...

Kita memang membutuhkan rekan diskusi seperti 
bung Jantan ini.....Saya setuju banget.
Dan ini baik untuk penyeimbangan berita
serta emosi kita didalam menelaah suatu 
permasalahan.

Yang kita persoalkan sejak dari awal kan wujud 
dari kekecewaan 'patah-nya' Kelompok Ciganjur
dan atau Komunike Paso ditengah jalan, yang
tadinya diyakini sebagai kelompok Anti Status-Quo.

Kecuali memang anda-anda pada yakin bahwa Kelompok
yang menamakan dirinya "Poros Tengah" dapat 
dikategorikan sebagai kelompok Anti Status-Quo juga.

Persoalannya, apakah begitu adanya ?
Saya sampai saat ini belum begitu yakin.
Dan ini adalah masalah pribadi saya kan ?

Nanti waktu yang akan berbicara, percayalah....:)

Salam,
bRidWaN


At 07:32 AM 8/28/99 +0700, c= wrote:
>Benar sekali mas Jantan.
>
>Memang seorang individu mempunyai hak untuk menilai orang 
>lain, termasuk Mas jantan yang menilai Bapak Kwik sebagi 
>satu-satunya yang waras dan intelek di PDIP.
>
>Saya semakin menyukai tulisan Mas Jantan karena saya 
>banyak belajar.


>--- Jantan P <[EMAIL PROTECTED]> wrote :
>
>Kawan Ahmad yang budiman,
>Jangan heran jika mereka menyerang AR hanya gara-gara AR 
>tidak mau mendukung PDI-P yang banyak preman bergajulnya.
>Di samping itu, pendukung PDI-P umumnya picik dan malas 
>menggunakan nalar kayak Megawati.
>
>Dik  Ahmad, diskusi dengan mereka percuma. Lebih baik telepon 
>langsung Bapak Kwik, satu-satunya yang waras dan intelek 
>di situ.


>--- �� <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>>
>> Bung Ahmad dan neters
>>
>> Yang memiliki sayap bukan hanya burung, kalimat juga
>> bersayap.
>>
>> Saya kuang sependapat dengan istilah saling serang
>> itu. Kesannya adalah
>> kekerasan. Perbedaaan pendapat saya rasa wajar saja
>> dalam upaya untuk
>> mencari kebenaran dan bentuk demokrasi. Jadi, satu
>> pihak mempunyai opini
>> atau argumentasi terhadap sebuah fakta dan pihak
>> lain mempunyai opini atau
>> argumentasi yang berbeda.
>>
>> Saat ini Bung Ahmad mempunyai argumentasi mengenai
>> sebuah fakta. Bolehkan
>> kan kalau ada orang lain memiliki argumentasi lain
>> yang berbeda?
>>
>> Menurut Bung Ahmad, apakah Diponegoro akan melawan
>> Belanda seandainya jalur
>> kereta api tidak dibangun melewati depan rumahnya di
>> Tegalrejo? Seandainya
>> Kartini tidak memulai maka apakah kita tidak akan
>> pernah mempunyai Miranda
>> Gultom, Sri Mulyani, Mari Pangestu, Dita Sari,
>> Marsinah, Sri Adiningsih,
>> Wardah Hafidz, dll?
>>
>> ��
>> (pemerhati berita untuk mencari kebenaran)

>>----- Original Message -----
>>From: Ahmad Dimpu <[EMAIL PROTECTED]>
>>Sent: 27 August 1999 09:45
>>
>> Boleh Ikutan ya, Tapi saya bukan wartawan lho...
>> Hanya pembaca setia aja.
>>
>> Menarik sekali bahasan tentang situasi politik
>> belakangan ini,
>> sampai-sampai di milis ini juga saling serang.
>>
>> Kenapa sih harus menyalahkan AR? Kenapa tidak
>> menyalahkan sejarah
>> bangsa ini yang berlumuran dengan dosa dan
>> pengkhiantan. Coba lihat apa
>> yang telah dilakukan oleh Bapak Sukarno dan Suharto
>> yang telah
>> mengkhianati Islam. Apakah masih perlu dipetanyakan
>> seberapa banyak
>> dosa yang telah diperbuat mereka pada umat Islam.
>>
>> AR?
>> Momentum Reformasi telah membawa beliau pada satu
>> misi untuk membangun
>> Indonesia baru yang tentunya menurut versi beliau
>> mestilah relijius,
>> karena latar belakang beliau yang sangat kuat
>> pendidikan agamanya,
>> walaupun belakangan beliau mengusung bendera
>> Nasionalis. Sama dengan
>> bendera yang diusung Agus Salim? Mohammad Roem?
>>
>> Jadi, kenapa anda-anda sekalian begitu kesal dengan
>> langkah-langkah
>> bapak reformasi kita itu, hanya karena dia tidak
>> mendukung PDI
>> Perjuangan?
>> Apakah mungkin beliau mendukung kelompok sekuler
>> yang secara history
>> adalah merupakan lawan beliau?
>>
>> Coba perhatikan!
>> Kalau misalahnya bapak AR mau mendukung Habibie,
>> kenapa tidak
>> dilakukannya dari dahulu? Kenapa kelompok sekuler
>> sangat antipati dan
>> apriori dengan para pakar di ICMI? Apakah anda
>> sekalian merasa bahwa
>> apa yang ada di ICMI itu adalah sekumpulan penjahat
>> Intelektual?
>>
>> Pernahkah anda-anda berfikir bagaimana bapak AR itu
>> bersusah payah
>> membangun kekuatan reformasi melaui poros tengah,
>> hanya untuk
>> menghindari Kelompok PDIP dan Kelompok Golkar, yang
>> secara historical
>> telah "menyakiti"(melalui Sukarno/Nasionalis-PNI/
>> dan
>> Suharto/Nasionalis-Golkar umat Islam yang merupakan
>> "massa" dari Poros
>> tengah. Itupun karena trend "massa" poros tengah ini
>> agaknya tidak
>> menyukai PDIP dan Golkar.
>>
>> Sikap politik beliau kan jelas, tidak mendukung Mega
>> dan Habibie,
>> terbukti dari berdirinya Poros Tengah, jadi kenapa
>> harus membuat
>> dugaan-dugaan kosong yang tak berarti?
>>
>> AD


>>--- bRidWaN <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>>
>> > Wah...jangan begitu kawan...:)
>> > Siapa tahu kasus ini memang ada benar-nya.
>> >
>> > Kita himbau saja kepada DPP PDI-P, agar
>> > segera membuka permasalahannya secara pro-aktif.
>> >
>> > Tidak ada gunanya menutup 'bangkai', pasti
>> > akan tercium pada suatu saat.
>> >
>> >
>> > Salam,
>> > bRidWaN
 

______________________________________________________________________
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
dengan mengirim e-mail kosong ke alamat;
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!










Kirim email ke