Saya punya satu versi yang belum dikonfirmasikan kepada yang bersangkutan.
Seperti diketahui, Profesor Doktor M memang orang "lempeng" dan "sederhana"
(=miskin). Sampai pada awal-awal menjadi menteri, ia tetap saja miskin.
Waktu itu, karena masih merangkap sebagai Rektor Undip, setiap minggu ia
mesti bolak-balik Jakarta - Semarang. Lha, dengan gaji menteri, urusan
bolak-bolak itu terasa berat sekali. Tapi begitulah Profesor Doktor M ini.
Tetap "lempeng", nggak mau pakai fasilitas kantor/jabatan untuk urusan
pribadi, dan nggak nerima uang selain dari gaji menteri dan gaji rektor.
Sampai suatu ketika ia merasa ada yang nggak beres di dalam tubuhnya. Oleh
majikannya, Profesor Ing. B.J. Habibie, Profesor Doktor M diperintahkan
check-up ke Singapura. Weleh, seumur-umur Profesor M nggak pernah
membayangkan bisa periksa kesehatan di luar negeri. Apalagi setelah
diketahui ada yang tidak beres pada jantungnya, hingga, atas persetujuan
sang majikan, dilakukan operasi jantung saat itu juga. Semua biaya
ditanggung Profesor Ing.
Itulah -- konon -- momen penting dalam hidup Profesor Doktor M yang
membangkitkan kesetiaan tak terbatas pada Profesor Ing majikannya. Ia merasa
telah berutang budi sekaligus berutang nyawa kepada sang majikan. Tak
terbayangkan bagaimana hidupnya akan berlanjut -- juga bagaimana nasib
isteri dan anak-anaknya -- seandainya ia tidak punya majikan sebaik dan
sekaya Profesor Ing.
Di luar perkara kesetiaan pada majikannya, konon tidak banyak yang berubah
dari Profesor Doktor M. Ia tetap saja miskin -- nggak mau pakai fasilitas
kantor/jabatan untuk urusan pribadi, dan nggak nerima uang selain dari gaji
menteri -- meski ada juga isu tentang pemberian saham Hotel Mulia, dan
lain-lain.
Ucapan a la tukang becak yang bisa mewakili cerita saya di atas mungkin bisa
dikutip dari Kompas, Jumat lalu: "Dengan demikian sudah jelas, Presiden
tidak terlibat konsep mengonsep surat bantahan itu. Muladi juga nggak!"
Betapa, buat Profesor Doktor yang malang tapi baik hati ini, dua hal paling
penting di dunia ini adalah: (1) dirinya bersih, (2) majikannya juga bersih.
Salam.
______________________________________________________________________
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
dengan mengirim e-mail kosong ke alamat;
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!