Ha ha haa, jadi asyik nih diskusinya.
Nggak apa apa ya, diterusin.

Bung Ahmad Dimpu,
Saya belum lupa bahwa yang Anda masalahkan pada awalnya bukan netralitasnya, 
tetapi keahliannya.
Kalau Anda lupa, saya copykan:
>
>Apakah pak Amien ahli dalam bidang itu?
>

Disini dipertanyakan keahlian, dan seluruh jawaban saya menjelaskan 
pandangan saya bahwa beliau ahli.

Ternyata lalu menulis:
>
>Bisakah beliau netral dengan posisi tawar yang seperti ini?
>
Dan  Anda juga menulis:
>
>Jelas heran, karena pak Amien tidak akan bisa netral.
>

Lho, kok jadi kenetralan. Kalau ini masalahnya, mengapa nggak dari awal? Apa 
sesungguhnya yang ada dalam pikiran Anda saat itu? Keahliannya atau 
kenetralannya? Saya hanya menjawab keraguan Anda tentang keahliannya, bukan 
kenetralannya.

Tentang keahliannya, saya berpendapat bahwa Amien Rais yang paling pantas, 
karena sebagai  Ketua Dewan Penasehat CBC, yang sekarang sedang meneliti  
perkeliruan diperbankan. Dan dipercayai banyak pihak, dia yang pertama 
melontarkan �kasus� ini, seingat saya setelah sowan ke Patra Kuningan (rumah 
Habibie). Bahwa dia membantah, OK-lah. Tetapi sekurang kurangnya dia punya 
cukup data, keahlian, dan lebih siap dalam menghadapi kasus ini. Singkatnya 
saya mengharapkan hasil maksimal dari pengungkapannya.

Bahwa karena kedudukannya sebagai Ketum PAN menjadikan ada pihak yang 
menganggap dia tidak netral, OK-lah. Saya juga mendukung ide Anda untuk 
mencari pakar yang netral .  Sungguh saya mendukung.
Seandainya Anda bicara kenetralan ini dari awal, kita tidak perlu beda 
pendapat.

>Hahaha...Apapun dalih anda, mafkan saya bahwa saya sekarang semakin >yakin 
>anda itu sebenarnya cenderung tidak netral juga, dan agak >kurang " 
>jernih".

Saya setuju.  Nobody perfect. Dan saya lebih senang kalau posting kita semua 
lebih menunjukkan kenetralan dan kejernihan. Kita kan bukan partisan, dan 
nggak ada point membela sesuatu pihak. Tetapi karena keputusan mereka akan 
berdampak pada kehidupan kita mendatang, kita berkepentingan untuk 
mencermatinya. Pencermatan itu dapat saja mengesankan pemihakan. Tetapi kan 
tidak otomatis kalau kita mendukung atau menentang suatu sikap partai atau 
seorang partisan, berarti juga mendukung atau menentang partainya. Nggak 
otomatis begitu.
>
>Lah...Pola fikir yang mana?Hahaha...Jabatan politis itu kan tidak >ada 
>sekolahnya�.
>
Pola pikir bahwa keahlian seseorang ditentukan latar belakang pendidikannya. 
Misalnya menilai Amien Rais nggak ahli menjadi auditor karena sekolahnya 
�cuma�  politik.

Pola pikir itu sangat berpengaruh luas dimasyarakat.  Walaupun Anda bilang 
jabatan politis tidak ada sekolahnya, toch banyak orang meragukan kemampuan 
Megawati karena sekolahnya. Padahal kalau mau sekedar debat kusir dengan 
Amien Rais misalnya, Mega bisa menjawab, kalau untuk mendapat 7% suara saya 
nggak perlu sampai S3, karena dengan SMA saja sudah dapat 30% lebih. Canda 
nih....

Kalau jabatan politis Anda bilang nggak ada sekolahnya, yang sekolah politik 
dan STPDN, IIP dsb suruh jadi apa dong? Tapi kalau sekolah untuk direktur 
Bank dan artis ada kaan? Dan saya pikir nggak pantaslah menganggap orang 
nggak ahli sesuatu hanya karena latar belakang pendidikannya. Contohnya 
sangat banyak didunia ini. Bidang politis, strategis maupun teknis.
>
>Yang serampangan bicara itu sebenarnya siapa sih?
>

Serampangan bicara itu  misalnya meragukan keahlian seseorang hanya karena 
latar belakang sekolahnya. Apalagi kalau mula mula meragukan keahliannya, 
lalu setelah dijawab, ganti memasalahkan kenetralannya. Itu serampangan 
namanya. Karena kalau yang ini saya jawab, mungkin ganti lagi dalihnya. 
Begitu, roger?

>Arogan sekali! Kenapa merasa lebih ahli dan lebih hebat dari yang >lain?

Saya arogan dan merasa lebih hebat dari yang lain? Sama sekali tidak. Saya 
fokus pada jalannya diskusi.
Bahkan saya juga tidak mengatakan Anda arogan  dan merasa lebih hebat untuk 
kalimat-kalimat dibawah ini:

>Ha?Sadarkah anda dengan mengatakan bahwa kalau perlu Amien Rais jadi ketua 
>auditornya?
(Artinya Anda menganggap saya tidak sadar!)
>Apakah pak Amien ahli dalam bidang itu?
(Artinya Anda menganggap pak Amien tidak ahli!)
>Maaf, sekali lagi anda telah menggunkanan kacamata yang salah
(Artinya Anda menganggap hanya Anda yang menggunakan kacamata yang benar!)
>Hahaha...sadar bung Yap!
(Artinya Anda menganggap saya tidak sadar. Pingsan kali?)
>....anda itu sebenarnya cenderung tidak netral juga, dan agak kurang " 
>jernih".
(Artinya Anda merasa lebih netral dan lebih jernih)
>Hahaha...ini kan sama dengan "Lemparan tahi di balas lemparan 
>batu",premanisme juga, atau penodongan.
(Artinya Anda menganggap saya preman, penodong dan Anda lebih baik/hebat 
karena bukan preman/penodong walaupun Anda enteng saja menggunakan kata 
�tahi� padahal masih banyak kata lain  yang bisa mewakili!)
>...bukan cuma penempatansecara emosional.
(Artinya saya emosional dan Anda lebih bisa mengendalikan emosi)
>..mana profesionalisme anda dalam hal ini.
(Artinya Anda merasa lebih profesional daripada saya)

Jadi siapa yang arogan dan merasa lebih hebat dari yang lain?
Tapi bagi saya semua itu sah sah saja dan tak lebih bertujuan agar maksud 
Anda saya pahami. You are what you write.

>Kenapa merasa lebih ahli dan lebih hebat dari yang lain?

Tidak ada satu kalimat sayapun yang mendukung pernyataan Anda ini. Sementara 
  saya nggak merasa direndahkan dengan kalimat kalimat Anda diatas, termasuk 
yang ini:

>Sadarlah bung! mana profesionalisme anda dalam hal ini

Artinya Anda mengatakan lebih profesional dari saya. Atau menganggap saya 
tidak profesional.

Bagi saya, nggak penting siapa yang mengatakan, tetapi apa yang ditulisnya. 
Nothing personal.

  (My English is Payah deh...).
Nggak apa apa, dikita English kan foreign language. Kalau dipakai terus lama 
lama juga bagus.

Yap



>From: Ahmad Dimpu <[EMAIL PROTECTED]>
>
>
>Hahaha...
>
>Apapun dalih anda, mafkan saya bahwa saya sekarang semakin yakin anda
>itu sebenarnya cenderung tidak netral juga, dan agak kurang " jernih".
>Sekarang saya mau bertanya sama si bung Yap ini, Bisakah anda
>membedakan seorang Amien Rais sebelum mendirikan PAN dengan Amien
>sekarang yang telah jadi ketua PAN?
>
>Jadi Politics-auditor dalam kasus PDIP?
>Hahaha...sadar bung Yap! Dengan sangat menyesal saya ingin bertanya
>lagi bahwa Layakkah seorang Ketua Umum PAN menjadi koordinator auditor
>bagi PDIP, sekali lagi,
>Layakkah?
>
>Tolong bung Yap membedakan Amein "the politicans" dan Amien "the
>academist".
>
>Bisakah beliau netral dengan posisi tawar yang seperti ini?
>
> > Jadi kenapa harus heran kalau mas Amien Rais menjadi
> > Ketuanya?
>
>Jelas heran, karena pak Amien tidak akan bisa netral. Pertanyaan anda
>ini jelas tidak layak.
>
>Hmm... siapa yang meragukan keahlian Amien Rais, Tapi Mana Netralitas
>itu.
>
>Pilihlah tokoh tang Non-Partai dan Non-Partisan.
>
>Maaf, sekali lagi anda telah menggunkanan kacamata yang salah. He is
>Not The Right Man In The Place.
>
>I Know That...
>
>Lah...
>Pola fikir yang mana?
>
>Hahaha...Jabatan politis itu kan tidak ada sekolahnya, bukan jabatan
>profesional, yang ada hanya tempat belajarnya, yaitu Masyarakat dan
>Rakyat. Siapa saja toh boleh jadi pejabat, asal diterima
>masyarakat/Rakyat.
>
> > Cobalah cari tahu lebih banyak lagi, supaya nggak
> > serampangan bicara.
>
>Yang serampangan bicara itu sebenarnya siapa sih?
>Arogan sekali! Kenapa merasa lebih ahli dan lebih hebat dari yang lain?
>Why did you fell better than others?(My English is Payah deh...).
>
>__________________________________________________
>Do You Yahoo!?
>Bid and sell for free at http://auctions.yahoo.com
>
>
>______________________________________________________________________
>Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
>dengan mengirim e-mail kosong ke alamat;
>Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
>Keluar: [EMAIL PROTECTED]
>
>Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>

______________________________________________________
Get Your Private, Free Email at http://www.hotmail.com

______________________________________________________________________
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
dengan mengirim e-mail kosong ke alamat;
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!










Kirim email ke