-----Original Message-----
From: �� <[EMAIL PROTECTED]>
1. Toko milik WNI keturunan Cina jadi sasaran penjarahan
Ini murni Gali (preman) atau murni SARA?
Sayang kan?
============================================
Newsweek , 17 Januari , laporan Kathleen Reen dari Ambon:
" ....Saya melihat dari dalam Gereja. Diluar sana gerombolan orang-orang
Kristen sedang berpawai, nyanyi-nyanyi serta ketawa-ketawa. Dan menyeret
mayat islam tanpa kepala. Dibelakang, beberapa anak2 kecil menenteng katepel
mengikuti keramaiaan. Pastor disebelah saya menggeleng kepala : " Waktunya
bagi saya untuk keluar dari sini. Saya ingin pergi bersama anak saya
ketempat tanpa Tuhan yang tidak hal2 seperti ini." Dimana itu ?: Saya
bertanya. " Las Vegas ". Kata sang Pastor........................."
Sang Pastor yang di Ambon itu terang merasa mules , nek dan muak melihat
suasana Setan di sekitar Gerejanya. Sang Pastor merasakan kebiadaban
ummatnya. Sang Pastor jauh dari rasa arogan, atau innocent, merasa bahwa
dari kalangannya tidak mungkin lahir kebiadaban dan kebencian pada orang
yang cuma tidak seagama . Berbeda benar dengan reaksi beberapa peserta milis
ini ketika ada yang mencoba membuka matanya bahwa ratusan orang mati ngenes
dalam minggu-minggu lalu dan mungkin hari-hari ini.......
Bung Aswat,
Kurangnya sense of crisis ( mungkin percaya korban cuma lima , seperti Gus
Dur) menyebabkan anda secara tidak sadar mau membandingkan korban ribuan
mayat islam segar yang mati minggu lalu atau 771 mayat tergorok leher
keterangan resmi polisi yang masih anda ragukan) dengan penjarahan beberapa
Toko ? Atau dibakarnya sepuluh-duapuluh gereja ?
Apakah anda mengira reaksi ( Gali, menurut bahasa "halus" anda ) Muslimin
cuma bisa sampai segitu saja ? Bagaimana kalau terjadi pembalasan di Jawa
ini ? Reaksi dingin , menutupi keadaan dan fakta , pura-pura tidak tahu
yang mengakibatkan tidak tahu betul ), perasaan arogan merasa lebih beradab
dari orang "islam", amatlah berbahaya sekali. Di buntunya kesempatan
mengeluarkan perasaan simpati dan kegetiran , yang diartikan sebagai move
politik murah , cuma bakal mengakibatkan terjadinya ledakan yang tentu jauh
lebih dahsyat. Memandang rendah bagai tikus seorang "mulut ummat" seperti
Amin Rais adalah terlalu naif serta membuat pedih banyak orang. Diperlukan
kemauan untuk membuka mata , hati dan kuping untuk mengetahui fakta yang
betul. Diperlukan nurani jeli mengenali siapa-siapa yang sedang lari ngungsi
di kapal-kapal , di luar pulau, di pengungsian-pengungsian . Apa saluran TV
sampai di daerah anda ?
Kedaan kepepet yang tidak kita harapkan , mengakibatkan orang-orang baik
seperti kita-kita ini tidak segan mengasah pedang berbuat hal-hal yang tidak
masuk akal "saat ini'. Untuk itu marilah sama2 kita berusaha mengetahui
keadaan yang sebenarnya, mau melihat pahitnya keadaan. Setuju pada dorongan
pada pemerintah untuk tidak berlamban-lamban bersikap tegas. Mari kita
pepetkan pemerintah dengan opini umum untuk segera bertindak. Bukan cuma
ngomong saja seperti sementara ini. Pemerintah sudah ganti, Panglima sudah
ganti, Kok masih terjadi saja jatuhnya korban ribuan mayat-mayat (Islam)
yang baru.......
Mas Drajat,
Alhamdulillah, Hasil dari Tabligh Akbar rupanya berhasil mampu mengendalikan
perasaan kepepet dan putus asa yang sudah ngepul sampai diubun-ubun....
Tidak ada korban nyawa . Cuma Gereja. dan beberapa Toko. Kalau keadaan bisa
normal, nanti kita sama-sama patungan untuk membangunnya kembali. Kalau
nyawa dan keluarga, di hyper market belum ada. Apa di Japan sana sudah ada ?
Wassalam.
Abdullah Hasan.
-=== FREE Handphone @ http://www.indoglobal.com/dedicated.php3 ===-
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!