6. Bebaya ingkang tumeka, wrata satanah Jawi, panggawening
pra angkara, tan kena dipin singgahi, nglawane amung eling,
suci tobat mring Hyang Agung, ing kono mbok menawa antuk
marpaning Hyang Widhi, yen tan tobat, salawase nanggung
papa.
(Bencana yang datang, merata se tanah Jawa, perbuatan para
angkara, tidak dapat dilayani, cara melawannya hanya dengan
ingat, bertobat (berdasarkan kesucian hati) kepada Hyang
Agung, di situlah mungkin mendapat ampunan Hyang Widhi,
kalau tidak bertobat akan menanggung derita selamanya.)
tidak perlu ditafsirkan.
7. Warna-warna kang bebaya, kang ngrusaaken Tanah Jawi,
sagung tiyang nyambut karya, pamedal mboten nyekapi, priyayi
keh kang lari, Saudagar lit mawut-mawut, wong glidig nora
misra, wong tani mora nyukupi, pametune sami-sami kalap
mring nagara.
(Macam-macam bencana, yang merusakkan Tanah Jawa, semua
orang bekerja, (tetapi) hasilnya tidak mencukupi, kaum
bangsawan banyak yang lari (ke luar negeri?), pedagang kecil
terbengkalai, orang wiraswasta tidak seberapa hasilnya,
orang bertani hasilnya tidak cukup, semua termakan oleh
negara (penguasa))
8. Hera-heru kething jalma rebatan ngupaya kasil, nerak
angger kasusilan, ageng alit sami ugi, sinusul prapteki,
pageblug ingkang linangkung. kathah tiang pejah, katungka
rebutan singgih, nulya perang rowang amungsung lan rowang.
(Huru hara menghebat akibat orang rebutan hasil, melaggar
etika kesusilaan, besar-kecil sama saja, disusul dengan
datangnya pageblug, banyak orang mati, terlena berebut
kuasa, sehingga pecah perang kawan bermusuh kawan.)
9. Wus kasebat crita kuna, wacana jalma linuwih, kang wus
kaucap jroing jangka, wong Jawa sirna sepalih dene kang isih
urip, yekti ana saratipun, karya nulak bebaya, kalise
manggih bilahi, netepana kang wineca para kuna.
(Sudah disebut dalam cerita kuna, gubahan orang-orang
"linuwih" (banyak ilmunya), yang telah  disebut dalam jangka
(jayabaya?), orang Jawa hilang separuh, sedang yang masih
hidup, harus memenuhi syaratnya, untuk lepas dari bencana,
terhindar dari kematian, (yaitu) turutilah yang telah
terbaca pada orang jaman dahulu)
10. Padha sirna ngupaya, sarana ingkang sejati, sahadat iman
sampurna, sampurna jatining urip, yen sira bisa oleh,
nyatakna ingkang satuhu, kang nganti prapteng laya, pralaya
sajroning urip, sinaranan suci eling mring Hyang Sukma.
(Banyak yang hilang dalam mencari, jalan yang sejati,
sahadat iman sempurna, sempurna (karena menyadari) hidup
sejati, kalau kamu berhasil mendapatkannya, laksanakan
dengan sungguh-sungguh, hingga kamu mati, mati di dalam
kehidupan, dilandasi dengan mengingati akan kesucian Hyang
Sukma (Tuhan).

iklan milis: WOJOSETO MAILING LIST
langganan: [EMAIL PROTECTED]
brenti: [EMAIL PROTECTED]
tanya: [EMAIL PROTECTED]
dolin:  http://www.egroups.com/list/wjseto



______________________________________________________________________
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
dengan mengirim e-mail kosong ke alamat;
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!

Kirim email ke