Gus Dur-Mega sudah ada diatas sana atas 'skenario cantik dan elegant' Amien Rais. Banyak yang memuji dan bereaksi positip, atau bersyukur kehadirat Tuhan atas 'happy ending' ini. Tetapi tentu tidak perlu larut dalam euphoria yang lagi lagi dapat kontra produktip, misalnya melahirkan kelompok loyalis, karena sebuah awal baru sedang kita tapaki. Dengan tidak mengurangi rasa syukur dan rasa hormat, dengan berat hati saya ingin mengatakan bahwa 'the dream team' ini baru dapat dikatakan berhasil dan mendapat legitimasi rakyat secara tulus apabila mampu menyelesaikan dengan cepat dan konsepsional terhadap 'tunggakan kasus' yang sudah tertumpuk selama ini. Beberapa super prioritas yang menghadang the dream team ini adalah: - Menyelesaikan kasus Makassar sebelum api keburu membakar (Nampaknya tim Jakarta kurang responsif karena masih larut dalam euphoria, atau kecapean Sidang). - Menyelesaikan kasus Aceh dan Irian yang masih berlangsung dahsyat sekalipun kurang publikasi. - Menindak lanjuti kejelasan kasus Ketapang, Banyuwangi, Sambas dan percikan api lainnya dimasa lalu dengan pola sama elegannya dengan skenario SU MPR (everybody relatively happy), dan jangan terjebak secara emosional menyelesaikan kasus 27 Juli dan Tanjung Priok hanya karena masalah keterwakilan diposisi pengambilan keputusan. - Menindak lanjuti Kasus Soeharto Inc., Andi Ghalib, Bank Bali plus penyelewengan perbankan dan pencurian uang rakyat yang terjadi selama ini (ratusan triliun) serta kasus KKN lainnya dengan dua sasaran, menegakkan keadilan dan kebenaran, dan menghimpun dana untuk Kas Negara hasil penyitaan harta hasil KKN untuk memperkuat keuangan Negara. Jangan takut menindak koruptor secara adil dan beradab, karena rakyat dan dunia akan sangat mendukungnya. Jangan takut bayangan kerusuhan dan jangan takut pada ancaman premanisme kalau mau diakui sebagai pemimpin bangsa. - Melaporkan kepada rakyat secara terbuka penggunaan 'utang baru kepada IMF' sejak ditanda tanganinya MOU antara mantan Presiden Soeharto dengan Michael Camdessus, yaitu Laporan penggunaan setiap dollar yang dihutang itu, dengan dilampiri laporan pendapat auditpr independent. Rakyat perlu tahu berapa yang untuk intervensi kurs rupiah, berapa yang untuk Jaring Pengaman Sosial, berapa yang bocor. Laporan dapat berawal dari Bank Indonesia, kemudian ditelusuri sampai penerima akhir uang itu, kemudian ada tindak lanjut Law Enforcement. Sesudah itu ada dua tindakan yang penting, yaitu yang pertama Laporan Penggunaan dana yang berasal dari hutang sebelumnya dan pendapatan dalam negeri, dan yang kedua Laporan semacam ini juga dilakukan untuk setiap penggunaan dana dimasa yang akan datang, baik dari hutang Luar Negeri maupun dari sumber pendapatan asli dalam negeri, yang diikuti Law Enforcement pada tiap pelanggaran dan penyimpangan yang ditemui. - Sebelum Bank Swasta mengucurkan Kredit Usaha, Bank Mandiri dan Bank Pemerintah lainnya paling lambat sebulan setelah pembentukan Kabinet harus sudah mulai mengucurkan kredit, sementara pembenahan perbankan swasta dipercepat, baik dengan meneruskan program rekapitulasi berdasarkan skenario Pemerintah, maupun melepas penyehatan perbankan dalam kebijakan pasar bebas. Dari keseriusan dan kejelasan penyelesaian tunggakan perkara ini termasuk tindakan penegakan hukumnya, saya berharap legitimasi bukan hanya datang dari dalam negeri tetapi juga dari masyarakat Internasional, yang tentunya berdampak baik bagi Indonesia. -Target kedepan yang penting adalah mencapai nilai tukar Rp. 5.000.- per US Dollar sebelum akhir tahun ini, untuk dilanjutkan penguatannya sehingga mencapai kondisi sebelum krisis (sekitar Rp. 2.400.- per US dollar, atau seperti era 70-an, yaitu Rp. 415.- per US Dollar). Dengan melihat Sumber Daya Alam kita, pencapaian nilai tukar itu tidak sulit dicapai. Kalau itu disertai penguatan disektor pendidikan, maka setelah Sumber Daya Manusianya mencapai level yang memungkinkan, bukan hal yang mustahil menjadikan nilai tukar satu rupiah sada dengan satu US Dollar. Siapa takut? Karena itu transparansi, keadilan dan kebersamaan harus terus dipupuk bukan hanya mengurangi rasa saling curiga antar sesama anak bangsa, tetapi juga saling menyemangati untuk setiap orang Indonesia melakukan yang terbaik bagi bangsanya, sehingga kita semua bangga menjadi anak Indonesia dalam arti yang sebenarnya. Dengan demikian Kabinet yang sepantasnya dibentuk adalah yang sangat kuat (bermodalkan stock manusia yang tersedia) untuk 3 sektor utama, yaitu hukum, ekonomi dan kesejahteraan sosial. Jangan lupa untuk mencarikan muka baru yang lebih tangguh untuk jabatan Ketua MA, Ketua BPK, Jaksa Agung, Kapolri, Gubernur BI, Ketua Bappenas dan Ketua Tim Percepatan Otonomi Daerah. Kabinet teknokratis Soeharto, dibawah Wijoyo Nitisastro, dengan segala kekurangannya, telah berhasil meloncatkan kesejahteraan Indonesia pada awal Orde Baru, setelah badai G-30-S yang ganas itu. Setidaknya kita pantas berharap bahwa Kabinet GM mampu membuat prestasi sepadan atau melebihinya. Dukungan rakyat pada GM sekarang kurang lebih setara dengan dukungan rakyat pada Soeharto kala itu. Kurang apa lagi? Saya yakin masih ada super prioritas yang terlepas dari perhatian saya dan tentu rekan rekan dengan senang hati menambah daftar tugas ini. Kalau dalam setahun hal-hal diatas belum ada kelanjutan dan kejelasannya, tidak terlalu naif kalau dikatakan reformasi belum menghasilkan apa-apa. Lupakan euphoria, mari kita mulai bekerja. Yap ______________________________________________________ Get Your Private, Free Email at http://www.hotmail.com ______________________________________________________________________ Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI dengan mengirim e-mail kosong ke alamat; Bergabung: [EMAIL PROTECTED] Keluar: [EMAIL PROTECTED] Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!
