Tanggapan atas :
Bineka Bahasa Tunggal Bangsa , oleh Mbah Soeloyo.
Saudara Sekalian,
Renungan Mbah Soeloyo, adalah renungan banyak diantara kita hari-hari ini.
Siapa "kita" ini ?. Bagaimana seharusnya "kita" ini ?
Mencari kembali identitas diri bangsa. Kurang lebih seperti itu. Puluhan
tahun diambil siapa, revolusi batin dahsyat telah mengembalikan berbagai
kepada kita. Kita sekarang bisa bicara, bisa tidak setuju, bisa marah,
bisa ngambeg. Boleh berpikir boleh ngawur. Boleh bergerombol, boleh
menyendiri. Dalam sekejap yang semula solid sewarna jadi mosaik.
Masing-masing molekul bangsa menyalakan garis batas terang pada
sekeliling.
Apa urusan anda? Tiba-tiba ada semacam kekuatan menantang bisa
keluar terhadap sorot keberatan ketika saya sedang ngomong Jawa.
Atau ketika pakai sarung dan kopiah haji. Demikian pula dari bagian
mosaik lain muncul kesadaran yang sama. Kesadaran akan hak.
Kesadaran baru pada Bhinneka.
Pengalaman riil memaksa kita untuk menghayati Kebhinekaan
yang baru kita ketahui sebatas slogan. Mulai dari jumlah partai yang
membuat "kepala seragam" kita puyeng. Sampai pada kesulitan kita
melihat kenyataan perbedaan pandangan diluar punya kita. Dengan
mengambil contoh ekstrim: Kok Golkar bisa mendapat 20 % ? !
Kok sirik ya pada Amin Rais ? Kok ada yang tidak suka Mega ? .
Kesulitan-kesulitan semacam itu seringkali menyesatkan. Kita masih
sering memaksa melihat "rakyat" sebagai rakyat. Molekul mosaik milik
kita sebagai keseluruhan.
Kalau tidak keliru, saya menangkap tulisan mbah Soeloyo dalam
konteks kesadaran baru itu. Malahan lebih jauh, bukan sebatas
bahasa kita bhinneka malahan dalam bangsa. Artinya kita ini terdiri
dari bermacam (suku) bangsa yang karakter dasarnya bisa jadi amat
berbeda. Mbah Soeloyo menghimbau pemahaman kepada antar bahasa
yang lebih dalam. Maksudnya menuju pemahaman antar (suku) bangsa
yang lebih dalam. Penghayatan yang lebih dalam pada bhinneka tsb.
Tentunya penghayatan pada kebhinnekaan bukan berarti menuju
peleburan. Orang Jawa tidak mungkin jadi Sunda. Orang Bali tidak akan
jadi Cina atau Bugis. Demikian seterusnya. Batak tetap Batak. Orang
Banjar tetap orang Banjar, dengan segala adat istiadatnya.
Buat apa semua pemahaman itu? Secara cepat, secara "slogan"
mungkin kita akan berkata : menuju persatuan bangsa ! Tapi mungkin
ada yang mesti diisi dulu. Ada sesuatu yang terputus antara pemahaman
sampai persatuan. Sebagian besar diantara kita belum bisa makan cukup,
belum punya teduhan yang manusiawi. Atau punya ketenangan kepastian
pendapatan. Apalagi soal seperti pendidikan atau kesehatan. Kebutuhan
persatuan bangsa yang hakiki adalah kebutuhaan rasionil tingkat lanjutan.
Ekstrimnya, kebutuhan akan Eropa Bersatu baru mengental setelah
kemakmuran tingkat tinggi tercapai diantara negara-negara bagiannya.
Tidak usah sejauh itu. Tapi apakah hal itu bisa dicapai ketika sebagian
besar bangsa-bangsa kita masih hidup amat melarat. Tingkat kehidupan
yang amat tidak pantas diterima oleh species manusia saat ini.
Millenium Baru ! ?
Pengakuan existensi masing-masing molekul bangsa. Penghargaan pada
kemanusiaan. Menghilangkan segala rintangan untuk mengatur kehidupan
sendiri. Dorongan dan support kegiatan ekonomi yang sehat. Peningkatan
kesejahteraan. Percepatan peningkatan kwalitas dan kwantitas pendidikan
nasional untuk mencerdaskan bangsa. Hal-hal seperti itu mungkin akan
mempercepat kelahiran kebutuhan persatuan secara alami.
Untuk sementara, meskipun semu, persatuan yang ada, haruslah dengan
sabar dijaga sejauh mungkin. Bila kebutuhan tiba, jangan sampai kita sudah
tidak punya apa-apa.
Apakah begitu ya?
Wassalam.
Abdullah Hasan.
______________________________________________________________________
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
dengan mengirim e-mail kosong ke alamat;
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!