Tangan mencincang, bahu memikul.
Saya berharap ada keindahan baru tercipta disini.

Yap

>From: "mBah Soeloyo" <[EMAIL PROTECTED]>
>Reply-To: [EMAIL PROTECTED]
>To: <[EMAIL PROTECTED]>, <[EMAIL PROTECTED]>
>Subject: [Kuli Tinta] TERKEJUT?
>Date: Wed, 10 Nov 1999 07:25:18 +0900
>
>berikut adalah cuplikan dari suaramerdeka tentang keterkejutan
>aisyah aminy atas pernyataan presiden (yang mungkin pilihannya
>juga)
>katanya referendum bukan wewenang presiden, melainkan MPR.
>lho kan aneh, sebab yang dulu ikutan hadir di aceh menyatakan
>dukungan referendum kan juga Mr. AR yang sekarang jadi ketua
>MPR. lantas mengapa MPR yang berwenang masalah referendum
>juga tidak menanggapi? malah tanggapannya hinggap ke pundak
>GD agar dengan arif fan bijaksana?
>yang jelas rakyat aceh tahunya pemimpin negara indonesia saat
>ini adalah GD. sehingga segala tuntutan dialamatkan kepada GD,
>bukan pada lembaga atau pimpinan lembaga lain. dan yang lucu
>adalah keterkejutan AA, kok terkejut dengan lonjakan-2 sikap
>yang telah menjadi ciri khas GD yang dipilih oleh dia sendiri
>(kalau tidak salah)
>maka hehehehee.. aku hanya bisa ketawa dengan kecut.
>
>wassalam,
>
>mbah soeloyo
>------------
>Mengejutkan
>
>Wakil Ketua Komisi I DPR, Ny Aisyah Aminy, menyayangkan sikap Presiden yang
>langsung menyetujui diselenggarakan referendum untuk masyarakat Aceh,
>padahal menyetujui referendum bukan wewenang presiden, melainkan MPR.
>
>''Ini kan belum jelas apa isi dan materi referendum. Seharusnya yang
>terpenting untuk Aceh adalah memberi keadilan ekonomi dan mengadili
>pelanggar HAM. Jadi jangan terburu-buru, apalagi bukan wewenang presiden,''
>katanya kepada pers di Gedung DPR, Jakarta, Selasa.
>
>Aisyah mengatakan, sikap Presiden yang menyetujui diselenggarakan 
>referendum
>itu sangat mengejutkan, karena tak pernah ada pembicaraan atau konsultasi
>dengan DPR dan MPR. "Seharusnya adanya pernyataan persetujuan dengan DPR 
>itu
>terlebih dulu dikonsultasikan dengan MPR atau DPR," katanya.
>
>Apalagi setiap tahun MPR akan melakukan sidang dan setiap saat bisa diajak
>membicarakan persoalan penting dan mendasar. "Jangan lagi ada langkah
>presiden yang memberi opsi itu tanpa persetujuan MPR seperti soal Timtim
>yang hanya dikonsultasikan dengan pimpinan DPR."
>
>Ia mengingatkan agar Presiden tidak melaksanakan tugas di luar
>kewenangannya. "Jangan sampai terjadi lagi presiden melakukan hal yang di
>luar batas kewenangannya."
>
>"Bukan wewenang presiden memberi opsi referendum. Jangan sampai terjadi
>seperti Timtim yang hanya persetujuan pimpinan DPR. Pimpinan DPR itu bukan
>lembaga," katanya.
>
>Atas dasar itu, anggota DPR dari FPP itu menilai Presiden sewenang-wenang
>dan terburu-buru menyikapi persoalan Aceh.
>
>Padahal yang terpenting adalah memberikan jaminan keadilan ekonomi kepada
>masyarakat Aceh dan wujud pengadilan bagi pelanggar HAM.
>
>Sikap terburu-buru itu bisa merugikan karena daerah lain yang bergejolak
>bisa meminta referendum juga. Ini dianggap tidak menyelesaikan masalah yang
>mendasar. Mengingat MPR bisa bersidang setiap tahun, persoalan referendum
>seharusnya diserahkan terlebih dulu kepada MPR, bisa dilakukan atau tidak.
>"Cakupan referendum itu juga masih perlu dibicarakan apakah cukup rakyat
>Aceh atau melibatkan seluruh rakyat Indonesia," katanya.
>
>
>
>
>______________________________________________________________________
>Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
>dengan mengirim e-mail kosong ke alamat;
>Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
>Keluar: [EMAIL PROTECTED]
>
>Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>

______________________________________________________
Get Your Private, Free Email at http://www.hotmail.com

______________________________________________________________________
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
dengan mengirim e-mail kosong ke alamat;
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!










Kirim email ke