bagaimana komentar anda sekalian?

----------------------------------
  Senin, 25 Oktober 1999  Analisis Berita
 Australia Keder
SALAH satu hal menarik berkaitan dengan visi kabinet Gus Dur
adalah berkaitan dengan kebijakan politik luar negerinya. Dalam
lawatannya ke Den Haag (Belanda) dan Kairo (Mesir) beberapa
waktu lalu, Gus Dur mengungkapkan kekecewaannya terhadap
Australia, yang dianggap telah mencampuri urusan dalam negeri
Indonesia dalam masalah Timor Timur.

Ketika itu ia bahkan meminta pemerintahan BJ Habibie agar
hubungan Indonesia-Australia dibuat sedingin mungkin. Ia tidak
menyebut pemutusan hubungan diplomatik kedua negara, tetapi
pesan itu sudah amat jelas mengisyaratkan perlunya kebijakan
tegas pemerintah, agar harga diri bangsa tidak terinjak-injak.

Kebijakan pemerintahan John Howard dalam masalah Timtim memang
menyinggung perasaan bangsa Indonesia. Lebih-lebih setelah
Pasukan Internasional untuk Timor Timur (Interfet) yang
dikomandani Mayjen Peter Cosgrove terlibat insiden di perbatasan
Timtim-NTT dan merenggut korban anggota Brimob.

Tidak seperti kebanyakan reaksi tokoh-tokoh di Indonesia yang
masih berusaha berkepala dingin, Gus Dur dengan lugas
mengungkapkan kejengkelannya terhadap pemerintah Australia. Ia
menyebut-nyebut soal kedaulatan negara dan harga diri bangsa.

Ada yang menganggap reaksi emosional Gus Dur itu mencerminkan
kondisi psikologisnya yang tidak stabil setelah terkena stroke.
Akibat serangan stroke itu, ia jadi mudah marah dan gampang
menyalahkan orang lain.

Ketika ia belum terpilih sebagai presiden, anggapan itu
barangkali bisa dipahami. Tetapi ingatlah apa yang diucapkan
dalam pidato pertama setelah dilantik sebagai presiden. Dia
antara lain mengatakan, "Kita tidak bisa menerima penilaian
negara lain atas negara kita. Kita akan berbuat apa saja untuk
menjaga kedaulatan negara...''.

Pernyataannya tersebut tentu saja menjadi penting karena
diucapkan seorang kepala negara. Penegasan ini sekaligus sebagai
jawaban atas tuntutan rakyat agar presiden baru kita itu dapat
mencegah disintegrasi bangsa, mengembalikan martabat dan harga
diri yang sudah terkoyak. Pidato Gus Dur juga bisa "dibaca''
sebagai peringatan kepada negara manapun untuk tidak mencoba
memainkan Indonesia seenaknya sesuai kepentingannya.

Karena itu Dubes AS untuk Indonesia Robert Galberd buru-buru
menemui Presiden Abdurrahman Wahid untuk menyampaikan pernyataan
dukungan tanpa reserve Bill Clinton kepada Indonesia, yang
dinilai telah menjalankan proses demokrasi dengan baik.

Dukungan Amerika, menurut Galberd, termasuk dukungan penuh untuk
menjaga integritas wilayah Indonesia. Dubes AS dengan tegas
membantah adanya laporan bahwa Washington menginginkan Indonesia
pecah. Ia memberikan jaminan, Amerika sangat berkepentingan
dengan Indonesia yang bersatu, stabil, dan demokratis.

***

MUNGKIN antara pernyataan Gus Dur dan jaminan Clinton tidak
saling berhubungan. Tetapi kita bisa segera menangkap semangat
yang sedang tumbuh dari hati sanubari bangsa Indonesia. Presiden
baru kita secara terang-terangan telah menggugah kesadaran kita
dalam berbangsa dan bernegara. Ia mencoba membangkitkan
kebanggaan sebagai bangsa yang besar, yang tidak selayaknya
diperlakukan semena-mena oleh bangsa lain.

Orang bisa saja menyebut itu nasionalisme sempit di tengah
"nasionalisme baru'' era globalisasi yang berorientasi kepada
pasar. Tetapi apa yang disebut nasionalisme sempit sebenarnya di
mana pun masih menjadi dasar bagi nasionalisme baru. Perang
dagang antarnegara dan blok-blok negara yang menjadi ciri di era
global sekarang muncul akibat penafsiran baru terhadap
nasionalisme sempit tadi.

Indonesia sebagai negara besar memerlukan penafsiran baru
terhadap ideologi Pancasila yang menjadi dasar negara. Dalam
kerangka inilah membangkitkan kembali rasa harga diri bangsa dan
sensitivitas terhadap intervensi negara lain menjadi hal
penting. Presiden Abdurrahman Wahid telah memulai upaya ini
dengan menjadikan Australia sebagai negara pertama yang akan
menjadi objek test case.

Keruan saja Australia kini ketar-ketir dengan naiknya Gus Dur
sebagai presiden. Howard dalam pernyataan resminya memang
menginginkan perbaikan hubungan kedua negara. Ia menyatakan
optimismenya bahwa terpilihnya Gus Dur sebagai presiden keempat
RI akan menandai babak baru hubungan kedua negara. Tetapi Gus
Dur pasti lebih mengutamakan tuntutan rakyatnya daripada
basa-basi Australia.

Peringatan kolumnis Australia Prof Andrew MacIntyre layak
disimak. "Dengan terpilihnya Gus Dur (sebagai presiden), jelas
posisi Australia menjadi tidak nyaman dan kesepian,'' katanya
dalam tulisannya di harian The Australian, Jumat (22/10).

Ia menilai, kemenangan Gus Dur akan membuat Australia kesepian
di kawasan Asia Pasifik karena sikap Gus Dur yang anti-Australia
dalam menangani masalah Timtim.

"Keberhasilan Indonesia menerapkan proses demokrasi dalam
pemilihan presiden membuat Australia tidak bisa seenaknya
mengajak Amerika untuk menekan-nekan Indonesia,'' kata Andrew
MacIntyre.

Menurut Prof MacIntyre, Washington mendukung penuh pemerintah
baru RI di bawah Gus Dur. Pertama, karena demokrasi telah tumbuh
di Indonesia, dan kedua, Timtim akan segera menjadi negara
merdeka, kata MacIntyre, yang kini mengajar di University of
California San Diego.

Karena itu bagi pemerintah Amerika, Indonesia tidak lagi menjadi
masalah. Sementara pemerintah Australia harus menghadapi
konsekuensi atas arogansinya dalam mengatasi masalah Timtim.
Sikap Gus Dur seperti halnya PM Malaysia Mahathir Mohammad tidak
senang dengan kebijakan dan tindakan Australia dalam
menyelesaikan masalah Timtim. Gus Dur memang mengecam negara
Barat secara umum, tetapi target utamanya adalah Australia. (A
Zaini Bisri-31)

Copyrightc 1996 SUARA MERDEKA
-------------------------------------
iklan milis: WOJOSETO MAILING LIST
langganan: [EMAIL PROTECTED]
brenti: [EMAIL PROTECTED]
tanya: [EMAIL PROTECTED]
dolin:  http://www.egroups.com/list/wjseto



______________________________________________________________________
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
dengan mengirim e-mail kosong ke alamat;
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!

Kirim email ke