Kang ginita lelaguning gendhing
    Soroh Yudha pambukaning sekar
    Dhandhang Gula Turu Lare
    Binarunging swara rum
    Ruming raras kang milangoni
    Wiramaning lancaran
    Mung kinarya gecul
    Pepathete datan oncat
    Wus kacakup cakepane datan cicir
    Ngger-angger Soroh Yudha
(Yang didendangkan ini adalah syair lagu
Soroh Yudha (perjuangan) dengan pembukaan tembang
Dhandhanggula Turu Lare (Dandanggula Anak Tidur)
Dihias dengan suara harum
Keharuman (keindahan) suasanya yang menghanyutkan
Iramanya yang dinamis
Hanya sebagai pijakan
Aturannya tidak boleh tercecer
Semua tercakup dalam sekenario yang tidak cacat
Itulah pokok aturan berjihad (berjuang) demi kebaikan)
------------------------------------------------
cat: Posting ini adalah terjemahan posting saya ke ML-2
berbahasa jawa beberapa hari berselang
------------------------------------------------
Dalam suasana pikiran yang semakin kalut, membuat jalan
berpikir yang aneh. Sampai akhirnya suatu tembang
pembukaan suatu "gendhing Soroh Yudha" malah menginspirasikan
suatu aturan dalam berjuang atau berjihad. Maka, maafkan saya
terutama bagi yang memahami tembang-2 Jawa, bila interpretasi
ini melenceng dari makna sesungguhnya Tembang Soroh Yudha
di atas.
Saya benar-benar bingung, pusing dan jengah atau linglung
membaca posting (terutama forward-postings) akhir-akhir ini
yang menceritakan kondisi Maluku Utara yang katanya berkecamuk
perang agama (Agama Yudha, seperti yang pernah saya istilahkan
sekitar setahun yang lalu). Berita serasa aneh, karena kalau benar
perang antar agama, mengapa hanya salah satu agama saja yang
gencar menceritakan kekalahannya (korban maksudnya), sementara
secara otomatis, yang menjadi pemenang (berhasil membantai) kok
adem ayem saja. Untuk itu saya coba membuka berbagai server news
gratisan manca negara, khusus sudah saya tujukan ke south east asian,
dengan subentry indonesia lagi. ternyata hasilnya NOL. Malah berita
basi sekelas timor-timur dan aceh yang mewarnai. Selebihnya masalah
perpolitikan China, Malaysia dan lagi-lagi kenaikan harga minyak
Phillipinna
serta Myanmar.  Kata-2 Mollucas, Ambon, Ternate, Tidose Kao-Malifut,
tak nampak secuil-pun. Perasaan menjadi semakin mual, dengan posting-2
dari arek-suroboyo@ yang bebas-2 sudrun itu. Apalagi, setelah melihat
foto demonstrasi di depan istana yang menyertakan anak-anak di bawah
umur, untuk ikutan menekan pemerintah.
    -------oO0Oo-------
Ya sudah kalau memang mau disebut perang agama. Namun sesungguhnya
untuk berjuang atau berjihad tetaplah ada aturannya (jawa:
angger-angger)
Tidak asal berjuang. Aturan atau syarat berjuang itu di budaya jawa
diujudkan dalam satu tembang dandanggula berjudul SOROH YUDHA.
Pantas bukan kalau pada jaman kuna seorang KALIDHASA dari India
menggambarkan aturan berperang itu dalam Seloka BHAGAWATGITA?
Yang merupakan pembukaan dari wira-carita BHARATAYUDHA.
Pada karya Kalidhasa itu dijelaskan bahwa bila sudah berkecamuk
suatu peperangan, maka orang yang berperang sudah tidak lagi
mempunyai atribut-2 sosial dan spiritual. Tak ada lagi kedudukan
kakek-cucu, kakak-adik, guru-murid. Semua ajaran pun tak lagi
berperan dalam mengendalikan "otak" yang sedang berperang.
Yang ada hanya dua kemungkinan, lawan atau kawan. Aku atau
Kamu yang LALU (mati). Makanya orang jaman dulu lebih bijak.
Untuk menghadapi suatu peperangan, perlu aturan. Kerajaan
yang akan menyerang kerajaan lainpun dilukiskan mengirimkan
surat tantangan dengan alasannya, mengapa mereka menyerang.
Itu menunjukkan jalan ksatria, bushidou kalau bahasa jepangnya.

Orang Jawa menggambarkannya sebagai tembang Dandanggula
TURU LARE, suatu jenis tembang berisi nasihat untuk kaum
muda dengan pembukaan, agar kaum muda tidak senang tidur
sore hari. Karena saat itulah banyak dewa berkeliling jagad,
memercikkan air-suci dari bokor-bokor emasnya. (senja atau
sore sering ditamsilkan untuk penggal umur manusia menjelang
ajal, dan anjuran untuk tidak tertidur di sore hari artinya,
agar manusia bijak tidak lepas dari kewaspadaannya, apalagi
bagi yang telah senja).

Tembang itu dengan irama "lancaran" suatu irama gamelan
yang dinamis berubah-ubah laras dan tempo iramanya. Tidak
perlu "sampakan" irama monoton untuk mengiringi gerak
kaum "Asura", dendawa brekasakan, yang digambarkan
sebagai makhluk keras kepala (mbeguguk makutha waton),
hanya mengandalkan (bermahkotakan) konstitusi (waton atau wewaton),
hukum, undang-2, ajaran dan fanatisme saja.

Irama lancaran itupun harus dihias dengan suara harum yang cocok
dengan larasnya. Dan semua itu hanya untuk pembukaan, untuk memenuhi
syarat perlu tidaknya berangkat perang, "budhal ing pabaratan".
Sehingga
laras irama itu hanyalah suatu GECUL. Modhal dasar berbuat sesuatu,
dengan
ketentuan-2 yang tidak boleh tercecer. Dengan demikian, maka darah
ksatria
yang memahami aturan peperangan dan sebab-sebab mengapa harus
berperang jelas adanya, dapatlah dengan suka-cita berangkat berperang.
Tidak peduli menang atau kalah, karena mereka berperang sesuai dengan
dharmanya. Bukannya sebaliknya, hanya asal berteriak, amuk
kesana-kemari,
menjelek-jelekkan musuh..

Kalau semua dipahami, maka tidak akan mudah terpancing ikut-ikut
mengamuk, hanya gara-gara mulut dan tangan kotor yang memprovokasi.

Sekarang keadaan di negeri sendiri demikian terbaliknya. Ada perang
agama,
padahal, apa guna agama bagi manusia beragama? Apakah dalam agama-2
itu ada ajaran untuk bunuh-bunuhan? Rasanya tidak!!!
Ingatlah, sekarang ini sudah bukan jamannya Empu Kalidhasa atau
jaman ASOKAWARDHANA, yang dengan mengikuti KUDA mbandhang,
memimpin sepasukan perang untuk menjajah negeri-2 yang dilalui
sang kuda dalam sesaji ASWAMEDHA. Sekarang ini ibaratnya
Negeri Wora-wari dan Singhasari sudah tak ada lagi bedanya.
Mengapa malah sibuk berperang bertudungkan AGAMA?
pusing aku.....

    mBah Soeloyo
    Moderator ML JOWO  WOJOSETO
    SURADIRA JAYANINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI
    langganan: [EMAIL PROTECTED];









-===  FREE Handphone @ http://www.indoglobal.com/dedicated.php3  ===-
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!

Kirim email ke