Ini posting saya untuk tiongha-net@ dalam topik perasaan natal
bersama. Yang rupanya dengan nuansa lain muncul di kuli-tinta
ini perihal kerukunan umat antar agama.(bukan kerukunan agama
lho ya....)
mudah-mudahan memancing kenangan-kenangan "jernih" yang lain
untuk menjadi pegangan mencari kerukunan....
--------------------------------------------------
Mengenang masa kecil, memang kadang menimbulkan kerinduan.
Rindu akan kebahagiaan tanpa beban. Keceriaan yang sulit dicari
akhir-akhir ini padanannya.
Seperti dengan Pak Jim dan Mas Mustafa, suasana kerukunan itu
sempat sangat dalam saya rasakan ketika kecil, hingga remaja.
Bahkan, saya memeluk agama Islam sekarang ini, menjadi semakin
mantab dan tidak akan berpindah lagi, setelah mendapat nasihat
dari seorang biarawan Katholik, Br. Arietas Soekotjo, yang adalah
guru saya ketika SMP. Seorang guru spiritual yang tidak lagi
memandang agama muridnya, semata hanya ingin mengajak
agar para muridnya menjalankan ajaran agamanya dengan
konsekuen dan benar. (saya waktu itu mendapat dispensasi
untuk pulang awal bila Jum'at, namun sering saya manfaatkan
untuk kenakalan keremajaan saya, main ke pasar hewan... hehe).
Suatu ketika Bruder ini berkata: "Kalau ditinjau isinya, kitab-kitab
suci agama, maka yang paling lengkap adalah al-Qur'an, kitab
sucinya si Drajad itu. Tetapi saya tetap menjalani kebiarawanan saya,
karena sudah mengikat janji dengan Tuhan. Siapa yang berani
melanggar sumpah kepada Tuhannya? Oleh karena itu, mulai
saya jadi kepala sekolah ini, sengaja hari Jum'at saya bebaskan
dari ulangan harian di siang hari. Agar saudara-saudara kalian,
seperti Drajad itu bisa ikut sembahyang Jum'at. Ya kan Jad..
ayo kamu itu mbok menjalankan agamamu dengan benar!"
Sayang karena kebodohan dan kenakalan saya, kata-kata Bruder
itu justru baru muncul kembali dari alam bawah sadar setelah
melihat kenyataan, Agama menjadi permasalahan besar bagi
PERSATUAN BANGSA, akhir-akhir ini. Padahal banyak ajaran
beliau selama saya menjadi muridnya tentang pentingnya menjalankan
substansi keagamaan, bukan sekedar kulit-mulitnya.
Betapa baru saya sadar, dulu ketika kecil hanya keindahan yang
membekas. Suatu keindahan tersendiri ketika pada acara Natalan
kata-kata pembukaannya "Dumateng para sedherek Kristiani,
Romo, ingkang nembe bahagia mangayubagya Natalan, Assalaamu'
alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh..." Karena acara dibuka
oleh Pak Lurah Djarwo Soetiardjo, seorang lurah sederhana
yang sekaligus mengelola dan menjadi imam mesdjid kampung
halaman saya. Suasana itu sekarang ini sangat langka rupanya.
Ketika antar umat beragama saling bertengkar. Bahkan dalam
agama yang sama pun terjadi perebutan KEBENARAN menurut
versi aliran atau sektenya....
tabik,
mBah Soeloyo
Moderator ML JOWO WOJOSETO
SURADIRA JAYANINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI
langganan: [EMAIL PROTECTED];
eGroups.com home: http://www.egroups.com/group/wjseto
-=== FREE Handphone @ http://www.indoglobal.com/dedicated.php3 ===-
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!