Memang semua itu ada kawan dan ada lawan. Lazimnya sebuah pertandingan,
maka selalu ada yang
senang bila kita menang, tapi dalam waktu yang sama akan ada yang
menangis, berteriak histeris, dll
Semua tinggal kita sendiri dalam membaca wacana percaturan politik kita.
Apakah kita bisa berfikir arif atau justru kita dijadikan sebagai
komoditi oleh orang-orang yang butuh
kekuasaan, butuh nama, dan lain-lain, yang menghalalkan segala cara demi
tujuannya.
Pembisik, ibaratnya memang bisa kita ibaratkan peniup seruling, dengan
bisikannya maka si seruling
akan dapat berbunyi. Tapi ...... merdu mana suara tiupan si peniup
seruling dengan bunyi yang keluar dari
seruling itu sendiri.
Saya melihat kadang orang terlalu cepat menghujat, tapi mereka baru
melihat dan manthuk-manthuk setelah tahu
maksudnya. Gus Dur itu emang orangnya aneh, susah dipegang mau kemana
dia, tahu2 bikin keributan
sampe2 kita yang orang bawahan ini sering kena akibatnya. tapi, akhirnya
saya mikir aja, buktinya
banyak juga masalah yang sedikit demi sedikit dapat teratasi, walaupun
hasilnya gak sempurna. Masih mending daripada
kalo yang jadi PRESIDENnya adalah AKU
> -----Original Message-----
> From: Marto Blantik [SMTP:[EMAIL PROTECTED]]
> Sent: Tuesday, February 08, 2000 12:42 PM
> To: [EMAIL PROTECTED]
> Subject: [Kuli Tinta] Pembisik
>
> Akhir-akhir ini istilah 'pembisik' jadi terkenal di Indonesia. Hal ini
> disebabkan karena Presiden yang terpilih pada pemilu tahun
> lalu cacat pada indra penglihatannya. Karena cacat matanya, maka
> Presiden kita lebih banyak mengandalkan indra pendengarannya. Dari
> sinilah kiranya istilah pembisik ini muncul.
>
> Dalam hal yang biasa istilah pembisik itu netral, tidak memihak.
> Artinya bila Presidennya normal penglihatannya para pembisik ini
> tetap ada. Namun dalam konteks di Indonesia dimana Presidennya cacat
> istilah pembisik itu tidak netral lagi, karena para pembisik
> itu punya kekuatan untuk mempengaruhi Presiden dalam memberikan
> informasi. Bagi lawan politik Gus Dur istilah pembisik bisa
> berkonotasi jahat, sampai-sampai disebut para pembisik tidak lulus SD.
> Bagi mereka ini Gus Dur diibaratkan seperti gong. Pembisik
> ibarat pemegang pemukul gong, sekali memukul gong informasi (maupun
> disinformasi) akan dibunyikan Gus Dur. Disini lawan-lawan Gus
> Dur menganggap bahwa posisi pembisik adalah posisi strategis. Oleh
> karena itu pula para sekretaris Presiden yang dianggap berprofesi
> sebagai pembisik banyak diserang lawan-lawan politik Gus Dur.
>
> Bagi yang pro Gus Dur istilah pembisik ini tetap netral. Dan tidak
> perlu diganggu gugat. Mereka berpikir meskipun Presidennya cacat
> penglihatannya, Presiden masih punya kearifan untuk mengolah
> informasi/disinformasi yang disampaikan kepadanya. Presiden bukanlah
> gong yang sekali pukul langsung berbunyi.
>
> Namun istilah pembisik juga menguatkan kesan bahwa politik Indonesia
> itu tidak transparan penuh bisik-bisik, kasak-kusuk, dan
> percaloan. Dan istilah pembisik ini juga membuktikan bahwa tradisi
> lisan (yang dianggap sebagai salah satu biang keladi kenapa
> bangsa ini enggak maju-maju) tetap relevan sampai saat ini.
>
> - Kirim bunga untuk handaitaulan & relasi di jakarta www.indokado.com
> -- Situs sulap pertama di Indonesia http://www.impact.or.id/dmc-sulap/
> Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
> Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
> Keluar: [EMAIL PROTECTED]
>
> Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
- Kirim bunga untuk handaitaulan & relasi di jakarta www.indokado.com
-- Situs sulap pertama di Indonesia http://www.impact.or.id/dmc-sulap/
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!