Dengan gaya retorik, yang dilandasi oleh keprihatinan, terutama menyangkut 
agama yang menjadi anutannya, Islam, mbah Soel mencoba mengusik nurani kita 
bersama, khususnya para muslim, tentang sebuah peristiwa yang memilukan yang 
terjadi di Mataram. Intinya, ada peristiwa kerumunan massa, yang bertajuk 
Tabligh Akbar, yang berujung pembakaran gereja, dan penjarahan toko-toko 
Cina. Jelas, keberadaan mbah Soel yang nun di rantau, tak memungkinkan 
beliau untuk hadir dalam peristiwa tersebut. Maka tak lupa beliau 
melampirkan sepenggal berita yang diperolehnya dari media online, SM. Judul 
yang dipakai pun cukup mengusik kita untuk berpikir, bukan terhadap 
penggunaan kata pada judul tersebut, tetapi lebih kepada, mengapa peristiwa 
seperti itu terjadi (dan diawali dengan sebuah aktivitas keagamaan?).

Ferli menggugat mbah Soel, bukan terhadap materi pokok, tetapi penggunaan 
kata'Tabligh Akbar' di bagian judul. Bahkan, Ferli menista mbah Soel sebagai 
'melecehkan' sebuah agama.

Sebenarnya, siapa yang lebih melecehkan, antara mbah Soel yang mencoba 
membangunkan kita, dengan mereka-mereka yang menggunakan kata-kata Tabligh 
Akbar sebagai sarana untuk menghimpun massa, lalu berlanjut dengan peristiwa 
yang mengenaskan itu? Tidakkah justru mereka itu yang menista agamanya 
sendiri, dengan menimbulkan ketakutan yang tak terperi, dan dikutuk habis 
oleh, tak kurang, dari Amien Rais?

Kadang kita memerlukan kemampuan untuk menangkap substansi, dibanding cuma 
cepat meradang oleh sekedar kulit-kulitnya.
______________________________________________________
Get Your Private, Free Email at http://www.hotmail.com


-===  FREE Handphone @ http://www.indoglobal.com/dedicated.php3  ===-
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!










Kirim email ke