From: Yap C. Young <[EMAIL PROTECTED]>
>....menganggap bahwa kekuasaan itu adalah jatuhan dari langit.....  "
>  Ya gagal.
Benar, pola pikir yang dogmatis dan terpaku pada pakem standard ternyata
tidak mampu mengantisipasi langkah gerak politisi lain yang menghalalkan
setiap kemungkinan yang terbuka. Akibatnya PDIP gagal total meraih kursi
Presiden, dan menjadi bulan bulanan di SUMPR.

===============================================
Saudaraku Yap yang saya hormati,
Anda mungkin kurang konsentrasi. Ron Moreau di Newsweek yang saya
kutip, bicara soal nihilnya "pola pikir" alias main ilmu batin. Saya kok
menduga itu betul. Jadi yang namanya "yang dogmatis dan pakem standard"
cuma ilmu mistis nunggu durian runtuh dari kahyangan. Di tahun 2000 ini,
"pola pikir" seperti itu ya diketawai banyak orang. Hasilnya pasti Gatot.
Gagal Total, seperti kenyataan yang membuat nangis banyak orang itu.

Yang harus dikerjakan bukan menghalalkan segala cara. Apalagi berbuat
haram menonjolkan otot dan memamerkan kebolehan mengocor darah.
Anak SMA saya kira sudah mulai tahu . Simply, to negotiate. Berunding
bersama. Aktif , bukan cuma menunggu diujung ruang kaya Siti Nurbaya
menunggu digoda jejaka. Saya tidak percaya orang PDIP tidak tahu hal itu.
Tapi PDIP tidak melakukan itu. Saya curiga kejadian yang dilihat banyak
orang tersebut adalah "perintah" Mbak Mega. ( maaf banyak lho. sekarang
sudah bukan waktunya untuk nyek2an ( ledek2an). Saya cuma berusaha
berpikir rasionil saja, untuk keperluan diskusi).

Kalah dan  Jadi bulan-bulanan. Lebih sehat kalau anda berhenti pada kata
'kalah". Nanti dikira ngambeg lho ! Kalah total kan tidak, PDIP berhasil
mendapat Wapres ( nilainya tujuh menteri) walaupun sedikit tidak indah
( baca laporan WAM soal kebangkrutan : with smile).

Yap kemudian menulis :
"..Saya perlu bertanya arti kata modern, urut dan indah bagi PAN, PBB
atau PK yang seingat saya dalam meraup massa diantaranya jelas jelas
menjanjikan memperjuangkan Amien Rais, Yusril Ihza .... Tidak satupun
dari Partai-partai  itu mencalonkan Gus Dur.... hanya PBB yang masih
konsisten maju dengan Prof Yusril, tetapi itupun menarik diri ...menerima
sumpah Gus Dur untuk tidak akan mundur dari pencapresan. Jadi
pencapresan Yusril lebih didasari ketidak percayaan atas keseriusan
Gus Dur..daripada memenuhi janji kampanye. Apakah ini yang dimaksud
modern, urut dan indah?......."

Arti kata modern berhubungan dengan yang diatas. Mereka tidak meng-
gunakan "ilmu batin" dan mistik. Mereka memakai beberapa perangkat
seperti kemampuan negosiasi, mereka menggunakan setiap potensi organi-
sasi, tidak terborgol kaku diam oleh pucuk pimpinan saja.
Yang lain yang amat penting ,tidak menganggap figur presiden setingkat
nabi , sehingga layak ngocor darah atawa revolusi. Ngotot, saya kira
bukanlah hal modern.Bila ditingkat negosiasi tidak ada harapan, cari
yang lain. Negeri ini menyimpan ratusan orang layak presiden bila kita
sepakat pakai otak. Partai Keadilan yang banyak S2 & S3-nya , dengan
humble mencalonkan seorang ustat kampung sederhana. Bukan seorang
Bintang gemerlap. Mereka tahu betul pasti kalah. Tujuannya cuma
pesan gampang , tapi tidak sederhana : Banyak orang layak Presiden di
negeri ini.

Ada lagi yang saya anggap modern. Yang penting bukan alat , tapi tujuan
dan cara mencapai tujuan. Konsisten dengan calon memang tindakan heroik
Tapi amat kekanak-kanakan. Itu adalah konsisten kepada alat. Dengan
modern , partai2 yang anda sebut seperti PAN, PBB, dan PK mengganti
calon, tapi tetap berusaha mendapat kepastian negeri ini dikelola sedekat
mungkin dengan ideal mereka. Mereka dengan gigih berunding , kalau perlu
meminta janji, meminta sumpah, dan mengukur visi calon lain yang bakal
disetujuinya. Bukan dagang sapi seperti yang dipahami sebagian orang
tradisionil. Itu namanya Negosiasi. Itulah demokrasi : tidak mesti
mendapatkan semua yang dimaui.

Kiprah PBB, Yusril dan Mardjono menurut saya adalah salah satu yang
terindah dalam SU MPR. Langkah mereka setajam pisau silet. Sama sekali
tidak memberikan ruang nakal pada lawan. Mereka mau Gus Dur tidak mau
Mega. Mereka bukan lagi anak bangsa jaman dulu yang gampang dibodohi
oleh Londo Eropa. Mereka berbuat hal yang halal dan cerdas. Bagi saya
sekali lagi, amat mengagumkan. Seperti Kasparov!

Keindahan dalam politik adalah kecerdasan kombinasi langkah halal untuk
mencapai tujuan. Urut yang saya maksud adalah kefasihan dalam pengung-
kapan. Transparan. Bukan cuma diam yang membingungkan dan mengun-
dang teka-teki. Bisa dikatain bloon!.  Urut bisa pula berarti sadar tahapan.
Umpamanya : setelah pemilu, ada sidang MPR. Setelah menang pemilu,
mesti menang pula ditahap berikut. Kemudian selain presiden apa...
Kalau ada partai yang cuma terobsesi meng-Gol-kan Presiden saja apakah
bisa dikatakan modern ?  Alasannya amanat Kongres. Hayoh Toh !
Apakah itu yang dinamakan Pakem Standard ? Nanti keliru dengan Parem
( kocok) Standard? Ya ketinggalan, mas......
Persis benar seperti yang anda ( Yap) katakan:
"Seingat saya sejak PDIP konggres di Bali sampai berakhirnya Sidang Umum MPR
omongan PDIP ya cuma itu, berusaha memenangi Pemilu dan memperjuangkan Mega
menjadi Presiden. Dan ketika Capresnya ternyata kalah... Jadi bukan cuma
simbol dong, tetapi memang sudah main transparan, sekalipun gagal."

Anda nulis lagi :
"Tentang ngamuknya pendukung Mega, saya dengar mereka merasa ada akrobat
politik yang tidak wajar dalam proses persidangan SUMPR....lewat tengah
malam pukul 02.10 setelah PPJ Presiden Habibie resmi ditolak MPR,..........
Apakah gerangan kompetensi kelima tokoh yang bukan Golkar ini sowan ke Patra
Kuningan bukan pada layaknya jam bertamu? Apakah dalam rangka modern, urut
dan indah itu?..."

Persis bung Yap. Kita jangan mengira sidang MPR adalah mainan anak
bawah 17.  Perundingan bisa alot , kejam, dan melelahkan. Jangan cuma
terpaku pikiran ngeres dan porno saja. Perundingan seperti itulah yang diha-
dapi para businessman ketika berhadapan dengan orang Korea, Jepang,
atau Amerika !.  Ini urusan super penting !

Yap :
"Dari posting seorang netter disini ada info bahwa Amien Rais menerima
limpahan dana Bank Bali konon dari Habibie. Apa berita itu hanya sekedar
fitnah atau masih ada hubungannya dengan modern, urut dan indah itu?"

Ini termasuk sisi kejamnya. Fitnah, pembunuhan karakter, jegal-jegalan.
Tapi kita semakin tahu dan biasa. Kitapun tahu cara memperlakukannya:
anggap Kentut saja !.


Yap menulis ;
"Tentang perngamukan itu, dalam skala yang berbeda kita juga melihat
represifnya pendukung Gus Dur, sehingga seorang Mi'ing...
Padahal apa kata Gus Dur? "Mi'ing itu teman kita".
Perngamukan juga terjadi dikelompok Iramasuka dan di Makassar..
Boleh dong dibilang kekecewaan, apalagi ketersinggungan dapat menghasilkan
perngamukan grass root pada kelompok manapun, bukan hanya PDIP."

Ya nggak boleh, dong! Kita semua mesti menolak pengamukan2 yang
terjadi meskipun kita bisa mengerti. Tradisi bola Eropa menghukum Club
yang pendukungnya main Holliganisme. Pemilik Club tidak bisa pura-
pura bloon : Itu bukan dari warga saya ! Kuno. mas ! Apalagi kalau
kerusakan yang ditimbulkan milyar2an. Pemilik Club wajib ngajari
pendukungnya berkelakuan beradab meski tersinggung. Disitu akan diukur
kemampuan sang manager. Yang ini terang masuk kepada modern, urut,
dan indah itu.....

Anda menulis :
"........ Amien Rais sampai menggebrak meja, sehingga beberapa kali
susunan Kabinet diubah. Dan bahkan kabarnya Gus Dur dengan piawai
menempatkan SB Yudhoyono....................
Apakah sikap Amien Rais ini sifat konsekuen memperjuangkan bawahan atau
karena merasa telah memperjuangkan terpilihnya Gus Dur ..................
Apakah sikap Megawati ini termasuk sikap mengalah demi kepentingan yang
lebih besar atau sikap lemah?......................
Tentang Gus Dur sendiri, saya bisa membayangkan, beliau menghadapi
'kekerasan' begitu dengan santai saja.......Survey membuktikan bahwa
karena kebesaran Gus Dur-lah maka beliau di Capreskan........".

Bung Yap, kita banyak mendapatkan berita burung. Sulit benar kita kalau
diajak berspekulasi menilai orang. Manusia adalah makhluk Tuhan yang amat
kompleks. Kitapun dari masing2 sumber telah mendapatkan keyakinan
sendiri2. Saya umpamanya masih menilai Amin 8, Mega cuma 5.  Bung
Hihiik Yek mungkin menilai Amin cuma 2. Bung Gigih barangkali menilai
Mega 10. Itulah guna pemilu. Memilih sesuai dengan keyakinan kita.
Yang penting saya kira SU MPR yang lalu telah menyebabkan kita semua
puas sebagian. Tidak total. Dari sini marilah kita beri kesempatan mereka2
itu buat bekerja. Kita akan menilai mereka dari apa hasil riil mereka.

Marilah kita berhenti meminyaki mata dan hati kita dalam melihat orang lain.

Wassalam.
Abdullah Hasan.




______________________________________________________________________
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
dengan mengirim e-mail kosong ke alamat;
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!










Kirim email ke