Menarik uraian mas Hasan ini, sebenarnya masalah-masalah yang berkenaan
dengan kebhinekaan Indonesia ini sudah diselesaikan oleh para pendiri negara
ini dengan proklamasi dulu itu. Kesadaran tentang satu bangsa, telah
mengatasi masalah-masalah primordial terutama masalah suku bangsa. Proses
dialektis nan cantik yakni perbenturan antara tesis dan antitesis telah
melahirkan budaya yang saling menghormati prinsip satu sama lain, serta
sedikit banyak menjauhkan bangsa kita pada kecenderungan feodalisme.
Sayang alam bawah sadar feodalisme serta bantuan militer yang suka mental
mutlak-mutlakan membawa kita pada keadaan anti dialog, dan kita mengalaminya
dalam dua periode. Dalam iklim mutlak-mutlakan seperti itu proses dialektis
yang diharapkan dapat membawa masyarakat bisa menjadi lebih dewasa tidak
terjadi. Yang ada hanyalah dialog satu arah serta penyeragaman. Dialog dari
arah berlawanan dicegah, dianggap saingan, musuh bila perlu dihancurkan.
Tidak adanya dialog ini menimbulkan ekses ketakutan-ketakutan. Perbedaan
selalu dihindari, tidak didialogkan. Hasilnya ya mental mutlak-mutlakan,
right or wrong kelompokku, negaraku, agamaku, partaiku, anakku, calon
presidenku dan macam-macam lagi. Orang jadi asing satu sama lain.
Ketakutan dari sesuatu yang berbeda dengan kelompoknya membuat orang menjadi
penuh curiga. Setelah Suharto tumbang, mental mutlak-mutlakan serta
ketakutan-ketakutan itu tetap saja terjadi. Tidak ada proses dialog.
Sesungguhnya masalah kebhinekaan ini bisa diselesaikan dengan dialog, yakni
dengan menumbuhkan iklim demokrasi yang benar, memberi ruang pada perbedaan,
oposisi, dan kebebasan. Menghargai prinsip masing-masing yang berarti
menghargai sisi-sisi unik dari manusia, bahkan yang paling hina pun.
Semoga kehidupan baru yang mulai dijalani menyadarkan kita akan pentingnya
demokrasi dan dialog, sehingga apa yang diharapkan oleh Mbah Soeloyo dapat
menjadi kenyataan.
tabik
Marto Blantik
----- Original Message -----
From: Abdullah Hasan <[EMAIL PROTECTED]>
To: Kuli Tinta <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Friday, November 05, 1999 5:21 PM
Subject: [Kuli Tinta] Bhinneka Bahasa Bhinneka Bangsa
> Tanggapan atas :
> Bineka Bahasa Tunggal Bangsa , oleh Mbah Soeloyo.
>
> Saudara Sekalian,
> Renungan Mbah Soeloyo, adalah renungan banyak diantara kita hari-hari ini.
> Siapa "kita" ini ?. Bagaimana seharusnya "kita" ini ?
>
> Mencari kembali identitas diri bangsa. Kurang lebih seperti itu. Puluhan
> tahun diambil siapa, revolusi batin dahsyat telah mengembalikan berbagai
> kepada kita. Kita sekarang bisa bicara, bisa tidak setuju, bisa marah,
> bisa ngambeg. Boleh berpikir boleh ngawur. Boleh bergerombol, boleh
> menyendiri. Dalam sekejap yang semula solid sewarna jadi mosaik.
> Masing-masing molekul bangsa menyalakan garis batas terang pada
> sekeliling.
>
> Apa urusan anda? Tiba-tiba ada semacam kekuatan menantang bisa
> keluar terhadap sorot keberatan ketika saya sedang ngomong Jawa.
> Atau ketika pakai sarung dan kopiah haji. Demikian pula dari bagian
> mosaik lain muncul kesadaran yang sama. Kesadaran akan hak.
> Kesadaran baru pada Bhinneka.
>
> Pengalaman riil memaksa kita untuk menghayati Kebhinekaan
> yang baru kita ketahui sebatas slogan. Mulai dari jumlah partai yang
> membuat "kepala seragam" kita puyeng. Sampai pada kesulitan kita
> melihat kenyataan perbedaan pandangan diluar punya kita. Dengan
> mengambil contoh ekstrim: Kok Golkar bisa mendapat 20 % ? !
> Kok sirik ya pada Amin Rais ? Kok ada yang tidak suka Mega ? .
> Kesulitan-kesulitan semacam itu seringkali menyesatkan. Kita masih
> sering memaksa melihat "rakyat" sebagai rakyat. Molekul mosaik milik
> kita sebagai keseluruhan.
>
> Kalau tidak keliru, saya menangkap tulisan mbah Soeloyo dalam
> konteks kesadaran baru itu. Malahan lebih jauh, bukan sebatas
> bahasa kita bhinneka malahan dalam bangsa. Artinya kita ini terdiri
> dari bermacam (suku) bangsa yang karakter dasarnya bisa jadi amat
> berbeda. Mbah Soeloyo menghimbau pemahaman kepada antar bahasa
> yang lebih dalam. Maksudnya menuju pemahaman antar (suku) bangsa
> yang lebih dalam. Penghayatan yang lebih dalam pada bhinneka tsb.
> Tentunya penghayatan pada kebhinnekaan bukan berarti menuju
> peleburan. Orang Jawa tidak mungkin jadi Sunda. Orang Bali tidak akan
> jadi Cina atau Bugis. Demikian seterusnya. Batak tetap Batak. Orang
> Banjar tetap orang Banjar, dengan segala adat istiadatnya.
>
> Buat apa semua pemahaman itu? Secara cepat, secara "slogan"
> mungkin kita akan berkata : menuju persatuan bangsa ! Tapi mungkin
> ada yang mesti diisi dulu. Ada sesuatu yang terputus antara pemahaman
> sampai persatuan. Sebagian besar diantara kita belum bisa makan cukup,
> belum punya teduhan yang manusiawi. Atau punya ketenangan kepastian
> pendapatan. Apalagi soal seperti pendidikan atau kesehatan. Kebutuhan
> persatuan bangsa yang hakiki adalah kebutuhaan rasionil tingkat lanjutan.
> Ekstrimnya, kebutuhan akan Eropa Bersatu baru mengental setelah
> kemakmuran tingkat tinggi tercapai diantara negara-negara bagiannya.
> Tidak usah sejauh itu. Tapi apakah hal itu bisa dicapai ketika sebagian
> besar bangsa-bangsa kita masih hidup amat melarat. Tingkat kehidupan
> yang amat tidak pantas diterima oleh species manusia saat ini.
> Millenium Baru ! ?
>
> Pengakuan existensi masing-masing molekul bangsa. Penghargaan pada
> kemanusiaan. Menghilangkan segala rintangan untuk mengatur kehidupan
> sendiri. Dorongan dan support kegiatan ekonomi yang sehat. Peningkatan
> kesejahteraan. Percepatan peningkatan kwalitas dan kwantitas pendidikan
> nasional untuk mencerdaskan bangsa. Hal-hal seperti itu mungkin akan
> mempercepat kelahiran kebutuhan persatuan secara alami.
>
> Untuk sementara, meskipun semu, persatuan yang ada, haruslah dengan
> sabar dijaga sejauh mungkin. Bila kebutuhan tiba, jangan sampai kita sudah
> tidak punya apa-apa.
>
> Apakah begitu ya?
>
> Wassalam.
> Abdullah Hasan.
>
>
>
>
> ______________________________________________________________________
> Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
> dengan mengirim e-mail kosong ke alamat;
> Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
> Keluar: [EMAIL PROTECTED]
>
> Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
______________________________________________________________________
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
dengan mengirim e-mail kosong ke alamat;
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!