Mas Edi, bahkan Anda tidak merasa perlu untuk mengkonfirmasikan dulu
interpretasi Anda atas mbah Soel dan saya pada masing2 kami? Untuk subjek
ini, Anda tidak merasa perlu berdialog, tapi cuma mengumumkan interpretasi
Anda, se-olah2 Anda memegang hak monopoli interpretasi?

Yg mana dari kutipan di bawah ini yg menyuarakan 'keprihatinan'? (Klaim
'prihatin' mBah disebutkan pada posting atas tanggapan saya, bukan pada
awalnya) Terus terang, saya lebih menangkap nada menyalahkan atau memojokkan
kaum muslim:

[membaca berita suaramerdeka (koran kebanggaan lho) rasanya tak ada lagi
penilaian, komentar atau analisis apapun atas kejadian kerusuhan di MATARAM
(pulau lombok) ini. suatu pulau NTB yang mayoritas penduduknya Islam.
melihat konotasi kejadiannya yang setelah tabligh akbar, dapatlah anda
simpulkan sendiri. massa memakar dan merusak rumah ibadah suatu agama (tanpa
disebutpun sudah tahu, karena dihubungkan dengan MALUKU UTARA). bagaimana
ini, setelah TABLIGH AKBAR malah MEMBAKAR?]

Yg sekarang mungkin perlu saya tahu dari Anda, Mas Edi, apakah sebelumnya
mBah pernah menyuarakan 'keprihatinan' dlm nada yg sama untuk pembantaian
atas masyarakat muslim di Maluku? Kalau ya, tolong tunjukkan postingnya
sebagai bukti. Saya akan sangat senang dan lega bila ternyata keliru dlm
menganggap bahwa mBah Soeloyo tidak adil dan sekedar memojokkan kaum muslim.

Point saya dlm silang-pendapat dgn Mbah Soel dalam thread ini adalah
keberatan saya atas *cara penyampaian* yg terkesan memojokkan kaum muslim.
Silakan bilang bahwa ini bukan substansi. Tetapi kalau tidak ada usaha
secara sadar utk menghentikan kecenderungan saling memojokkan antar pemeluk
agama, maka kita tunggu saja ledakan yg lebih besar.

Salam,
Ferli

-----Original Message-----
From: edi purwono [mailto:[EMAIL PROTECTED]]
Sent: Wednesday, January 19, 2000 3:28 PM
To: [EMAIL PROTECTED]
Subject: [Kuli Tinta] Mbah Soel


Dengan gaya retorik, yang dilandasi oleh keprihatinan, terutama menyangkut
agama yang menjadi anutannya, Islam, mbah Soel mencoba mengusik nurani kita
bersama, khususnya para muslim, tentang sebuah peristiwa yang memilukan yang
terjadi di Mataram. Intinya, ada peristiwa kerumunan massa, yang bertajuk
Tabligh Akbar, yang berujung pembakaran gereja, dan penjarahan toko-toko
Cina. Jelas, keberadaan mbah Soel yang nun di rantau, tak memungkinkan
beliau untuk hadir dalam peristiwa tersebut. Maka tak lupa beliau
melampirkan sepenggal berita yang diperolehnya dari media online, SM. Judul
yang dipakai pun cukup mengusik kita untuk berpikir, bukan terhadap 
penggunaan kata pada judul tersebut, tetapi lebih kepada, mengapa peristiwa
seperti itu terjadi (dan diawali dengan sebuah aktivitas keagamaan?).

Ferli menggugat mbah Soel, bukan terhadap materi pokok, tetapi penggunaan
kata'Tabligh Akbar' di bagian judul. Bahkan, Ferli menista mbah Soel sebagai
'melecehkan' sebuah agama.

Sebenarnya, siapa yang lebih melecehkan, antara mbah Soel yang mencoba
membangunkan kita, dengan mereka-mereka yang menggunakan kata-kata Tabligh
Akbar sebagai sarana untuk menghimpun massa, lalu berlanjut dengan peristiwa
yang mengenaskan itu? Tidakkah justru mereka itu yang menista agamanya
sendiri, dengan menimbulkan ketakutan yang tak terperi, dan dikutuk habis
oleh, tak kurang, dari Amien Rais?

Kadang kita memerlukan kemampuan untuk menangkap substansi, dibanding cuma
cepat meradang oleh sekedar kulit-kulitnya.

-===  FREE Handphone @ http://www.indoglobal.com/dedicated.php3  ===-
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!










Kirim email ke