11. Yen tan suci tan kapanggya, takona guru sejati, kang wus putus weninging tyas suci, santosaning kapti, buda budimu yekti, ka anut rinten dalu, ing ngendi dunung ira, lawan asalira nguni, kang bisa wrih mung wong kang bener lakune. (Bila tidak suci tidak akan bertemu, bertanyalah kepada guru sejati, yang telah putus (tamat mencapai tataran) hati suci yang bening, teguh dalam pendirian, sungguh akan mencapai buda akal budimu, yang dianut siang-malam, di mana letak dirimu dan seperti apa kamu dahulu kala (sebelum tercipta), yang dapat tahu hanya orang yang benar "lakunya".) 12. Yen sira wus nora cidra, meruhi jatining urip, kadya rumput aneng tegal, tegal yun sinebar wiji, ginaru luku sami, rumput samsaya sirna mawut. lamun nedya yuwana,luput ing sakalir-kalir, bisa nusup garu luku selanira. (Kalau kamu sudah tidak munafik, akan tahu hidup sejati, ibaratnya seperti rerumputan di ladang, ladang yang akan disebari benih, ladang itu perlu digaru dan diluku. rumput-rumput akan binasa, kalau mau selamat, lepas dari segala bencana, (harus) bisa menyelinap disela-sela garu dan luku itu. 13. Padha sira netepana, janjine ywa nggendhong lali, antepana tekeng lampus, wirang lamun tan nyata, yen mangkono yekti panggih, ngukuhana Sabda Palon wicenira. (Tepatilah hai kamu semuanya, janjimu jangan sampai membawa sifat lupa diri, teguhlah demikian sampai mati, malu kalau sampai tak terlaksana, bila begitu pasti kamu akan bertemu, keras kepalalah Sabda Palon akan pendapatnya) peringatan: bagian ini terjadi lompatan cerita dari petuah seseorang terus lari kepada kekerasan hati Sabda Palon, karena (dugaan saya) Sabda Pamasa ini bagian dari serat yang lebih besar berjudul Serat Sabda Palon. 14. Sri narendra Brawijaya, sabdanira arum manis, nantun dateng punakawan, sabda palon paran karsi, jenengingsun puniki, wus ngrasuk adama Rasul, heh kang pakenira, melua agama nabi, luwih becik iku agama kang mulya. (Sri Raja Brawijaya, perkataannya halus, bertanya kepada punakawannya, "Sabda Palon, apa maumu, aku ini sekarang, sudah memeluk agama Rasul, wahai Sabda Palon, ikutlah agama nabi, lebih baik begitu (karena ini) agama mulia.) 15. Sabda Palon ture sagal, pan kawula mboten arsi, angrasuk Agama Islam, wit kula puniki yekti, Ratuning Bhanyang Hawi, Momong maring anak putu, sagunging pri prayangan, kang dudunung tanah Jawi, wus pinasthi yekti kula pepisahan. (Sabda Palon menjawab dengan tegas, "Lha hamba ini tidak mau, memeluk agama Islam, karena hamba telah ditentukan, menjadi raja penjaga tanah jawa. Mengasuh anak cucu hamba, seluruh makhluk halus yang tinggal di tanah jawa, jadi sudah saatnya hamba berpisah dengan Tuan.) Kagungan Pangeran Cakraningrat ing Ngayogyakarta (Kepunyaan Pangeran Cakraningrat di Yogyakarta) ______________________________________________________________________ Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI dengan mengirim e-mail kosong ke alamat; Bergabung: [EMAIL PROTECTED] Keluar: [EMAIL PROTECTED] Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!
