From: Riad Mustafa <[EMAIL PROTECTED]>
> From: Sony Putra Samapta [SMTP:[EMAIL PROTECTED]]


> Tapi kalau pemusik di Indonesia mereka sebagian lebih suka
menghasilkan
> lagu yang merangsang emosi, birahi,kecengengan dari orang
> Indonesia.Sampai ambil Issabella dari Malaysia aja yang ngak
juntrungan
> sampai meledak disini.Ato jagung bakar yang sering ditanggap saat
> kondangan karena ampuh untuk meramaikan acara goyang-gaying yang
> berakhir dengan pertarungan antar desa.

mBin;
demikian juga kah dengan pemahaman dan penghayatan dan pengamalan
penganut agama di indonesia,
cengeng.... penuh emosi dan birahi... dan masih suka meledak-ledak...
bahkan hobinya main bakar-0bakaran dan darah-darahan....
cacai-makian adalah suara sehari-hari di segenap penjuru nusantara....
pemahaman dari malaysia pun punya penggemar yang aduhai...

> Riad>> 
> Musik sebagai "pemicu"? Nggak sreg kayaknya.  Waktu di SMA-an, ketika
> diadakan lomba tahunan baris-berbaris diiringi musik, ada beberapa
kelas
> milih musik dangdut, rock paling banyak dan menyusul pop-rock.
> Event-nya sama musiknya bisa beda.  Analogi yang sama: masyarakatnya
> sama/desa, musiknya bisa dipilih dong.  Tapi, kebanyakan pilih
dangdut
> (masalah kenapa mungkin bung Sony mo nambahin).  Mungkin catatan yang
> bagus, adalah bahwa musik adalah salah satu wadah
> pengekspresian/pengartikulasian dari ide kita.  

mBin:
mungkinkah sama dengan pemilihan agama dan cara beragama
orang indonesia ? 
setiap agama en musik seolah memilih penganutnya ?
eh.. yang ini salah kali.....

> Mungkin lagu yang berdasarkan pemahaman bisa bertahan lama cenderung
> abadi.Seperti 
> Camellia--Ebiet G Ade(HB Fav)
> Stairaway To Heaven--Led Zeppelin(my Fav)
> Sympathy for Devil--Rolling Stones (Koh Gu fav)

> Riad>>
> Saya setuju kalau musik kayak Ebiet G. Ade bisa bertahan lama, dari
> generasi ke generasi.  Mungkin kidung/balada yang diekspresikan bung
> Ebiet mampu menangkap semagat hidup manusia yang nilainya terus
menerus
> ada selama manusia ada?  

mBin:
nama-nama tertentu bisa awet,
seperti disebutkan sebelumnya di bagian 1,
mereka awet karena melagukan hal yang universal...
(apa sih yang disebut universal itu ?)

ada penyanyinya yang awet, model chrisye..
doi selalu kontekstual, mau beradaptasi dan memperbarui...
bahkan mungkin disebutjuga opor-ayam-tunis..

agama atau cara beragama ada juga yang awet,
ada yang karena niulainya, ada yang karena mau menangkap perubahan...


> Tapi biasanya daerah peralihan suka dipakai untuk mengetahui
interaksi
> musik dari barat untuk lintas ketimur atau sebaliknya.Jepang atau
Korea
> suka dipakai ajang oleh pemusik barat untuk menilai pasar Asia.
> 
> Riad>>
> Saya kurang setuju.  Musik tidak melangkah berdasarkan sifat
demografis.
> Mungkin aja, sementara astronaut di space-shuttle nya saban maen-maen
> ngitarin bumi mereka memainkan musik yang sesuai seleranya.  
> Alasan yang lebih bagus, Jepang dan Korea adalah negera maju yang
> berarti adaptasi musik-musik dari negeri maju lainnya, utamanya dari
> amrik dan europe, lebih cepat dibanding negeri asia lainnya.  Kalau
> dikatakan batu-loncatan mungkin bisa, untuk menanam fundamen di
> negeri-negeri tersebut sebelum melebarkan ke negeri-negeri sekitarnya
> yang pangsa pasarnya besar nian.<<

justru musik dan mungkin agama kebanyakan berawal dari alam,
dan berarti sangat demografis....
agama samawi berangkat dari kehidupan padang pasir keras timurtengah...
yang penuh dengan peperangan, hukuman, dengan segala dambaan
surgawinya...
musik afrika sangat berbeda dengan jawa, demikian juga indian dan
cina..
meskipun ada nuansa yang sama.

hindu sangat indiahe sekali, budha, tao dan konghucu berangkat dari
unsur manusia...
karena di india dan cina sangat banyak manusia.....

> Tapi sebenarnya musik mungkin seperti agama,musik barat jauh
> meninggalkan Musik Indonesia.Seperti barat jauh meninggalkan
teknologi
> indonesia.Atau lebih baik seperti Jepang beradab Timur tapi mempunyai
> pemikiran maju seperti Barat.

> Riad>> 
> Musik tidak bergantung pada teknologi. Musik angklung, yang sudah
> sering dibawa ke luar negeri, dan kadang-kadang "juga" mendapat
tepukan,
> sepertinya kurang sreq kalau diinteraksikan dengan teknologi.
> Memberikan "nilai" dan membandingkannya, seperti "musik barat jauh
> meninggalkan Indonesia" sepertinya tidak dalam satu konteks.  Musik
> adalah ekspresi.  Ekspresi apapun yang dihasilkan, itulah musik.
> Berbicara tentang musik, dalam pikiran saya, adalah bercerita tentang
> berekspresi.  Mengenai bagaimana meng-ekspresikan, apakah by
technology,
> ataupun tidak, (seperti angklung), mungkin bisa dijadikan bisa
menjadi
> satu konteks dimana dalam konteks itu bisa dicoba-coba mengajukan
suatu
> nilai, seperti: "musik di amrik yang dihasilkan dari dapur musik yang
> berteknologi canggih lebih maju dibanding Indonesia yang berteknologi
> tradisional" misalnya.>>

mBin:
soal lebih maju atawa lebih mundur,
saya sangat tidak setuju sekaleeee.
memang ada teknologi yang mempengaruhi musik,
namun nilai yang keluar tetaplah tergantung pada si pemusik dan
penikmatnya...
dan itu bisa sangat indivisual..

agama juga ada yang tidak mengguanakn teknologi atawa nalar,
namun ada juga yang snagt rasional atawa dirasionalisasi,
namun tetaplah nas atawa buahnya ditentukan oleh si pemeluk...
bukan oleh nalar atawa bukan nalar...

kita bisa menghargai nartosabdo..atawa led zeppelin.. atawa
vanhallen... atawa mozart...
juga slamet abdulsukur, jadug ferianto, ravi shankar,  koesplus, oma
irama, evi tamala, papa t bob atawa yang lain-lain....


ya ini agaka nggladur juga kali.....
tetapi siapa tahu.....

atau ada yang marah dan emosi /


salam,
mBin
__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Talk to your friends online with Yahoo! Messenger.
http://im.yahoo.com

-===  FREE Handphone @ http://www.indoglobal.com/dedicated.php3  ===-
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!










Kirim email ke