On Sat, 23 Oct 1999, [iso-8859-1] �� wrote:
 
> ----- Original Message -----
> From: Yap C. Young <[EMAIL PROTECTED]>
> To: <[EMAIL PROTECTED]>
> Sent: 23 October 1999 07:57
> Subject: Re: [Kuli Tinta] Fw: [padhang-mbulan] Pesta usai sudah
  
> Dengan sangat prihatin dan penuh empathy kepada saudara-saudara
> kita di Makassar, semoga buntut euphoria politik ini segera tuntas
> berakhir.

> Saya sangat yakin Sulawesi Raya atau Indonesia Timur sekalipun,
> mempunyai kemampuan yang cukup untuk berdiri sebagai satu negara
> berdaulat. Tetapi sayang sekali kalau hal itu terjadi karena kesalah
> pahaman yang bukan tidak mungkin dipicu oleh interest segelintir
> manusia.
> =========================

WAM:
Saya termasuk yang tidak setuju dengan upaya pemisahan diri ini.
Tapi, itulah buah upaya premanisme yang selama ini rajin ditebarkan oleh
PDI-P. Massa akan marah jika Mega tidak terpilih. Apa bedanya dengan warga
Sulsel yang memilih merdeka? Kenapa tidak ditegakkan bahwa setiap hasil
demokrasi harus dihargai? Jika premanisme PDI-P tidak dikutuk, ya tidak
usah mengutuk mereka yang mau merdeka dan memisahkan diri dari Indonesia.
Jika nantinya Indonesia pecah, ya itu lah buah premanisme politik kita
sendiri. Memaksakan kehendak.

> Mengikuti berita pagi ini?
 
> Wawancara SCTV dengan seorang Prod DR di Makasar menurut saya
> justru malah membakar masa. demikian pula pernyataan Marwah yang
> mengatakan bahwa ia tidak bisa menerima kekalahan Habibie sebelum
> bertanding dan bahwa kekalahan itu menunjukkan dominasi Jawa.
> Selanjutnya ia mengatakan bahwa penolakan pidato HBB itu terjadi
> karena ada pembelotan suara yang terjadi di tubuh Golkar.

WAM:
Membakar massa? Tergantung siapa yang melihat lah.
Jika wawancara itu dianggap membakar massa, gimana dengan ucapan elit
PDI-P yang juga dapat dianggap _membakar massa_?
 
> Saya sungguh merasa heran bahwa seseang dengan pendidikan Dr bisa
> mempunyai pemahaman masalah seperti itu didalam menyikapi
> masalah bangsa saat ini. Bagaimana kalau himbauan Bung Yap juga
> bisa sampai ke media masa? Bebas mengeluarkan pendapat adalah
> bagian dari upaya penegakan demokrasi, namun kebebasan yang
> cenderung merusak sesuatu yang sedang diperbaiki bersama adalah
> tidak bijaksana bagaimanapun juga.

WAM:
Saya setuju bahwa kekebasan yang merusak itu perlu diperbaiki.
Tapi, tolong juga sampaikan pada para elit PDI-P.

> Oleh karena itu, kini media masa benar-benar memegang peranan
> kunci untuk menyemai informasi guna menyamakan persepsi dengan
> tetap beresikap kritis terhadap pemerintah.  Jangan sampai
> kepentingan segelintir orang yang merasa kehilangan existing
> benefit atau pertentangan intern di tubuh organisasi dibiarkan
> untuk mengoyak tujuan reformasi, yaitu  untuk mewujudkan
> Indonesia Baru

WAM:
Dengan media besar yang dikuasai non-Islam (dan kebetulan mereka adalah
partisan PDI-P), bagaimana kita bisa berharap bahwa media akan menjadi
kritis manakala ada Mega dalam pemerintahan? Tidak akan pernah.

Saya lebih percaya bahwa yang terjadi bukan lagi sekedar pertarungan
politik. Mendekatnya Golkar ke Poros Tengah (bagi orang yang kritis) bukan
lagi sekedar permainan politik. 
 
> ��


______________________________________________________________________
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
dengan mengirim e-mail kosong ke alamat;
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!










Kirim email ke