Mari kita renungkan berita dari Surabaya Post ini: UTAMA Jum'at, 21 Januari 2000 Surabaya Post Lakon Duka Ternate-Mataran-Jatim Tangan Allah, Haji Muslik, dan Samuel AMUK massa membawa luka menganga bagi rakyat. Mereka --baik di Ternate, Maluku Utara, hingga Mataran-- hanya bisa melakukan satu gerakan: mengungsi. Dan seolah buntu pilihan lain. ---------------------------------------------------------------------------- ---- Mathius (42), yang ada di antara gelombang pengungsi dari Mataram, memberikan kesaksiannya: Saat itu dia bersama dua anaknya meninggalkan Mataram, yang dilanda amarah massa. Mobil yang ditumpanginya lolos dari amuk massa karena mereka menumpang mobil seorang anggota ABRI. "Mobil yang kami tumpangi sempat dihadang perusuh tapi karena yang mengemudikan ABRI akhirnya kami gagal diperiksa KTP sampai ke terminal bus," katanya ketika ditemui di Dermaga Gapura Surya, Tanjung Perak, Kamis (20/1) siang. Hidup pria asal Ternate itu begitu tragis. Ibarat lolos dari mulut harimau masuk mulut buaya, hidup keluarganya berkutat dari kerusuhan satu ke kerusuhan lain. Tragedi Ternate membuat kehidupan rumah tangganya berantakan sebab kerusuhan di tempat kelahirannya itu tak kunjung reda. Setelah itu, dia pilih ke Mataram dan harus berpisah dengan istrinya, Yayuk (38), tiga bulan lalu. "Saat meletus kerusuhan di Ternate, Yayuk pergi belanja. Saya dan anak-anak di rumah. Saat rumah kami dan para tetangga diserang massa, saya bersama dua anak saya lari menyelamatkan diri. Lalu bersembunyi di rumah seorang muslim asal Bondowoso. Istri saya sendiri saat itu tidak diketahui nasibnya," ujarnya. Setelah merasa agak aman, oleh keluarga muslim itu, Mathius bersama dua anaknya diantar ke pelabuhan. Selanjutnya dinaikkan kapal barang menuju Mataram. "Semua biaya perjalanan yang nanggung Haji Muslik. Jasa mereka tidak akan kami lupakan. Kami berutang nyawa pada keluarga itu," katanya, kedua matanya meneteskan airmata lara. Sebelum berangkat, bapak dua anak itu menghubungi adiknya yang ada di Mataram. Sang adik menyuruh Mathius menenangkan diri di wilayah yang terkenal aman tersebut. Sebulan di Mataram, Mathius baru tahu kabar tentang istrinya. Yayuk selamat dan kini menumpang di rumah rekannya asal Prambon, Nganjuk, Jatim. Atas kesepakatan bersama, akhirnya Mathius menyuruh istrinya menyusul ke Mataram. Namun, rencana itu akhirnya dibatalkan setelah di Mataram ternyata juga meletus kerusahan. Ya berbau SARA pula. Maka, Suhadi, adik Mathius yang menjadi karyawan Pemda Mataram, pun memutuskan mengirim Mathius dan dua anaknya ke keponakannya di kawasan Manyar Kertoarjo Surabaya melalui darat dengan transit di Bali. Rencananya, Kamis (20/1) pagi, istrinya tiba di Pelabuhan Tanjung Perak naik kapal Motor Lambelu dari Ternate. Tapi setelah kapal menurunkan penumpang dan meninggalkan Pelabuhan Tanjung Perak, istrinya belum juga ditemukan. Padahal, Martha (10), dan Yanti (14), setiap malam selalu menangis, kangen sama mamanya. "Sampai sekarang saya belum berhasil mengontak istrinya lagi," ujarnya. Ditolong Samuel Tragedi Ternate juga membuat trauma keluarga Subandi (47), asal Tanggunung Kab. Tulungagung. Ditemui di Gapura Surya, Kamis, keluarga petani ini sudah bertekad tidak akan kembali lagi ke Ternate. Alasannya, kerusuhan di kawasan itu nyaris membuat dirinya pisah dengan istri dan tiga anaknya. "Andai saya saat itu tidak cepat ditolong oleh keluarga Samuel, mungkin saya sudah mati dibantai massa," katanya. Pertolongan Samuel dan istrinya, lanjut Subandi yang rajin salat Tahajud, tidak bisa dilupakan sepanjang hidup penjual nasi pecel ini. Berkat pertolongan mereka keluarganya bisa kembali ke tanah kelahirannya. Subandi didampingi Ny Tukinem serta tiga anakya, Yadi, Muhammad, dan Ikbal, mengatakan, dirinya bisa keluar dari amuk massa sungguh sebuah perjuangan yang berat. Maut seolah datang dari segala sudut kota. "Tapi saya yakin, dengan mendekatkan diri kepada Allah, semua bisa dilalui dengan selamat," katanya. Tangan Allah memang yang diyakini meloloskannya dari maut di Ternate. Saat itu keluarganya sedang berjualan nasi pecel, mendadak sekitar pukul 13.30 Wita, serombongan massa membawa pentung dan senjata rakitan melakukan razia KTP. Mereka tak segan-segan menganiaya orang-orang yang berlainan paham. Subandi bersama istri dan tiga anaknya yang jelas beda paham pun panik. Padahal mereka sudah merangsek masuk kampungnya. Tanpa ba bi bu, keluarga Subandi kabur dari rumah hanya berbekal uang Rp 300 ribu dan kalung emas senilai Rp 350 ribu. Di tengah perjalanan, mereka bertemu Samuel, yang saat itu mengemudikan mobil Kijang. Dan karena antara keluarga Samuel dengan keluarga Subandi sudah kenal baik, akhirnya keluarga Subandi diangkut mobil Samuel dibawa ke rumah saudaranya yang tak jauh dari pelabuhan. Menurut pengakuan Samuel, seperti dituturkan Subandi, dia sengaja menuju lokasi itu untuk menolong keluarga yang sedang kemalangan itu. "Keluarga Samuel sudah mendengar, rombongan massa hendak razia ke kampung saya," katanya. Atas kebaikan itu, Subandi dalam waktu dekat akan memberikan rumahnya yang ada di Ternate kepada keluarga Samuel. "Ya kira-kira harga rumah itu jika dijual sekitar Rp 45 juta. Kami pulang saja, dia (Samuel. Red) memberikan uang kepada kami Rp 1 juta," katanya. Kepulangan Subandi bersama keluarga ke Jatim dari Ternate naik kapal barang milik saudara Samuel yang kebetulan mengirim barang ke Surabaya. Begitu indah bersaudara. Lalu mengapa kita harus selalu bersengketa? (Bambang Sujarwanto) -=== FREE Handphone @ http://www.indoglobal.com/dedicated.php3 ===- Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI Bergabung: [EMAIL PROTECTED] Keluar: [EMAIL PROTECTED] Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!
