Ada yg bisa njelasin, kenapa posting2 saya dari kemarin ini belum sampai di kuli-tinta? Padahal saya liat hari ini banyak posting2 yg masuk. Maaf, saya berharap ada di antara Anda yg tahu. Regards, Ferli
Mungkin akan lebih tepat kalau saya menggambarkan keterkaitan istilah2 itu dgn diagram Venn, di mana ada bagian2 istilah (interpretasi, persepsi, intuisi, sense, dll) yg saling beririsan, dan/atau tercakup dalam, dan/atau melingkupi, bagian istilah/konsep yg lain. Diagram Venn itu juga mestinya nggak dibatasi garis satu dimensi, tapi lebih mirip persamaan gelombang untuk lintasan elektron yg kalau divisualisasikan mirip awan2. Selanjutnya kita perlu juga belajar konsep fuzzy set, tapi yg ini saya juga nggak gitu ngerti. Ini serius, saya bukan mau mempersulit. Tapi kalau kita mau betul2 eksak, spt itulah situasinya. Mungkin (masih "mungkin" juga.) Soal definisi. Pada dasarnya (ada yg lebih baku drpd 'dasarnya'?) definisi adalah penggambaran keterkaitan dan hubungan antara satu konsep dgn berbagai konsep lainnya, atau dgn konsep itu sendiri (self-recursive definition). Konteks suatu konsep sesungguhnya tidak terhingga, karena itu mustahil utk membuat suatu definisi yg 'self-contained' dan 'all-inclusive'. Semoga lebih tidak memperjelas :). -----Original Message----- From: �� [mailto:[EMAIL PROTECTED]] Sent: Tuesday, January 25, 2000 3:24 AM To: [EMAIL PROTECTED] Subject: Re: [Kuli Tinta] amien lagi From: Ferli Iskandar <[EMAIL PROTECTED]> istilah interpretasi melibatkan proses kognitif yg lebih aktif dan kompleks daripada persepsi. persepsi biasanya dikaitkan dgn aktivitas sensorik spt panca indera, yg sifatnya instant dan non-kontekstual, sementara interpretasi melibatkan pengalaman dan berbagai 'neuro-programming' yg dialami si interpretor. ��: Mas Ferli, apakah tidak ada pemahaman baku mengenai persepsi selain dengan "biasanya"? Kalau persepsi biasanya dikaitkan dgn aktivitas sensorik spt panca indera, yg sifatnya instant dan non-kontekstual maka apa bedanya dengan sense? Kalau interpretasi melibatkan pengalaman dan berbagai 'neuro-programming' yg dialami si interpretor maka dimana bedanya dengan intuition? FI: dlm kasus ini, memang lebih tepat untuk menggunakan istilah interpretasi, ketimbang persepsi (thd individu). ��: Apakah Pencandraan kita terhadap AR adalah sebuah interpretasi (thd individu)? Apanya yang diinterpretasi dari individu itu? FI: semoga memperjelas. ��: Masih ingin belajar lagi agar lebih jelas.
Hehehe, nice points. Anda betul sekali, setiap usaha pemahaman selalu memiliki kecenderungan utk mempertahankan struktur pemahaman yg sebelumnya. Ini berlaku buat semua orang, tidak hanya saya. Gini Mas eMBer, eh, Marto. Point saya mungkin lebih baik pake visualisasi aja ya? Pasti pernah denger beberapa orang buta yg berusaha memahami seekor gajah dgn memegang sebagian saja dari anggota tubuh gajah ybs. Yg pegang belalainya bilang: "Gajah itu binatang mirip ular." Yg pegang kakinya bilang: "Gajah itu spt batang pohon." Yg pegang gadingnya bilang: "Gajah itu spt tombak." Dst, dst. In itself, semua interpretasi ttg gajah itu "benar" karena berdasarkan "fakta". Jadi kalau antar para orang buta itu saling berdebat, nggak akan ada ketemunya. Kita, para pengamat AR yg "pintar" ini, hanyalah sekelompok orang buta di depan gajah besar. "AR itu partisan", "AR itu kancil licik", "AR itu pengkhianat", "AR itu vampire politik", adalah pengamatan2 simplistik. Mungkin tidak salah, tapi simplistik. Saya akan menjadi ikut2an simplistik bila hanya berusaha 'membuktikan' bahwa "AR itu bukan kancil licik", dst. Sekali lagi, cobalah melepaskan diri dari obsesi utk tampil sekedar 'berani' tapi simplistik. Terkecuali kita memang senang terus-menerus memegang 'anus gajah'. -----Original Message----- From: Marto Blantik [mailto:[EMAIL PROTECTED]] Sent: Monday, January 31, 2000 3:15 PM To: [EMAIL PROTECTED] Subject: Re: [Kuli Tinta] amien lagi Walah nama saya disebut-sebut lagi, padahal saya nunggu interpretasi bung Ferli tentang si AR ini. Lha dari dulu sampai sekarang postingnya cuma nggrundel saja. Lebih cilaka lagi tiap interpretasi sekarang musti ditanyakan motivasinya. Bung Ferli menginterpretasi bahwa posting saya punya motivasi pembunuhan karakter. Karena itu interpretasi bung Ferli ya terserah bung Ferli saja. Yang jelas interpretasi saya terhadap bung Ferli adalah bung Ferli sudah mempunyai interpretasi tersendiri terhadap AR. Interpretasi saya, Bung Ferli punya interpretasi positip terhadap AR. Interpretasi saya lagi, Bung Ferli tidak rela interpretasinya terhadap AR itu di re-interpretasi lagi. Sebenarnya sih bung Ferli tidak membela AR, tetapi bung Ferli hanya membela persepsi dan interpretasi DIRINYA SENDIRI terhadap AR. Bung Ferli sedang membela kestabilan dirinya yang mungkin akan terguncang kalau persepsi dan interpretasi tentang AR itu diganggu gugat dan di re-interpretasi. Masalahnya sekarang cukup terbukakah (beranikah) bung Ferli terhadap re-interpretasi lagi ? Atau mencoba menutup diri dan meyakinkan diri bahwa interpretasi orang lain tentang AR di milis ini adalah salah dan musti dipertanyakan motivasinya? Wajar kalau banyak orang tidak mau menerima re-interpretasi lagi, sebab itu akan menggoncangkan. Re-interpretasi terhadap Al-Quran dan Al-Kitab misalnya. Ini semua hanya interpretasi saja lho. Jadi bisa benar dan bisa salah. eMBer ----- Original Message ----- From: "Ferli Iskandar" <[EMAIL PROTECTED]> To: <[EMAIL PROTECTED]> Sent: Monday, January 31, 2000 1:50 PM Subject: RE: [Kuli Tinta] amien lagi > Berulang. Anda tetap 'keukeuh' dgn tudingan pada saya bahwa saya menuding > Marto Blantik sbg pembunuh karakter. Padahal jelas2 sudah saya sebutkan > bahwa bahwa itu adalah sekedar cermin yang tidak bermutu dan belum tentu > benar. Lagipula, mengapa saya Anda larang utk mempertanyakan motivasi Marto > Blantik? Berhenti atau tidaknya diskusi mengenai Amin, adalah bukan > keinginan saya, tidak juga ditentukan oleh saya atau Anda. > > Yg lebih mendasar lagi, Anda juga sangat 'keukeuh' dgn asumsi bahwa ada > realitas objektif di luar sana, bahwa ada interpretasi yg salah dan benar. > Yg gini bisa panjang diskusinya. > > Soal Darwin, Anda lupa kali yah. Darwin bukan sekedar ingin menjadi bedes, > tapi dgn teorinya dia percaya bahwa pada dasarnya dia adalah bedes. > > Betul 'kan logikanya?
Buktinya, ini nggak berhenti, Mas Edi. -----Original Message----- From: edi purwono [mailto:[EMAIL PROTECTED]] Sent: Monday, January 31, 2000 4:53 PM To: [EMAIL PROTECTED] Subject: Re: [Kuli Tinta] amien lagi Repotnya lagi, ketika saya ingin menyampaikan interpretasi, malah dituduh sebagai yang memonopoli interpretasi, karena mestinya harus mengkonfirmasi lebih dahulu ke pihak-pihak yang akan/sudah saya interpretasikan. Lha, berhenti, kan?
-- Situs sulap pertama di Indonesia http://www.impact.or.id/dmc-sulap/ Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI Bergabung: [EMAIL PROTECTED] Keluar: [EMAIL PROTECTED] Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!
