Mengkomentari posting mbah Soel yang menyodorkan data statistik
dan kritikan-kritkan pakar, analis, dan tokoh daerah, saya
tertark untuk membuka buku optimisasi mengenai model Goal
Programming (GP)

Model optimisasi GP yang memiliki multi objectives merupakan
kritik terhadap model optimisasi Linear Programming (LP) yang
hanya memiliki single objective.

GP adalah moedl matematik maka dalil-dalil matematik harus
diikuti. Karena ia harus meminimumkan atau memaksimumkan tujuan
terhadap kendala-kendala yang ada maka sering konflik putusan
terjadi dan prioroitas sasaran dan bobot harus ditetapkan agar
penyelesaian bisa dilakukan. Sebagai contoh, memenuhi X > 5 dan
X=3 adalah tidak mungkin. oleh karena itu, mana yang diangap
penting untuk dipenuhi harus ditetapkan.

Dalam kabinet ini, kriteria sebagai sasaran yang hendak dicapai
telah ditetapkan yaitu Jujur, Sederhana, Mampu. Disamping itu,
keseimbangan diantara kekuatan-kekuatan politik juga menjadi
sasasaran. Juga, semangat untuk melibatkan wakil-wakil daerah
menjadi sasaran yang harus dipenuhi. Di sisi yang lain , jumlah
menteri menjadi kendala.

Apabila masalah kabinet itu ditrasnformasi kedalam model GP maka
konflik putusan pasti akan terjadi dan prioritas harus ditetapkan
dengan bobot yang berbeda. Kalau kita melihat proses stafing itu
yang melibatkan 5 orang yaitu AW, MW, AR, AT, dan W maka
masing-masing pasti memiliki kriteria yang berbeda mengenai
prioritas. Maka, bobot menjadi penentu untuk menyelesaikan. Bobot
masing-masing prioritas itu meskipun bersifat bisa diperdebatkan
diantara mereka namun akhirnya AW sebagai presiden mempunyai
wewenang yang lebih besar untuk menentapkannya, dengan dasar
pemikiran demi kepentingan nasional.

Memang, beberapa wakil dari Minahasa, Mingkabau, dll mulai
bertanya mengenai wakil mereka di kabinet; dan, saya berpikir
positif bahwa hal itu pasti tidak dilewatkan dalam proses
penentuan itu. Karena 5 orang itu bagaimanapun juga mempunyai
tujuan, network dan tim pemikir yang berbeda maka secara rasional
saya percaya bahwa itulah hasil optimal yang bisa dicapai seperti
model GP itu. Bagaimanapun juga, disamping AW sebagai pemimpin
harus mempertanggungjawabkannya, kabinet itu adalah sebuah team
work  sehingga beliau harus benar-benar yakin mengenai harapan
kinerja timnya. Seandainya saja kendala jumlah dept itu
diperbesar misal dengan kabinet 100 menteri maka saya percaya
akan banyak lagi sasasaran-sasaran yang bisa dipenuhi. Ataukah
ini yang dulu melatarbelakangi kabinet 100 menteri Soekarno yang
tidak berumur lama?

��
(berusaha untuk menghargai hak pemimpin)

----- Original Message -----
From: mBah Soeloyo <[EMAIL PROTECTED]>
To: kuli <[EMAIL PROTECTED]>; <[EMAIL PROTECTED]>
Cc: <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: 29 October 1999 17:10
Subject: [Kuli Tinta] membaca statistik kabinet KPGD (Kyai
Presiden Gus Dur)


berikut saya ingin mengomentari mail yang dikirim oleh
salah satu anggota [EMAIL PROTECTED] tidak mengapa,
walaupun awal tulisannya agak salah, karena ada data yang
diikuti oleh statistik. padahal seharusnya datum menghasilkan
data, dan data terolah adalah statistik, misalnya rata-rata,
nilai maksimum dll (ah ini pasti bung aswat atau bung yap
lebih mengerti)
-----------------------
Ass wr wb
Silahkan diamati data statistik kabinet Gusdur.
Wassalam
Riza Muhida
-------------------
Statistik Kabinet Persatuan Nasional :
I. Klasifikasi berdasarkan agama yang dianut
Islam : 85.29%
Katolik : 2.94%
Protestan : 2.94%
Hindu : 2.94%
Budha : 2.9%
? : 2.94%
----------
soel:
alhamdulillaah, kita wajib bersyukur, karena KPGD telah memilih
menteri-menterinya memenuhi tuntutan "mayoritas" yang dahulu
pernah diributkan. namun, boleh kan saya menyebut kabinet itu
adalah kabinet islam? ah, mungkin benar boleh disebut kabinet
islam, dan harapan saya yang awam, semoga juga membawa
sifat islami yang dijanjikan sebagai rahmat bagi alam.
--------
II. Klasifikasi berdasarkan jenis kelamin
Laki-laki : 94.12%
Wanita : 5.88%
--------------
soel:
hehehe... terpaksa saya tertawa, membayangkan maksud pengirim
mail ini. kalau ditelusuriiiii jauuh ketemunya akan berhulu pada
masalah pencalonan megawati sebagai presiden, yang kebetulan
orang bernama megawati itu adalah PEREMPUAN. bukan wanita lho.
sebab kalau memakai kata wanita, konon (menurut guru bahasa saya
di SMA yang kebetulan sarjana sastra seperti menristek tunjukan
gusdur sekarang) kata ini berasal dadi BETINA, jadi hanya pantas
untuk
hewan. sedang arti perempuan katanya adalah YANG MEMILIKI.
nah disini juga boleh kan disebut KABINET JANTAN?
---------------------------------
III. Klasifikasi berdasarkan jenjang pendidikan tertinggi:
Doktor : 38.24%
Master : 11.77%
Sarjana : 32.35%
Sarjana Muda: 2.94%
AKMIL : 14.71%
----------------------------
soel:
berarti, faktor jenjang pendidikan tinggi masih menjadi
penentu peluang seseorang bisa menjadi menteri. asal
jangan jadi "minteri" dan "keminter" saja ya?
------------------------------------
IV. Klasifikasi berdasarkan umur
30-40 tahun : 8.82%
41-50 : 14.71%
51-60 : 58.82%
61-70 : 11.77%
? : 5.88%
------------
soel:
semakin tua semakin diperlukan. hanya herannya satu orang
menteri tidak ketahuan umurnya. ada yang tahu, menteri apa?

V. Klasifikasi berdasarkan universitas asal pendidikan Sarjana:
UI : 8.82%
ITB : 11.77%
IPB : 8.82%
AKMIL : 14.71%
U. Airlangga : 2.94%
U. Merdeka Malang: 2.94%
UGM : 14.71%
IAIN Jakarta : 2.94%
U. Parahiyangan : 2.94%
STF Driyarka : 2.94%
IKIP Jakarta : 2.94%
IAIN Ujung Pandang: 2.94%
U. Padjajaran : 2.94%
U. Tanjungpura : 2.94%
U. Hasanudin : 2.94%
Luar negeri : 2.94%
? : 8.82%
-----------
soel:
syukuurrr tidak mengelompok pada salah satu universitas
saja. sehingga sulit untuk munculnya dugaan yang bukan-2
misalnya ada dugaan sebagai kepanjangan mafia untul (universitas
tulung agung) atau komplotan untumu semar (universtas tugu muda
semarang).... hehehe.... hanya kalau yang muncul mafia atau
komplitan lain selain faktor pendidikan sih nggak tahu ya?

dah ah, dah cukup kan?

wassalam,

mbah soeloyo
------------




______________________________________________________________________
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
dengan mengirim e-mail kosong ke alamat;
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!

Kirim email ke