Anda percaya bahwa atom-atom berunding berjuta tahun?. Kamu
berkongsi jadi burung, saya jadi kethek ( kera, jawa ). Saya jadi 
pohon kamu jadi manusia.Yang itu jadi batu dan tai , yang itu jadi 
matahari. dan Yupiter. Yang satu memutar rotasi , yang lain mengalir
di sungai-sungai.Semua partikel berjanji disiplin ketat sehingga ada 
keseimbangan lingkungan. Ya anda tidak percaya pada Tuhan yang 
mencipta.  Tapi saya Islam. Anda Kristen dan anda penganut Hindu.
Semua Oke-Oke saja.

Namanya saja keyakinan. Kepercayaan. Jaman sekarang sudah 
bukan jaman memaksakan keyakinan. Apalagi seperti Pol Pot . 
Membunuh lain orang yang beda keyakinan. Gantinya , kita mencoba
memahami dan mengerti keyakinan lain. Mencoba mengerti agama 
lain manusia. Hal yang demikian , adalah sekaligus menghargai 
manusia lain. Kita tidak mau ngotot bahwa lain manusia baru jadi 
manusia bila agama dan keyakinannya  sama dengan kita.

Mirip dalam kehidupan berbangsa kita yang plural, kehidupan 
milis inipun keadaan yang sama. Kita berbeda keyakinan. Ada 
yang Islam. Ada yang Kristen. Ada yang Ateis. Ada yang Hindu,
dsb. Ada yang percaya Amin Rais. Ada yang kurang percaya. 
Ada yang memuja si pendiam Megawati. Ada yang fanatik PDIP,
ada pula yang fundamentalis islam. Lalu ?

Saya merasa bahwa dalam diskusi kita seringkali kita terperosok 
pada tingkatan "ngotot". Kadangkala kita tidak berusaha berhenti
pada mencoba mengerti apa yang dirasa manusia lain. Kita seringkali 
mau memberi tahu bahwa perasaan manusia lain itu keliru. 
Seharusnya kamu merasakan apa yang saya rasakan.  Bukankah itu
seperti kita berkata bahwa "seharusnya" kamu berkeyakinan  
( agama) sama dengan keyakinan  ( agama ) saya ? Bukankah yang 
demikian itu berarti kita tidak lagi mampu menghormati manusia 
dengan keyakinan lain ? Yang lain cuma sampah atau bahlul idiot ?

Berangkat dari contoh keyakinan beragama mungkin lebih mudah.
Sudah jarang yang mau kuno  untuk ngotot mng-islam-kan atau 
meng-kristen-kan yang lain. Seharusnya demikian pula dengan 
keyakinan politik. Apakah kita mau kuno dengan menganggap 
simpatisan Mega adalah kumpulan idiot ?  Atau simpatisan Amin
Rais sebagai kumpulan the dangerous fanatik taliban ? Maukah kita
mengerti perasaan dari kawan sebangsa yang berbeda keyakinan ?
Maukah kita menghormati manusia lain ?

Kapankah kita bisa seperti bangsa Amerika. Tangan penganut partai
Republik tidak berkeringat ketika Demokrat menang. Demikian pula 
sebaliknya. Tidak ada kecurigaan fanatik berlebihan. Mereka semua 
orang baik dan serius untuk bangsa ini. Tidak ada perasaan "Idiot Mega"
atau " Vampire Amin ". Semuanya pemimpin serius untuk bangsa.

Menurut intuisi saya, yang demikian itu namanya juga budipekerti ( 2).

Wassalam.
Abdullah Hasan.







- Kirim bunga untuk handaitaulan & relasi di jakarta www.indokado.com 
-- Situs sulap pertama di Indonesia http://www.impact.or.id/dmc-sulap/
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!










Kirim email ke