Proses panjang yang melelahkan sejak bergemanya reformasi dipertengahan 1997, diikuti
dengan Pemilu yang penghitungan hasilnya molor luar biasa plus sidang parlemen yang
sangat dramatis telah berlalu. Pemerintah baru telah melewati hari ke 50 dengan tenang
dan nyaman. Kilas balik berikut lebih merupakan sebuah retrospeksi daripada mencari
salah siapa.
Ketika maraknya demonstrasi angkatan 66 dengan issue utama laksanakan UUD 45 dan
Pancasila secara murni dan konsekuen, rakyat berharap banyak diantara mereka masuk
parlemen dengan semangat kejuangan yang sama.
Ketika kemudian mereka memang masuk parlemen dan bahkan kemudian menduduki kursi
menteri, rakyat tahu bahwa kenyamanan jabatan telah melunturkan kejuangan mereka.
Jadilah mereka aktor akrobat politik yang hanya menjustifikasi segala tindakan
pemerintah, yang 30 tahun kemudian diketahui pemerintahan itu penuh kleptokrasi,
konspirasi, kooptasi dan KKN.
Sisa-sisa angkatan 66 mencari selamat meloncat keperahu politik yang diharapkan masih
dapat melaju.
Ketika reformasi mulai bergema, dengan issue utama pemberantasan KKN, rakyat berharap
banyak diantara mereka masuk parlemen dan pemerintahan.
Ketika kemudian mereka memang masuk parlemen dan pemerintahan, rakyat tahu bahwa yang
terjadi nggak banyak beda dengan pendahulunya, para angkatan 66.
Rakyat adalah rakyat, tempatnya dibawah, giliran mendapat bagiannya yang terakhir
kalau ada sisa, dan selalu menjadi obyek dan batu loncatan bagi politisi yang ingin
menikmati kemewahan fasilitas negara. Rakyat boleh berontak, tetapi pasti akan
ditumpas.
Pemberantasan KKN masih bergema sebagai retorika, sasaran tembak utama masih dengan
nyamannya menikmati hari tua di Cendana, para pembuat bangkrut negara masih menikmati
kemewahannya, sementara para tokoh reformasi sudah mendapat tempatnya yang nyaman
sambil terus merencanakan peningkatan posisi tawarnya dengan melempar issue heroik
yang mengandung �kebenaran�.
Saya teringat sebuah judul artikel yang menghebohkan ditahun 70-an : The faded hope of
Indonesia.
Saya tidak ingin menambahkan : over and over.
Yap