Lagi, forward dari Indonesia-l

salam,
Alvi

From: [EMAIL PROTECTED]
Date: Tue, 26 Oct 1999 02:39:12 -0400 (EDT)
To: [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED]
Subject: Tulisan Gus Dur 9 th lalu di Editor - apakah jalan pikiran beliau
masih sama sekarang?
Tulisan Gus Dur 9 thn yang lalu tentang Etnis Tionghoa
Judul: BERI JALAN ORANG CINA
Penulis: Abdurrahman Wahid (Gus Dur)
Sumber: Editor, 21 April 1990
>>Jadi orang Cina di negeri ini, di masa ini pula, memang serba salah.
>>Walaupun sudah ganti nama, masih juga ditanyakan 'nama asli'nya kalau
>>mendaftarkan anak ke sekolah atau jika membuat paspor. Mungkin, karena
>>memang nama yang digunakan terasa tidak pas bagi orang lain, seperti
>>nama Nagaria. Biasanya naga menggambarkan kemarahan dan keganasan.
>>Apakah si naga yang riang gembira ini tertawa-tawa? Hartadinata, terasa
>>lucu, karena tidak klop antara kekayaan dan keanggunan jabatan, antara
harta dan nata.
>>Ternyata bukan hanya karena nama baru orang-orang Cina terasa tidak sreg
>>di telinga orang lain. Tetapi karena keputusan politik, untuk membedakan
>>orang Cina dari pribumi. Memang tidak ada peraturan tertulis, melainkan
>>dalam bentuk kesepakatan memperlakukan orang Cina tersendiri. Mengapa?
>>Karena mereka kuat, punya kemampuan terlebih, sehingga dikhawatirkan
>>akan meninggalkan suku-suku bangsa lainnya. Apalagi mereka terkenal
>>dalam hal kewiraswastaan. Kombinasi kemampuan finansial yang kuat, dan
>>kemampuan lain yang juga tinggi, dikhawatirkan akan membuat mereka jauh
>>melebihi orang lain dalam waktu singkat.
>>Secara terasa, 'kesepakatan' meluas itu akhirnya mengambil bentuk
>>pembatasan bagi ruang gerak orang Cina. Mau jadi tentara? Boleh masuk
>>AKABRI, lulus jadi perwira. Tetapi harus siap menerima kenyataan, tidak
>>akan dapat naik pangkat lebih dari kolonel. Mau jadi dokter? Silakan,
>>namun jangan mimpi dapat meniti karier hingga menjadi kepala rumah sakit
>>umum. Mau masuk dunia politik? Bagus, tetapi jangan menduduki jabatan
>>kunci. Di birokrasi? Jadi pejabat urusan teknis sajalah, jangan jadi
>>eselon satu. Apalagi jadi menteri.
>>Sialnya lagi, 'jalan buntu' itu ternyata tidak membawakan alternatif
>>yang memuaskan. Jalan terbuka satu-satunya adalah mencari uang. Dan itu
>>sesuaipula dengan kecenderungan sosiologis mereka sejak masa lampau,
>>karena di masa kolonial pun mereka hanya boleh cari uang. Usaha
>>berhasil, uang masuk berlimpah-limpah, kekayaan makin bertambah.
>>Celakanya, justru karena itu mereka disalahkan pula: penyebab
>>kesenjangan sosial. Akumulasi modal dan bertambahnya kekayaan ternyata
>>tidak membawa keberuntungan.
Cara mereka menggunakan uang dinilai sebagai penyebab kecenderungan
>>hedonistik di kalangan generasi muda kita, padahal permasalahannya
>>sangat kompleks. Kekayaan mereka dianggap diperoleh melalui pengisapan
>>si kecil, padahal orang Cina hanyalah satu saja dari sekian banyak
>>faktor kemiskinan. Dengan kata lain, orang Cina dipersalahkan bagi
>>kebanyakan hal yang dirasakan tidak benar dalam kehidupan kita.
Salah satu hukum kehidupan masyarakat adalah pentingnya kemampuan
>>bertahan.> Potensi untuk survive ini dimiliki orang Cina, di mana pun
>>mereka berada. Dan potensi itu diwujudkan di negeri kita oleh mereka,
>>dengan memanfaatkan satu-satunya 'jalur kolektif' yang masih terbuka:
>>bidang ekonomi. Segala tenaga dan daya dicurahkan untuk mencari
>>kekayaan. Perkecualiannya hanyalah sedikit orang Cina yang menjadi
>>intelektual, akademisi, tenaga profesi, politisi dan sebagainya.
Kemampuan bertahan demikian tinggi bila dimampatkan ke dalam sebuah
>>'sasaran kolektif' mencari kekayaan, sudah tentu sangat besar hasilnya.
>>Apa pula dibantu oleh kemudahan di segenap faktor produksi dan sektor
>>usaha. Karenanya wajar-wajar saja bila mereka berhasil, tidak perlu
>>dikembalikan kepada sifat serakah, atau direferensikan kepada rujukan
>>akan licin dan sejenisnya. Bahwa banyak sekali orang Cina melakukan
>>hal-hal seperti itu, tetapi tentunya tidak dapat dianggap sebagai watak
>>rasial atau sifat etnis dari orang Cina. Orang lain juga berbuat sama.
Dengan demikian, persoalannya bukanlah bagaimana orang Cina itu bisa
>>dibuktikan bersalah, melainkan bagaimana mereka dapat ditarik ke dalam
>>alur umum (mainstream) kehidupan bangsa. Bagaimana kepada mereka dapat
>>diberikan perlakuan yang benar-benar sama di segala bidang kehidupan.
>>Tanpa perlu ditakutkan bahwa sikap seperti itu akan memperkokoh 'posisi
>>kolektif' mereka dalam kehidupan bangsa, karena hal-hal seperti itu
>>dalam jangka panjang ternyata hanyalah sesuatu yang berupa mitos belaka.
>>Keperkasaan orang putih ternyata dapat disaingi oleh keperkasaan orang
>>hitam di Amerika Serikat. Orang Melayu di Singapura juga menyimpan
>>kemampuan sama maju dengan orang Cina, seperti semakin banyak terbukti
>>saat ini. Begitu pula bangsa-bangsa lain, baik yang menjadi minoritas
>>maupun mayoritas. Tesis pokoknya di sini adalah: dapatkah kelebihan
>>kekayaan orang Cina dimanfaatkan bagi usaha lebih memeratakan lagi
>>tingkat pendapatan segala lapisan masyarakat bangsa kita di masa depan?
>>Jawabnya, menurut penulis, adalah positif. Orang Cina, sebagaimana
>>orang-orang lain juga, dapat di-appeal untuk berkorban bagi kepentingan
>>masa depan bangsa dan negara. Tentu dengan tetap menghormati hal-hal
>>mendasar yang mereka yakini, seperti kesucian hak-milik dari
>>campur-tangan orang lain.
Pemindahan kekayaan secara masif bukanlah barang baru bagi orang Cina,
>>karena mereka pun baru saja melakukan hal itu, dalam bentuk merampungkan
>>upaya akumulasi modal yang bukan main besarnya. Salah satu instink untuk
>>tetap bertahan hidup bagi orang Cina adalah realisme sangat besar yang
>>mereka miliki. Akal mereka akan mendiktekan keputusan pemindahan
>>kekayaan secara masif kepada mereka yang lebih lemah, dalam upaya
>>mendukung pihak lemah itu agar juga menjadi kuat. Tetapi itu semua harus
>>dilakukan dengan menghormati kesucian hak-milik mereka, bukan dengan
>>cara paksaan atau keroyokan.
Kalau begitu duduk perkaranya, jelas akses orang Cina kepada semua
>>bidang kehidupan harus dibuka, tanpa pembatasan apa pun. Kalau sekarang
>>ada tiga orang Arab menjadi menteri, tanpa ada pertanyaan atau kaitan
apa pun dengan asal-usul etnis atau rasial mereka, hal yang sama juga
>>harus diberlakukan bagi orang Cina kepada semua bidang kehidupan harus
>>dibuka, tanpa pembatasan apa pun. Kalau prestasi para dokter orang Cina
>>sama baiknya dengan yang lain-lain, mereka pun berhak menjadi kepala
>>rumah sakit umum. Begitu juga menjadi jenderal, dan demikian seterusnya.
Cerita gurau yang luas beredar menyebutkan perbedaan orang Jawa dari
>>orang Cina. Orang Jawa, kata cerita itu, akan senantiasa menanyakan
>>kesehatan kita kalau bertemu: "Sampean waras?" Bagi orang Jawa yang
>>mudah masuk angin dan sebagainya, kesehatan adalah perhatian utama. Ini
>>berbeda dengan orang Cina. Kalau berjumpa dengan orang lain, pertanyaan
>>yang diajukan: "Sampean apa sudah cia?" alias apakah sudah makan atau
>>belum. Mengapa? Karena mereka dahulu datang kemari akibat bahaya
>>kelaparan di daratan Cina, negeri asal mereka.
>>
>>"Keanehan" seperti itu adalah karakteristik etnis, yang tidak boleh
>>mengganggu keserasiah hidup sebuah bangsa. Apalagi bagi bangsa yang pada
>>dasarnya sudah sangat heterogen, seperti bangsa kita. Kita sudah harus
>>dapat melihat karakteristik khusus orang Cina seperti juga 'keanehan'
>>suku-suku bangsa kita yang lain. Ini berarti kita harus mengubah cara
>>pandang kita kepada orang Cina. Mereka harus dipandang sebagai unit
>>etnis. Bukan unit rasial.
Kalau kita bisa menerima kehadiran orang Flores, Maluku dan Irian
>>sebagai satuan etnis - padahal mereka bukan dari stok Melayu (karena
>>stok mereka adalah Astromelanesia), maka secara jujur kita harus
>>melakukan hal yang sama kepada stok Cina. Juga stok Arab. Mereka bukan
>>orang luar, melainkan kita-kita juga.
Mudah dikatakan tapi sulit dilakukan. Itulah reaksi pertama pada ajakan
>>"menyatukan dengan orang Cina". Akan banyak alasan dikemukakan dan
>>argumentasi diajukan. Karena, memang, dalam diri kita telah ada
>>keengganan mendasar untuk menerima kehadiran orang Cina sebagai "orang
>>sendiri". Kita sudah terbiasa mau menerima uang mereka tanpa merasakan
>>kehadiran mereka. Boleh saja keengganan bahkan ketakutan seperti itu
>>kita beri sofistikasi sangat canggih. Tetapi, ia tetap saja merupakan
>>keengganan dan ketakutan. Sesuatu yang irasional. Justru itulah yang
>>harus kita perangi, kita jauhi sejauh mungkin. Mengapakah hal itu
>>menjadi keharusan? Karena hanya dengan perlakuan wajar, jujur dan fair
>>dari kita sebagai bangsa kepada orang Cina sajalah yang dapat mendorong
>>timbulnya rasa berkewajiban berbagi kekayaan dan nasib antara mereka dan
>>pengusaha kecil kita. Ini kalau kitabenar-benar jujur, lain halnya kalau
tidak...



______________________________________________________________________
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
dengan mengirim e-mail kosong ke alamat;
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!










Kirim email ke