=================================================
From: "��" <[EMAIL PROTECTED]>
Sekarang ada kecenderungan bahwa satu kelompok kecil mengklaim
dirinya sebagai kelompok besar. Kalau di kantor kita sering
mendengar wakil karyawan mengatakan "teman-teman sudah sepakat..."
padahal teman-teman itu adalah semu dan hanya mewakili kelompoknya
dan bukan keseluruhan.
=================================================
AH:
1. Tentunya Bung Aswat yang modern tidak alergi terhadap hak berkelompok
yang merupakan hak asasi manusia . Tapi menggunakan istilah  "kelompokisme"
bisa-bisa  membangkitkan sikap kuno yang  maunya cuma  yang seragam saja.
Jadi kenapa kita mesti giris pada hal2 "baru" yang demokratis seperti
"kelompokisme" , kebebasan berbicara , hak2 individu , unjukrasa, dsb. ?
Yang penting, ada bingkai hukum yang jelas yang mesti dipatuhi. Bisa saja
lima orang yang hobinya memelihara "undur-undur" membuat partai. Tapi bisa
menaruh wakil di DPR.... soal yang lain !

2. Gaya berbicara seperti :" teman-teman sudah sepakat.... " , " kita semua
sudah merasa... " adalah gaya pembentukan opini. Gaya-gaya seperti itu yang
amat menyebalkan sering kita temui dalam berbagai tajuk di koran. Koran
Kompas yang kebetulan saya langgani sering sekali menggunakan gaya seperti
itu. Dalam jaman "pasar bebas" , merasa sebal boleh-boleh saja. Tapi
ngamuk..... soal yang lain !


============================================
From: "��" <[EMAIL PROTECTED]>
Saya khawatir bahwa kelompokisme seperti itu terjadi pula dalam
diri anggota DPR dalam berita berikut:
1. Anggota DPR ancam ajukan mosi tidak percaya
============================================

Kawatir pada lembaga demokratis seperti DPR mungkin salah alamat. Lembaga
DPR adalah ajang "kelompokisme" , atau yang lebih tepat ajang antar-kelompok
buat adu kuat. Kwalitatif maupun kwantitatif.  Semua yang keluar dari sana
harus kita patuhi. Senang atau tidak senang.  Kalau kita sudah modern kelak,
kita tidak melihat pemaksaan kehendak , pameran otot di bunderan HI, jempol
berdarah, dan lain-lain main ancam diluar parlemen.  Mengancam dalam gedung
DPR atau MPR memang pada tempatnya !

Wassalam
Abdullah Hasan.









- Kirim bunga untuk handaitaulan & relasi di jakarta www.indokado.com 
-- Situs sulap pertama di Indonesia http://www.impact.or.id/dmc-sulap/
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!










Kirim email ke