnya Gue Pikirin : Rusaknya moral aparat ?
Rekan netters,
Mungkin kah statement itu terlalu wah !!. Boleh jadi benar, tapi itulah
kondisinya.
Kasus Bank Bali (BB) melibatkan PT. EGP dalam transaksi cassie sebagai
pelaksananya, juga melibatkan BPPN, BI & Menkeu.
Ada banyak kejanggalan yang dilakukan aparat BPPN, BI & Menkeu, disamping
EGP :
* Menjadi pertanyaan kita mengapa BB menjadi pilihan awal untuk pencairan
tagihan interbank-nya BB kepada BDNI, yang sudah diluidasi itu. Masak sih
negara dalam keadaan susah banget begini mau menyalurkan dana Rp. 904 M ke
BB, padahal kedua bank sudah dibawah BPPN. Jelas ini menisyaratkan adanya
konflik kepentingan. Dan masih ada bank-bank lain yang menunggu disantap
(uaya ?). Yah.....aparat !!.
* Mengapa untuk penagihan kedua bank iitu masih memerlukan calo spt EGP
itu. Jelas, sesuai kata Gubernur BI, transaksi spt ini tidak memerlukan
calo. Jadi penggunaan calo EGP ini adalah illegal, setidaknya sangat tidak
wajar.
Wong sama-sama dibawah BPPN. Yah........aparat !!.
* Apabenar kata Menkeu bahwa dia tidak tahu masalah transaksi cassie itu,
padahal dia harus tahu kemana dana sebesar itu dikirim.?. Jadi jelas ada
indikasi kuat bahwa Menkeu itu memaksakan unttuk membayar tagihan BB oleh
EGP. Itu dana yang ttidak sedikit, jadi jelas bohong itu. Yah...aparat !!.
* Bayangkan EGP yang relatif perusahaan swasta ingusan (tidak jelas jumlah
karyawannya, tidak dikenal luas di lokal) itu bisa mendapatkan order itu
(bahkan mencapai Rp. 3 Trilyun ....beh !). Apalagi fee yang diterima untuk
itu sudah diambil . 50 %-nya. Bisnis kayak apa nih. Apa ini karena
didalamnya ada oknum Golkar (wakil bandahara) Penghasilan sekali sabet dalam
kurun waktu 18 bulan sebesar Rp. 550.000.000.000,00 ......rampok ini ?.
* Hai aparat, anda pasti belum keparat (mudah-mudahan). Janganlah memancing
diair keruh untuk kepentingan mu/kelompok . Sudah cukup kami/rakyat yang
mempunyai kedaulatan ini dibodohi, diinjak & dirampok untuk 32 tahun. Sudah
cukup kami melarat. Janganlah engkau menguji batas kesabaran ini.
Rasanya lebih patut saya puji aparat negara India, yang Menteri
perhubungannya mundur akibat insiden kereta api baru-baru ini.
Contohlah Vietnam yang menghukum mati para koruptornya. Jangan maling ayam
saja yang berani anda kejar.
Beginikah reformasi, beginikah Paradigma Baru. Itu mah cuma slogaaaaaan beh
!!.
Siap-siap .......ada manufer penyelamatannya ?. Trim's, Fw.
______________________________________________________________________
If you want to subscribe or unsubscribe, send an empty email;
To subscribe: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!