On Thu, 23 Dec 1999, hestu ciptohandoyo wrote:
> Menurut hemat saya, kehadiran PANU sebagai salah satu alternatif yang
> dihembuskan oleh sang tokoh penggagasnya (Faisal Basir : kalau nggak
> salah)merupakan bentuk kekecewaan dari sementara kader PAN yang
> menganggap bahwa PAN telah melakukan praktek politik yang tidak
> demokratis melalui fenomena "poros tengah". Jadi tidak ada hubungannya
> dengan PDI-P semata-mata. Kalaupun ada anggota DPR yang berbahagia atas
> "pecahnya" PAN, maka sebenarnya hal ini hanyalah merupakan psikologi
> politik dari sang anggota tersebut.
WAM:
Yang demokratis itu yang gimana sih?
Kalau PAN bergabung dengan beberapa partai Islam membentuk Poros Tengah
dianggap tidak demokratis, terus PDI-P yang (secara diam-diam)
bersekongkol dengan PKP, PNI dan Krisna itu terus dianggap demokratis apa
tidak? Kalau ukuran demokratis atau tidak itu hanya diukur dengan
: pokoknya PDI-P mesti memimpin, ya susah.
Justru segala apa yang dilakukan PAN dengan membentuk Poros Tengah adalah
manifestasi demokrasi itu sendiri. Tidak ada batasan untuk berkoalisi atau
apa. Jika ada yang kemudian tidak suka, justru mereka ini yang anti
demokrasi. Jika kemudian mereka mau membentuk PANU, itu adalah hak
demokrasi mereka. Tidak ada orang yang berhak melarang. Bahwa mereka ini
gemas karena tidak berhasil menarik PAN ke kubu PDI-P, sangat boleh jadi.
> Poros tengah dengan King Maker Amin Rais, menurut hemat saya merupakan
> bentuk permainan politik yang meniru fenomena Golkar jaman Orde Baru.
> Poros tengah dibentuk di MPR secara transparan mengandung kepentingan
> politik untuk membangun hegemoni baru di era reformasi, seperti ketika
> Orde Baru membangun hegemoni dengan mengajak ABRI, Birokrasi Sipil, dan
> Teknokrat pengusaha.
WAM:
Whats wrong with that?
Jika membangun hegemoni dianggap salah (padahal, ya itu dia esensi
politik!), salah juga kah dengan PDI-P yang menggalang kekuatan dari
berbagai kalangan. Bahkan dari Golkar? Jika yang kita gunakan untuk
menilai adalah standar yang sama, akan salah semua partai yang ada saat
ini.
> Dengan demikian menurut hemat saya Poros tengah tidak adanya bedanya
> dengan Golkar, khususnya dalam memainkan percaturan politik di tingkat
> formal. Inilah yang ditentang oleh sebagian kader-kader PAN dengan cara
> mendeklarasikan PANU.
WAM:
Pertanyaannya: jika penyatuan partai dengan dasar kepentingan bersama itu
dianggap salah, apakah penilaian ini juga berlaku untuk PDI-P? Salahkah
PNI dan PKP dan Krisna yang _berkoalisi_ karena mempunyai kepentingan yang
sama: mengerem laju partai Islam? Come on, pakai lah standar yang sama
untuk menilai.
> Pendapat ini tentunya masih perlu pengkajian lebih lanjut. Saya terbuka
> terhadap sanggahan maupun kritikan.
WAM:
Iya dong.
Katanya simpatisan Partai DEMOKRASI Indonesia - Perjuangan. Ya harus
terbuka terhadap pemikiran orang lain. Supaya huruf P terakhirnya tidak
diganti dengan _Pemaksaan_. Ini era demokrasi bung.
-= Dual T3 Webhosting on Dual Pentium III 450 - www.indoglobal.com =-
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
dengan mengirim e-mail kosong ke alamat;
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!