Kalau saya melihat acara Maluku Bersatu semalam, dan kemudian itu dikaitkan dengan model kepemimpinan GD dalam penyelesaian masalah, maka ada kecenderungan-kecenderungan: 1. GD tidak reaktif dan lebih menempatkan efektifitas diatas efisiensi. 2. Langkah atau pemikiran GD untuk menyelesaikan masalah sulit dimengerti atau diprediksi sehingga agak menyulitkan "lawan-lawan politiknya" atau pengamat, karena terkadang GD sudah melangkah jauh di depan. 3. GD cenderung mengisolasi masalah agar tidak menjadi besar dan baru kemudian menyelesaikannya. Ketiga butir diatas tampak jelas dalam asus Aceh, dimana kepergian GD ke beberapa negara sangat efektif untuk mengisolasi kasus Aceh dari campur tangan unsur asing. Bahkan hal itu juga diagendakan dalam sidang Negara islam Dunia. Dalam hal ini, tak kurang Ketua DPR mengkritiknya. Juga, salah satu butir Pernyataan Rakyat Maluku di Jakarta dan sekitarnya yang menyatakan bahwa para politisi hendaknya tidak menjadikan Maluku sebagai komoditas politik jelas sebuah hantaman langsung terhadap para politisi dimaksud. Meskipun hanya mewakili Rakyat Maluku di Jakarta dan sekitarnya, namun disamping dihadiri para pemuka agama yang sedang bertikai juga ikrar pernyataan itu disampaikan di Pusat Kekuasaan dan di depan Presiden dan Wakil Presiden. GD menyebutnya sebagai Malari II serta hanya selang beberapa hari dari ancaman batas waktu penyelesaian kasus Ambon terhadap GD dan MW di Monas yang menghebohkan itu.. Sebentar lagi GD akan mengunjungi 11 negara dalam 14 hari. Misi atau langkah apa yang akan dijalankannya? Apakah itu juga ada kaitannya dengan penyelesaian masalah politik dalam negeri? Apakah ada yang akan di isolasi lagi? �� -=== FREE Handphone @ http://www.indoglobal.com/dedicated.php3 ===- Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI Bergabung: [EMAIL PROTECTED] Keluar: [EMAIL PROTECTED] Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!
