RI menganggap Irian Barat itu "bagian" dr RI saat itu karena kesamaan
nasib, yaitu sama-sama bekas jajahan Belanda.  Itu satu-satunya
alasan bagi Bung Karno untuk mengklaim Irian Barat. Saat itu, 
suara rakyat Irian sama sekali tidak ada.  Kalaupun ada, hanya 
segelintir orang Irian yang kebetulan ndak suka sama Belanda 
sehingga pro Indonesia.  Mereka ini di kemudian hari diangkat 
sebagai pahlawan nasional,  misalnya Frans Kaisepo.  
Mohon koreksi bila saya salah.  

Dari segi lain, misalnya etnis, jelas Irian Barat sangat berbeda dengan
daerah-daerah lain di Indonesia.  Mereka jauh lebih dekat kepada
orang-orang Papua Nugini atau suku-suku bangsa lain di kawasan 
Pasifik.  Atas dasar ini mereka tetap memiliki alasan kuat untuk
berdiri sendiri.  Belum lagi dari segi agama.

Apalagi bila dikaitkan dengan ketidak adilan Jakarta. Irian yg selama ini 
penyumbang devisa bagi negara dalam jumlah sangat besar ternyata 
sangat tertinggal dan jangan lupa:  menderita rawan pangan, kurang 
pangan beberapa tahun lalu.   Sampai-sampai beberapa media nasional
seperti KOMPAS membuka dompet kemanusiaan.  Tak kurang dari 
mantan Presiden Soeharto sendiri mengirim beberapa karung TIWUL.
Duh Gusti .....  malang nian nasibmu, Irian.

Kalau mereka ingin merdeka, sangat wajar.  Belum lagi kalau disangkut
pautkan dengan mayoritas minoritas plus agama.  Kalau mau jujur, 
harusnya wakil rakyat di DPR yang mewakili Irian, KalTim dan Riau
harusnya menduduki posisi mayoritas karena merekalah yang selama
ini punya andil paling besar untuk "memberi makan" Republik ini.



-----Original Message-----
From:   Arief Rakhmatsyah [SMTP:[EMAIL PROTECTED]]
Sent:   Monday, October 25, 1999 4:15 PM
To:     [EMAIL PROTECTED]
Subject:        Re: [Kuli Tinta] JACOB TOBING  &  AKBAR TANJUNG

Cosmas, coba lihat lagi perjanjian pengakuan kedaulatan (KMB?) tahun bulan
Desember 1949.

Perjanjiannya Irian Barat akan DIKEMBALIKAN kepada RI dalam waktu sekian
tahun (lupa). Nah, karena si bule jelek penjajah itu ingkar janji maka
keluarlah Komando Mandala.


Riev


----- Original Message -----
From: Cosmas Damianus Tufan <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Friday, October 22, 1999 7:40 AM
Subject: RE: [Kuli Tinta] JACOB TOBING & AKBAR TANJUNG




Irian Jaya kan bergabung dengan Indonesia
setelah adanya PEPERA di bawah PBB.

Waktu proklamasi kan Irian masih di bawah Belanda, Bung.
Segera setelah merdeka, Bung Karno mengumandangkan
REBUT IRIAN Barat, karena Bung Karno MENGANGGAP bahwa
Irian Barat adalah wilayah Republik Indonesia.
Dibentuklah Komando Mandala di bawah komado
Mayjen (waktu itu) Soeharto.  Penyusupan pasukan
ke wilayah Irian Barat memakan korban antara lain Laksamana
Yos Soedarso yg terkenal dengan Peristiwa Laut Arafuru.
Terus penerjunan sukarelawan ke Irian Barat, antara lain
Team Naga di bawah Mayor (waktu itu) Benny Moerdani.

Karena tekanan internasional, akhirnya Belanda menyerah
dan memberikan mandat atas Irian Barat kepada PBB sebagai
masa peralihan.  Setahun kemudian, barulah diadakan PEPERA
(Penentuan Pendapat Rakyat).   Saya kira jelas, Bung.


-----Original Message-----
From: �� [SMTP:[EMAIL PROTECTED]]
Sent: Thursday, October 21, 1999 10:16 PM
To: [EMAIL PROTECTED]
Subject: Re: [Kuli Tinta] JACOB TOBING  &  AKBAR TANJUNG

Aaah yang bener aja........

Tolong dong referensi sejarahnya disebutkan...

Ketika proklamasi itu diproklamirkan, sebenarnya dimana sih
wilayah Indonesia?

��


----- Original Message -----
From: Cosmas Damianus Tufan <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: 21 October 1999 17:20
Subject: RE: [Kuli Tinta] JACOB TOBING & AKBAR TANJUNG



Nah itu dia, bung.

Kalau mau jujur, sebenarnya kan yg namanya Irian Jaya itu,
kan sewaktu proklamasi bukan bagian dari RI.  Lagipula secara
etnis mereka jauh lebih cocok gabung sama Papua Nugini,
secara perjalanan sejarah, mereka bergabung (atau digabung)
dengan Indonesia tidak pada saat proklamasi tetapi beberapa
tahun kemudian.  Belum lagi kalau mempertimbangkan faktor-faktor
lain.

Negaranya ndak perlu negara agama, tetapi bisa saja negara Papua.
Apa harus kudu didasarkan atas dasar agama?  Kan enggak.
Tergantung selera masing-masing.  Kalau dipaksakan negara agama,
bisa repot, mas.  Itu salah satu contoh.

Lainnya ya terserah masing-masing.

salam.








______________________________________________________________________
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
dengan mengirim e-mail kosong ke alamat;
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!










______________________________________________________________________
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
dengan mengirim e-mail kosong ke alamat;
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!









Kirim email ke