TUGAS, 01/Thn.I/Des 1999

PERAN MEDIA MASSA:
ANTARA BISNIS DAN KONTROL SOSIAL
(dari acara Peringatan tragedi Semanggi)

Oleh Linda Christanty

    Kapitalisme media mempunyai peranan penting dalam pemilihan dan
penyajian dan pempopuleran berita. Orang-orang yang berkecimpung dalam media
pers (cetak maupun elektronik) ini memiliki kekuasaan untuk membangun serta
mengarahkan pemikiran publik, kemudian memperoleh income yang mampu
menghidupi pelakunya dengan layak. ada sebuah kombinasi yang sempurna dalam
bisnis media massa, yaitu sebagai alat kontrol sosial (sosial control)
sekaligus tambang emas.
    Bila menyoroti demonstrasi mahasiswa yang katanya mampu menggulingkan
president atau rezim korup serta otoriter, maka kita akan menemukan suatu
tindakan "jibaku" (rela mati) yang menerbitkan iba dan simpati. Menjelang
kejatuhan Suharto pada bulan Mei 1998 itu, puluhan ribu mahasiswa dari
berbagai kampus di Jakarta yang menginap di gedung DPR/MPR RI memperoleh
nasi bungkus dari para simpatisan, perorangan maupun organisasi. Seringkali
orang lupa bahwa yang amat berjasa dari awal hingga akhir kejatuhan itu ,
bukan mahasiswa, LSM, elit politik sakit hati, atau partai-partai oposisi,
melainkan media massaSeluruh televisi swasta dan surat-surat kabar meliput,
kemudian menyiarkan tragedi berdarah tadi ke seluruh Indonesia, bahkan
dunia. Peristiwa bersejarah tersebut hadir dihadapan kita dan menimbulkan
reaksi maupun aksi. tak ada dampak politik tanpa mereka. Apalagi, jaringan
media internet sanggup menyuguhkan berita paling aktual hanya dalam hitungan
menit ke penjuru dunia. Inilah yang dikatakan global village oleh pakar
komunikasi MarsMcLuhan. Artinya, jaringan komunikasi telah menembus
batas-batas geografi, negara, waktu dan musim di bumi. Bahkan menurut teman
saya yang bekerja di bagian komunikasi UNESCO, Partai Amanat Nasional (PAN)
bisa meraih rangking 5 dalam oemilu lantaran menguasai media. Ia tak bisa
membayangkan bahwa di sebuah daerah terpencil ada pemancar radio milik akti
PAN.
    Pada tanggal 16 November lalu di Bentara Budaya diselengarakan satu
paket acara untuk mengenang tragedi semanggi. Saya tak setuju pada bunyi
salah-satu pamflet yang menyebutkan pristiwa tersebut sebagai gerakan
mahasiswa 1998-1999, karena kata gerakan mengandung makna berkelanjutan.
Saya pikir lebih tepat disebut momentum. Tetapi saya tetap antusias
mengikuti kronologi acara. Pertama-tama tanpil Ny. Martini, Ibunda salah
satu aktifis atau orgonisasi simpatisan.
    Kemudian tibalah pemutaran cuplikan peristiwa semanggi di televisi. Ny.
martini menekan remote control, berkali-kali. Namun, setelah dibantu
seseorang barulah tanpil adegan di layar. Selanjutnya pidato Jakob Oetoma
yang menghimbau mahasiswa kembali kekampus setelah berjuang bersama rakyat.
Saya pikir inilah jerih payah KOMPAS. Dan yang membuat saya lebih kagum,
pada kami dibagikan buku tentang federalisme. tanpaknya inipun suatu usaha
untuk memimpin dalam isu.
    Para mahasiswa dengan bangga menunjuk-nunjuk layar televisi yang
menayangkan adegan perkelahian mereka dengan polisi dan tentara.
Kadang-kadang ada yang histeris . Beberapa kali terdengar umpatan. Saya tak
tahu, apakah di sekeliling saya ketika itu memang hadir mahasiswa yang
benar-benar berani di lapangan atau cuma pendengar cerita kawan-kawannya.
Mudah0mudahan pidato
Jakop tak salah sasaran.
    Saya kira, di era terpuruknya perekonomian kita bisnis media harus mampu
membaca peluang untuk bisa bertahan dan maju. Tugasnya tak hanya
mengetegahkan berita, melainkan membuat berita (news). Tetapi itulah
resikonya, kalau dianggap tak punya nilai jual, jangan marah. Baru-baru ini
seorang aktivis dari partai gurem mengeluh: "Kok, gua ngak diberitain lagi,
Sih?"



-= Dual T3 Webhosting on Dual Pentium III 450 - www.indoglobal.com =-
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
dengan mengirim e-mail kosong ke alamat;
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!










Kirim email ke